Senin, November 12, 2018

Mengapa Kata Min di dalam Surat Âli Imrân Ayat 104 Bermakna Sebagian Bukan Bermakna Penjelasan? (Soal Jawab Amir Ketiga Hizbut Tahrir Internasional) [1/3]


Mengapa Kata Min di dalam Surat Âli Imrân Ayat 104 Bermakna Sebagian Bukan Bermakna Penjelasan? (Soal Jawab Amir Ketiga Hizbut Tahrir Internasional) [1/3]

Soal: Di tengah saya belajar tafsir ayat yang mulia:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

{Dan hendaklah ada dari kalian ummah yang menyeru kepada al-Khair, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung}, dan mempelajari bagaimana kata dari (من) itu bermakna sebagian, Firman Allah berikut menghentikan saya:

وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
{Dan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar}.

Amal ini, yaitu amar makruf nahi mungkar dituntut dari setiap muslimin. Pelaksanaannya mungkin untuk dilakukan oleh individu-individu, tetapi mungkin juga dilakukan oleh kelompok-kelompok. Lalu bagaimana kemudian kita bisa mengatakan bahwasanya diperlukan jama’ah mutakattilah di antara kaum muslimin yang melaksanakannya sehingga kata (من) di situ dianggap bermakna ‘untuk sebagian’ (lit tab’îdh)?

Kemudian antara kata ‘dari’ (من) at-tab’îdhiyah (bermakna sebagian) dan al-bayâniyah (bermakna menjelaskan) kadang-kadang sulit dibedakan satu sama lain. Tidakkah orang Arab menggunakan artikel-artikel tertentu yang menyertai kata (من) al-bayaniyah atau at-tab’idhiyah di dalam bahasa mereka untuk membedakan antara keduanya dengan bentuk yang jelas?

Saya berharap kejelasan persoalan ini. Semoga Allah membalas Antum dengan kebaikan.

Jawaban:

Kata (من) memiliki beberapa makna, di antaranya:

Li at-tab’îdh (bermakna sebagian). Misalnya di dalam ayat:

مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ

{Dari mereka ada yang Allah berbicara (kepada mereka)} (al-Baqarah ayat 253)

Maknanya: sebagian dari mereka ada yang Allah berbicara (kepada mereka). Misal yang lain adalah ayat:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

{Tidak akan kalian memperoleh kebaikan sampai kalian menginfakkan sebagian dari apa yang kalian cintai} (Âli ‘Imrân ayat 92)

Makna (من) yang lain adalah lil bayân (untuk menjelaskan), misalnya di dalam ayat:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ

{Maka jauhilah najis, yaitu berhala-berhala} (al-Hajj [22]:30)

dan semisal ayat:

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ
{mereka didandani di dalam surga dengan gelang dari mas.} (al-Kahfi:31).

Tetapi banyak kasus yang dikatakan sulit dibedakan antara yang bermakna sebagian dengan yang bermakna penjelasan ini. Tetapi siyâqul kalâm (kontek pembicaraan) dan indikasi-indikasinya akan menjelaskan makna yang dimaksud.

Sekarang perhatikan ayat yang mulia ini:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

{Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar} (Ali ‘Imran:104)

Pertama: Dari sisi siyâq (kontek) ayat yang mulia ini, ayat sebelum dan ayat sesudahnya, yaitu dari sisi lafaz yang mengawali seruan di dalam ayat-ayat yang mulia tersebut, sebelum dan sesudahnya ada ayat-ayat sebagai berikut:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ... وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ ... وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا...

{Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seluruhnya … dan hendaklah ada dari kalian, umat … Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang terpecah-belah dan berbeda-beda pendapat}. (Âli ‘Imran:103, 104, 105)

Sesungguhnya lafaz yang mengawali seruan pada ayat sebelumnya adalah berbentuk jamak: ‘Dan berpegang teguhlah [kalian]’. Dan pada ayat setelahnya demikian pula, berbentuk jamak: ‘dan janganlah [kalian] menjadi...’ Tetapi ayat yang menjadi tema pembahasan ini terletak di antara dua jamak, berupa seruan dengan lafaz berbentuk mufrad (tunggal): dan hendaklah [kamu] menjadi, dan bukan dan hendaklah [kalian] menjadi.

Di dalam fiqhul lughah, apabila siyâq memiliki perbedaan seperti ini, yaitu lafaz jamak, lalu mufrad (tunggal), kemudian jamak lagi, ini bermakna bahwa permulaan seruan dengan lafaz tunggal itu memiliki suatu maksud, dan maksud tersebut bukanlah seperti maksud pada ayat sebelum dan sesudahnya.

Seruan di dalam ayat sebelumnya dimulai dengan lafaz jamak untuk kaum muslimin berupa seruan agar berpegang teguh, di dalam ayat setelahnya, dengan lafaz jamak berupa seruan untuk kaum muslimin agar tidak bercerai-berai. Adapun ayat yang berada di antara keduanya dimulai dengan lafaz mufrad untuk kaum muslimin, yaitu bukan untuk keseluruhannya.

Dan tidak bisa dikatakan mengapa kita mengatakan bahwa: dan hendaklah [kamu] itu lafaz mufrad, padahal lafaz tersebut kembali kepada ummah, sedangkan ummah adalah jamaah, bukan individu?

Jawaban untuk itu adalah bahwa kita berbicara dari sisi lafaz yang digunakan untuk memulai seruan, tidak terpengaruh oleh lafaz yang mengikutinya. Sebagai contoh, ayat yang mulia:

هَذَا فَوْجٌ

{Ini adalah suatu rombongan…} (Shâd:59).

Lafaz rombongan itu menunjukkan lebih dari satu orang, tetapi ini tidak bermakna bahwa lafaz ini menjadi lafaz jamak, tetapi tetap menjadi lafaz tunggal meskipun jika diikuti oleh lafaz yang maknanya jamak. Demikian pula ketika saya mengatakan kepada Anda: “Kalian, semoga Allah memuliakan kalian, adalah seorang yang berpengetahuan lagi unggulan.” Kata kalian di sini adalah lafaz jamak meskipun diikuti oleh kata yang bermakna tunggal ‘seorang yang berpengetahuan lagi unggulan’.

Seperti itulah, lafaz dan menjadilah kalian adalah lafaz mufrad, sehingga ayat:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ ...

tidaklah bermakna jadilah kalian. Ta`nîts (feminin) dan tazkîr (maskulin)nya tidak berpengaruh terhadap penisbatan kata umat setelahnya. Karena lafaz tersebut tetap sebagai lafaz mufrad: dan menjadilah kamu dan bukan dan menjadilah kalian.

Kita di sini sedang mendiskusikan segi lafaz, yaitu nasqul kalâm. Maka temanya berkaitan dengan perbedaan nasqul kalâm dari segi tiga lafaz ini, yang dengan itulah seruan dimulai, di dalam tiga ayat:

وَاعْتَصِمُوا, وَلْتَكُنْ, وَلَا تَكُونُوا

{Dan berpegangteguhlah kalian, dan menjadilah kamu, dan janganlah kalian menjadi.}

Agar jelas bentuk perbedaan nasqul kalâm-nya, ambillah sebagai misal, Firman-Nya Ta’ala:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ...

{Bukanlah suatu kebaikan kalian menghadap wajah-wajah kalian ke arah timur dan barat. Tetapi kebaikan adalah siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir…}

… sampai Firman-Nya Ta’ala:

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ
{dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan} (al-Baqarah:177)

Anda amati di sini bahwa khabar (predikat; bagian kalimat yang berfaidah menerangkan) dari (لكن) itu di-rafa’-kan. Demikian pula kata (الموقنون). Tetapi kata setelahnya dinashabkan (والصابرين), sehingga berbeda dengan khabarnya (ولكن). Demikian pula dengan lafaz yang berbeda dengan al-ma’thûf ‘alaihi (والموفون). Perbedaan nasqul kalâm ini di dalam fiqh al-lughah bermakna bahwa nashab (والصابرين) adalah perkara yang dimaksudkan untuk rafa’ dari kata sya`nihim, dan bahwa mereka dikhususkan dengan pujian tambahan dari lafaz sebelum mereka. Yaitu bahwasanya perbedaan nasqul kalâm di sisi mereka menjadikan mereka yang dimaksud bukanlah orang-orang sebelumnya. Demikianlah untuk setiap perbedaan nasqul kalâm dalam bahasa Arab yang fashîh, sesungguhnya terdapat penjelasan makna seperti ini di dalam fiqhul lughah.

Termasuk ke dalam contoh ini adalah apa yang terdapat di dalam ayat yang mulia tersebut berupa perbedaan nasqul kalâm yang itu bermakna bahwa seruan ayat yang di tengah maksudnya berbeda dengan seruan dari ayat sebelum dan sesudahnya, sehingga ayat yang di tengah tersebut bukan seruan untuk keseluruhan melainkan seruan untuk sebagian dari kaum muslimin, yaitu bahwa (من) berdasarkan siyâqnya adalah bermakna littab’îdh (untuk sebagian), bukan lil bayân (untuk keseluruhan).


Rabu, Oktober 24, 2018

Unduh Gratis Diskusi tentang Darwin dan Evolusi

Unduh Gratis Diskusi tentang Darwin dan Evolusi
Bismillah.
Asssalamu ‘alaikum warahmatullah.
Pada tahun 2003, di milis insists terjadi diskusi sangat bergizi tentang evolusi. Pengulas utama diskusi ini adalah pakar Filsafat Sains dari Malaysia, Dr Adi Setia. Beliau mengulas berbagai sisi evolusi yang sangat jarang padahal penting untuk kita ketahui. Mengingat begitu pentingnya diskusi ini untuk wawasan kaum muslimin khususnya dan umat manusia pada umumnya, kami mendokumentasikan diskusi tersebut dalam sebuah berkas berbentuk pdf.
Beberapa kutipan dari diskusi tersebut bisa dibaca di sini.
Bagi yang berminat mendapatkan berkas dimaksud, silakan akses bit.ly/DarwinDanEvolusi.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah.

Minggu, Oktober 21, 2018

Sikap Muhammadiyah tentang Sanksi Pidana Islam

Setiap upaya menegakkan hukum-hukum Allah di muka buminya, oleh siapapun, harus didukung sepenuhnya. Sebab hal itu rido akan hukum Allah termasuk kewajiban atas kaum muslimin yang tidak bisa ditawar-tawar. Batal iman tanpanya.

Maka tidak heran jika Muhammadiyah, sebagai salah satu ormas Islam besar di Indonesia, menyatakan bahwa pasal 533, 544 dari RUU KUHP 2004 yang menyatakan bahwa membunuh seseorang dengan sengaja atau merencanakan pembunuhan dengan
sengaja akan dikenai hukuman tiga sampai lima belas tahun penjara, atau lima sampai dua puluh tahun penjara seumur hidup, harus diganti dengan ketentuan hukum yang disebutkan di dalam Alquran. Hukuman mati bagi pelaku pembunuhan sengaja bisa dipahami sebagai antisipasi tindak kriminal yang lebih tinggi.

Keterangan ini bisa dibaca di dokumen berjudul "Laporan Kemajuan Penelitian Tahap Akhir Laporan Tahun II RUKK VI Tahun 2006 Bidang: RUKK B" dengan tajuk: "Kontribusi Hukum Pidana Islam dalam Pembentukan Hukum Nasional [Penelusuran, Pemetaan, dan Pengujian Respon serta Pemikiran Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Jaringan Islam Liberal (JIL), dan Kelompok Post-Tradisional terhadap RUU KUHP Tahun 2004]" yang ditulis oleh Tim Peneliti dari Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang terdiri dari Dr. Phil. H.M. Nur Kholis Setiawan (Peneliti Utama), Agus Moh. Najib, S.Ag, M.Ag, serta Ahmad Bahiej, SH, M.Hum.

Memang sudah selayaknya dan menjadi kewajiban Muhammadiyah untuk mendukung seluruh upaya penegakan syariat Islam dengan cara-cara yang juga dibenarkan oleh syariat itu sendiri. Sebab di dalam Anggaran Dasarnya, Muhammadiyah menyatakan:

"Masyarakat yang sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong-royong, bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu.

Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya pokok hukum dalam masyarakat yang utama dan sebaik-baiknya.

Menjunjung tinggi hukum Allah lebih daripada hukum yang manapun juga, adalah kewajiban mutlak bagi tiap-tiap yang mengaku ber-Tuhan kepada Allah."

Semoga hukum-hukum Allah tegak secara kaffah di bumi Nusantara ini dalam waktu yang tidak lama.

Sabtu, Oktober 20, 2018

Chat Kursus Bahasa Arab Metode "Baca Saja!"

Hari ini masuk pesan WA ke nomor kami [Kontak kami: 0822-4252-2585 (Abu Musa)] menanyakan tentang privat Bahasa Arab. Pesan tersebut segera kami tindaklanjuti via TG. Berikut dialognya:

Assalamu 'alaikum. Ini pak *** yang ingin privat bahasa Arab itu ya?




8:27 PM



109 KB



Download



8:27 PM



Itu modulnya.



8:28 PM



Akad kita ijarah ya pak..



8:29 PM



Ujrahnya 50 ribu untuk belajar satu modul tersebut.



8:30 PM



Kesempatan mencoba tiga kali simulasi belajar gratis.



8:30 PM



Setelah itu silakan antum putuskan apakah akan lanjut privatnya atau tidak.



8:31 PM



Wa'alaikumussalam, siap Ustadz



8:32 PM



Mau dimulai sekarang simulasinya?



8:33 PM



Boleh Ustadz, berapa lama satu sesinya?



8:33 PM



Satu sesi satu halaman.



8:35 PM



Waktunya maksimal 24 jam. Silakan dilahap sepuasnya halaman pertama mulai sekarang. Siap? :)



8:36 PM



Rencana berapa modul Ustadz, dan tujuan pembelajarannya sampai dimana Ustadz?



8:38 PM



Tujuan pembelajarannya adalah menguasai pola-pola kata berdasarkan timbangan-timbangan dalam ilmu shorof.



8:38 PM



Saya menyiapkan 3 modul untuk dianggap cukup menguasai pola-pola kata terpenting dalam bahasa Arab.



8:39 PM



Bisa sampai baca kitab arab gundul Ustadz?



8:41 PM



Perkirakan kasar saya, dengan 3 modul itu bisa membantu membaca kitab arab gundul 60%-75%. Sisanya harus belajar Nahwu.



8:42 PM



Nahwu ada kelas privatnya juga Ustadz?



8:43 PM



Sedang disiapkan modulnya.



8:48 PM



Alhamdulillah boleh Ust kita mulai satu sesi dulu..

[Kontak kami: 0822-4252-2585 (Abu Musa)]

Rabu, Juni 27, 2018

Berubah Sejak dalam Pikiran (1)

Berubah Sejak dalam Pikiran (1)

Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullâh telah memberikan satu pengajaran penting di dalam kitab Nizhâmul Islâm bahwa kebangkitan manusia terkait erat dengan pemikirannya. Di sana beliau memberikan alasan yang rasional berupa fakta bahwa perilaku manusia sangat tergantung dengan pemahaman yang dimilikinya. Dan segala contoh tentang fakta itu sangat mudah kita dapati di dalam kehidupan sehari-sehari.

Mengenai pampers, misalnya, dua keluarga bisa memiliki perilaku yang berbeda akibat pemahamannya juga berbeda. Isteri saya jarang sekali memakaikan pampers kepada dua bayi kami, kecuali pada kondisi tertentu. Itu karena ia memahami bahwa sering-sering memakai pampers tidak baik untuk kesehatan, menyebabkan anak tidak terlatih untuk buang air di jamban, dan juga tidak kalah pentingnya: tidak hemat. Dampak dari kebijakan ini terlihat dengan jelas pada si sulung. Meski kadang-kadang tetap mengompol, namun lebih sering dia sudah terbiasa bilang jika mau pipis sehingga hampir selalu pipis di kamar mandi. Bahkan ketika dalam kondisi dipakaikan pampers sekalipun, jika terasa mau pipis, sering kali pampers-nya dia minta dibuka. Jika bepergian dan harus memakai pampers, sampai di rumah selalu minta dibuka. Dia tidak nyaman pakai pampers.
Memang ada dampak buruknya, yaitu risiko bertebarannya najis di mana-mana. Tetapi kami memahami bahwa repot adalah risiko punya anak. Jadi tidak mengapa kami harus rajin mengepel atau mengganti tempat-tempat yang terpapar najis.

Kebijakan kami ini berbeda dengan salah seorang tetangga kami. Karena memahami bahwa memakai pampers untuk bayi itu lebih aman dan lebih terjaga dari najis, maka anaknya dipakaikan pampers sepanjang hari.

Contoh di atas memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana pemikiran dan pemahaman sangat berpengaruh pada perilaku seseorang atau sekelompok orang.

Kembali ke pengajaran Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani. Selain membawakan argumentasi rasional berupa fakta dalam kehidupan, beliau juga membawakan sebuah ayat untuk mendukung prinsip bahwa “perubahan harus dimulai sejak dari pikiran”, yaitu Surat ar-Ra’du ayat 11. Tetapi jujur, bertahun-tahun saya tidak benar-benar memahami mengapa beliau menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang ‘perubahan pemikiran’. Saya selalu bertanya-tanya: apa hubungannya ayat ini dengan pemikiran?


Sampai suatu hari, ketika pada suatu kesempatan, Ustadz Subhan menyinggung makna ayat tersebut dengan menyebut-nyebut keterangan Ustadz Hafidz Abdurrahman di dalam buku Islam Politik dan Spiritual, misteri tersebut mulai tersibak satu demi satu. Ditambah kemudian di dalam sebuah forum saya memberanikan diri untuk bertanya mengenai hal ini, persoalannya menjadi tampak semakin jelas.