“Romo, kapan lagi belajar nahwunya?”
“Kapan-kapan.”
“Waaaaaaa…! Ummi Jiha……, Abi jahat…..!” Jiha berteriak keras sekali.
“Hus, berisik. Jahat kenapa sih?” Nadasya datang dari arah dapur membawa lauk. “Pasti Jiha menagih macam-macam. Orang Abu Jiha baru datang.”
“Salah!” Manyun. “Jiha tu cuma menagih satu macam. Abi kan janjinya mau mengajari Jiha tanda-tanda I’rob yang lain.”
“Tapi Romo janjinya kalau Jiha sudah hafal semua tanda asalnya lho…”
“Sudah! Dari dulu juga kan sudah.”
“Coba kalau masih ingat.”
“Ih, nyebelin.”
“Lho, mana ada I’rob yang tandanya nyebelin. Jiha ngarang.” Jiha tambah manyun. “Daripada cemberut begitu, temani Romo sama Bunda makan dulu.”
“Iya, Jiha belum makan sejak tadi siang.”
[…]
“Abi, putu.”
“Lho, nasinya dihabiskan dulu.”
“Mang...” teriak Jiha tak lama setelah beranjak dari kursinya. Mamang penjual putu pun putar haluan memenuhi panggilan Jiha. Dengan innocent Jiha kembali duduk. “Tenang, Ummi, Jiha akan habiskan.”
“Yah, begitulah Jiha. Mirip sekali dengan Walidnya.” Komentar Nadasya. Jiha hanya nyengir.
“Tapi Abi bilang, Jiha cantik mirip Ummi.”
“Betul itu. Tidak perlu dikatakan pun, Ummu Jiha memang cantik.” Hahaha, saya tidak bisa menahan tawa mendengar para narsisowati junior dan senior itu bertingkah.
[…]
“Pinten, mas?”
“Tigang ewu, pak.”
“O nggih, sekedap.” Saya rogoh kantong. “Njenengan suka ikut pengajian, mas?”
“Dereng nate, pak. Pulangnya malam terus.”
“Jam berapa?”
“Kemarin jam sepuluh. Tambah susah sekarang, pak.”
“Apanya?”
“Ya ini, cari rizki.” Sedikit tersenyum.
“O… katanya pemerintah malah mau menaikkan bbm lagi. Ada pengaruhnya, mas?”
“Pasti ada, pak. Habis di minyak tanah saja.”
“Oh, pake minyak tanah ya?”
“Iya. Sehari sepuluh ribu pasti habis.”
Saya tercenung. Ini keluhan khas para pedagang kecil. Namanya Abdurrahim. Masih sangat muda. Keluarganya banyak yang seprofesi. Saya kenal beberapa di antaranya karena Jiha hobi sekali menghentikan mereka yang sering lewat dan menghabiskan beberapa potong kue putu hangat di depan rumah.
“Pareng, pak.”
“Oh, monggo… monggo.”
Orang-orang itu adalah di antara yang Nabi berharap memiliki rasa cinta kepada mereka. Allaahumma innii as`aluka fi’lal khairaat, wa tarkal munkaraat, wa hubbal masaakiin, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu pekerjaan yang baik-baik, meninggalkan hal-hal yang mungkar, serta rasa cinta kepada orang-orang miskin’, sabda beliau dalam doanya. Doa beliau dikabulkan, tentu saja. Karena beliau adalah orang yang paling cinta kepada kaum miskin. Berkebalikan dengan pemerintah kaum muslimin saat ini. Jangankan soal ekonomi, soal akidah yang menjadi tanggungjawab mereka saja, mereka lalai. Sungguh memprihatinkan bahwa di Kulonprogo terdapat sebuah daerah yang warga muslimnya hanya tersisa empat belas kepala keluarga dari 163. Dan ternyata masih ada yang lebih parah.
Sungguh buruk, sebagai bukti lain ketidakpedulian pemerintah terhadap keterjagaan iman warganya, pemerintah samapai saat ini masih mengasaskan pengasuhan dan perwalian seorang anak muslim kepada keluarganya, meskipun kafir. Padahal orang fasik saja tidak berhak mendapat wewenang mengasuh.
[…]
“Romo, ayo.”
“Emh… tenang, Romo sudah siapkan. Tolong Jiha ambil printer.”
“Siap.”
“Nah, ini ada beberapa lembar latihan. Jiha kerjakan dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa untuk menghayati dan mengamalkan secara murni dan konsekuen. Romo mau ke RT 11 dulu.”
“Ada apa, Romo?”
“Pak Wagino, beliau kesulitan membayar uang sekolah putranya.”
“Romo mau minjemin?”
“Tidak selalu harus, Jiha. Kadang-kadang seseorang hanya butuh didengarkan keluhannya. Bagi sebagian orang itu sudah cukup meringankan. Syukur-syukur kita bisa membantu lebih. Romo pamit dulu ya…”
[…]
“Terima kasih ya nak, sudah mau berkunjung.”
“Ah, njenengan ini seperti orang lain saja. Njenengan itu sudah sangat banyak membantu saya. Saya justru belum bisa membantu apa-apa.”
“Yah, minta doanya saja, nak, semoga proposalnya lolos.”
“Insya Allah, pak.”
“Mesti banyak istighfar, bangsa kita ini, ya nak. Rakyat masih banyak yang susah, eh, anggota DPR malah mau membangun gedung baru, menghabiskan uang rakyat. Malah ada yang bilang harus realistis segala, tidak mau disamakan dengan orang-orang miskin yang tinggal di gubuk-gubuk becek. Memangnya gedung DPR yang sekarang itu kalau hujan bocor apa ya, nak?”
“Setahu saya tidak, pak. Tingkah mereka dari dulu kan memang begitu. Sejak awal saya sudah tidak percaya dengan demokrasi kok, pak.”
“Lha kenapa, nak?”
“Sebenarnya demokrasi itu kan bertentangan dengan Alquran, pak.”
“Iya ya, nak. Kalau orang Islam sendiri sudah tidak menjadikan Alquran sebagai pegangan, memang repot. Kata ustadz Tolib, banyak hukum-hukum yang diajarkan Alquran yang tidak diterapkan. Saya pikir kok pantes kalau kehidupan masyarakat kok tidak semakin baik, ya. Kalau tidak salah, di Alquran kan ada ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah sebab kemuliaan manusia ya, nak? Pantas negeri ini begini-begini terus, lha wong ayat-ayat Alquran banyak yang ditinggalkan.”
Tampilkan postingan dengan label i'rob. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label i'rob. Tampilkan semua postingan
Rabu, April 27, 2011
Senin, Januari 17, 2011
AYAT KEDUA SURAT AL-FÂTIHAH
Ayat kedua surat al-Fâtihah berbunyi: الحمد لله رب العالمين, terdiri dari 5 kalimah berupa 1 kalimah huruf yaitu ل dan 4 kalimah isim, yaitu الحمد , لله, رب, dan العالمين. Masing-masing akan diuraikan berikut ini.
الحمد
Merupakan kalimah isim dengan tanda terdapat alif lâm (ال) yang masuk pada kalimah حمدٌ yang berarti pujian (الثناء)[1]. Hamd (حمد) adalah mashdar dari hamida-yahmadu (حمِد-يحمَد) mengikuti wazan (timbangan): fa’ila-yaf’alu (فعِل-يفعَل)[2]. Wazan lengkapnya:
فَعِلَ – يَفْعَلُ – فَعْلا ومَفْعَلا – فَهُوَ فَاعِلٌ – وذَاكَ مَفْعُوْلٌ – افْعَلْ – لاَ تَفْعَلْ – مَفْعَلٌ – مَفْعَلٌ – مِفْعَالٌ
الحمد adalah pujian atas pihak yang dipuji karena kebagusan sifat dan perbuatan pihak yang dipuji tersebut.[3] Berbeda dengan syukur (الشكر), yaitu pujian atas pihak yang dipuji karena nikmat/kebaikan yang diberikan.[4]
ل adalah huruf dengan banyak sekali makna.[5] Di dalam kitab al-Janâ ad-Dânî, disebutkan tiga puluh makna.[6] Sedangkan di kitab Mughnî al-Labîb disebutkan dua puluh makna.[7] Dalam ayat ini, maknanya adalah al-ikhtishâsh (mengkhususkan).[8] Huruf ل di sini termasuk salah satu huruf jârr. Huruf jârr selengkapnya sebagaimana diterangkan dalam Matn al-Ajurûmiyah adalah من, إلى, عن, على, في, رب, ب, ك, dan ل ditambah 3 huruf qasam (sumpah): و, ب, dan ت.
الله merupakan Nama diri bagi (satu-satunya) Dzat yang berhak diibadahi.[9] Penulisan lafazh الله ketika dimasuki huruf ل menjadi لله.
Kalimat الحمد لله dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah SWT adalah Yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya.[10] Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah SWT adalah Zat yang harus mereka puji.[11]
Ayat ini memiliki susunan berupa jumlah ismiyah (الجملة الإسمية), yaitu susunan kalimat yang didahului oleh kalimah isim. Jumlah ismiyah tersusun atas dua komponen, yaitu mubtada` (مبتدأ) dan khabar (خبر). Mubtada` adalah komponen yang diterangkan, sedangkan khabar adalah komponen yang menerangkan. Misal: زيدٌ قائمٌ (Zaid berdiri). Kalimah زيد berkedudukan sebagai mubtada`, sedangkan قائم berkedudukan sebagai khabar. Dalam ayat ini, الحمد لله berkedudukan sebagai mubtada`, لله berkedudukan sebagai khabar.
رب dalam ayat ini merupakan badal dari lafazh الله yang mencakup pengertian Khâliq (Maha Pencipta), Râziq (Maha Pemberi Rejeki), Hâfizh (Maha Memelihara), Mudabbir (Maha Mengelola), dan Mâlik (Maha Memiliki).[12] Lafazh رب merupakan isim karena I’râb-nya jârr dengan tanda berupa kasrah.
العالمين adalah isim ma’rifah (definitif). Tanda isim-nya berupa (1) alif lâm, (2) jârr, dengan tanda huruf yâ` (ي). Lafazh العالمين adalah isim mulhaq jamak mudzakkar sâlim dari kata ‘alam. Kata ‘alam sendiri berasal dari kata ‘alâmah (tanda), sebab alam semesta merupakan tanda adanya Yang Mengadakannya.
Untuk mengetahui keberadaan Sang Pencipta, seorang manusia harus berpikir. Ada baiknya kita kutipkan penjelasan dari Imam Syafi’i. Beliau menulis:[13]
Ketahuilah kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berpikir adalah penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi di mana orang yang berpikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah dan yang dengan itu ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari indera dan yang merupakan suatu keharusan. Dan hal itu merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin (pokok-pokok agama) berdasrakan firman Allah yang (maknya, pen.) berbunyi, “Lihatlah olehmu buahnya ketika ia berbuah,”[14] dan “Ambillah sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mau berpikir,”[15] serta “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang terjadi di langit dan di bumi.”[16]
رب العالمين adalah isim ma’rifah karena merupakan tarkîb idhâfiyah (terdiri dari mudhâf dan mudhâf ilaih) dengan mudhâf berupa isim ma’rifah.
Dengan penjelasan di atas, maka الحمد لله رب العالمين bermakna segala pujian baik pujian dari Khâliq (Pencipta) kepada Diri-Nya sendiri, Khâliq kepada makhluk, makhluk kepada Khâliq, maupun makhluk kepada makhluk, semuanya hanya untuk Allah; Rabb semesta alam. Sebab Dia-lah Pencipta, Pemberi rejeki, Pemelihara, Pengelola, sekaligus Pemilik alam semesta ini. Kita mengatakan segala pujian, meskipun secara eksplisit kata segala tidak terdapat dalam redaksi ayat, karena Yang dipuji adalah pemilik semesta alam.
Wallâhu A’lam bish Shawâb.
[1] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia, (Pustaka Progresif, Surabaya: 2002), hal. 294.
[2] Ibid.
[3] Al-Mâwardî, Abû al-Husayn bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin Habîb bin al-Bashrî al-Baghdâdî, an-Nukat wa al-‘Uyûn, (http://www.altafsir.com), hal. 1 [MS]
[4] Ibid.
[5] Syaikh ‘Abd al-Ghanî ad-Daqar, Mu’jam al-Qawâ’id al-‘Arabiyah, bâb al-Lâm.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Mahmûd bin ‘Abdurrahîm ash-Shâfî, al-Jadwal fî I’râb al-Qur`ân, (Dâr ar-Rasyîd Muassasah al-Îmân, Damsyiq: 1418 H), hal. 24.
[9] Imâmayn Jalâluddîn as-Suyûthî wa Jalâluddîn al-Mahallî, Tafsîr al-Jalâlayn, http://altafsir.com hal. 1 [MS]
[10] Imâmayn Jalâluddîn as-Suyûthî wa Jalâluddîn al-Mahallî, Tafsir Jalalain, (Sinar Baru Algesindo, Bandung: 2009), hal. 1
[11] Ibid.
[12] Kumpulan Materi Kajian Keislaman Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah di Kampus, (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Negeri Yogyakarta: 2008), hal. 19 (dengan sedikit penyesuaian ejaan)
[13] Imam Syafi’i, Fiqhul Akbar, (Penerbit Pustaka, Bandung:1409 H-1988 M), hal. 18-19
[14] QS. Al-An’âm [6]:99
[15] QS. Al-Hasyr [59]:2
[16] QS. Yûnus [10]:101
الحمد
Merupakan kalimah isim dengan tanda terdapat alif lâm (ال) yang masuk pada kalimah حمدٌ yang berarti pujian (الثناء)[1]. Hamd (حمد) adalah mashdar dari hamida-yahmadu (حمِد-يحمَد) mengikuti wazan (timbangan): fa’ila-yaf’alu (فعِل-يفعَل)[2]. Wazan lengkapnya:
فَعِلَ – يَفْعَلُ – فَعْلا ومَفْعَلا – فَهُوَ فَاعِلٌ – وذَاكَ مَفْعُوْلٌ – افْعَلْ – لاَ تَفْعَلْ – مَفْعَلٌ – مَفْعَلٌ – مِفْعَالٌ
الحمد adalah pujian atas pihak yang dipuji karena kebagusan sifat dan perbuatan pihak yang dipuji tersebut.[3] Berbeda dengan syukur (الشكر), yaitu pujian atas pihak yang dipuji karena nikmat/kebaikan yang diberikan.[4]
ل adalah huruf dengan banyak sekali makna.[5] Di dalam kitab al-Janâ ad-Dânî, disebutkan tiga puluh makna.[6] Sedangkan di kitab Mughnî al-Labîb disebutkan dua puluh makna.[7] Dalam ayat ini, maknanya adalah al-ikhtishâsh (mengkhususkan).[8] Huruf ل di sini termasuk salah satu huruf jârr. Huruf jârr selengkapnya sebagaimana diterangkan dalam Matn al-Ajurûmiyah adalah من, إلى, عن, على, في, رب, ب, ك, dan ل ditambah 3 huruf qasam (sumpah): و, ب, dan ت.
الله merupakan Nama diri bagi (satu-satunya) Dzat yang berhak diibadahi.[9] Penulisan lafazh الله ketika dimasuki huruf ل menjadi لله.
Kalimat الحمد لله dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah SWT adalah Yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya.[10] Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah SWT adalah Zat yang harus mereka puji.[11]
Ayat ini memiliki susunan berupa jumlah ismiyah (الجملة الإسمية), yaitu susunan kalimat yang didahului oleh kalimah isim. Jumlah ismiyah tersusun atas dua komponen, yaitu mubtada` (مبتدأ) dan khabar (خبر). Mubtada` adalah komponen yang diterangkan, sedangkan khabar adalah komponen yang menerangkan. Misal: زيدٌ قائمٌ (Zaid berdiri). Kalimah زيد berkedudukan sebagai mubtada`, sedangkan قائم berkedudukan sebagai khabar. Dalam ayat ini, الحمد لله berkedudukan sebagai mubtada`, لله berkedudukan sebagai khabar.
رب dalam ayat ini merupakan badal dari lafazh الله yang mencakup pengertian Khâliq (Maha Pencipta), Râziq (Maha Pemberi Rejeki), Hâfizh (Maha Memelihara), Mudabbir (Maha Mengelola), dan Mâlik (Maha Memiliki).[12] Lafazh رب merupakan isim karena I’râb-nya jârr dengan tanda berupa kasrah.
العالمين adalah isim ma’rifah (definitif). Tanda isim-nya berupa (1) alif lâm, (2) jârr, dengan tanda huruf yâ` (ي). Lafazh العالمين adalah isim mulhaq jamak mudzakkar sâlim dari kata ‘alam. Kata ‘alam sendiri berasal dari kata ‘alâmah (tanda), sebab alam semesta merupakan tanda adanya Yang Mengadakannya.
Untuk mengetahui keberadaan Sang Pencipta, seorang manusia harus berpikir. Ada baiknya kita kutipkan penjelasan dari Imam Syafi’i. Beliau menulis:[13]
Ketahuilah kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berpikir adalah penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi di mana orang yang berpikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah dan yang dengan itu ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari indera dan yang merupakan suatu keharusan. Dan hal itu merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin (pokok-pokok agama) berdasrakan firman Allah yang (maknya, pen.) berbunyi, “Lihatlah olehmu buahnya ketika ia berbuah,”[14] dan “Ambillah sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mau berpikir,”[15] serta “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang terjadi di langit dan di bumi.”[16]
رب العالمين adalah isim ma’rifah karena merupakan tarkîb idhâfiyah (terdiri dari mudhâf dan mudhâf ilaih) dengan mudhâf berupa isim ma’rifah.
Dengan penjelasan di atas, maka الحمد لله رب العالمين bermakna segala pujian baik pujian dari Khâliq (Pencipta) kepada Diri-Nya sendiri, Khâliq kepada makhluk, makhluk kepada Khâliq, maupun makhluk kepada makhluk, semuanya hanya untuk Allah; Rabb semesta alam. Sebab Dia-lah Pencipta, Pemberi rejeki, Pemelihara, Pengelola, sekaligus Pemilik alam semesta ini. Kita mengatakan segala pujian, meskipun secara eksplisit kata segala tidak terdapat dalam redaksi ayat, karena Yang dipuji adalah pemilik semesta alam.
Wallâhu A’lam bish Shawâb.
[1] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia, (Pustaka Progresif, Surabaya: 2002), hal. 294.
[2] Ibid.
[3] Al-Mâwardî, Abû al-Husayn bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin Habîb bin al-Bashrî al-Baghdâdî, an-Nukat wa al-‘Uyûn, (http://www.altafsir.com), hal. 1 [MS]
[4] Ibid.
[5] Syaikh ‘Abd al-Ghanî ad-Daqar, Mu’jam al-Qawâ’id al-‘Arabiyah, bâb al-Lâm.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Mahmûd bin ‘Abdurrahîm ash-Shâfî, al-Jadwal fî I’râb al-Qur`ân, (Dâr ar-Rasyîd Muassasah al-Îmân, Damsyiq: 1418 H), hal. 24.
[9] Imâmayn Jalâluddîn as-Suyûthî wa Jalâluddîn al-Mahallî, Tafsîr al-Jalâlayn, http://altafsir.com hal. 1 [MS]
[10] Imâmayn Jalâluddîn as-Suyûthî wa Jalâluddîn al-Mahallî, Tafsir Jalalain, (Sinar Baru Algesindo, Bandung: 2009), hal. 1
[11] Ibid.
[12] Kumpulan Materi Kajian Keislaman Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah di Kampus, (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Negeri Yogyakarta: 2008), hal. 19 (dengan sedikit penyesuaian ejaan)
[13] Imam Syafi’i, Fiqhul Akbar, (Penerbit Pustaka, Bandung:1409 H-1988 M), hal. 18-19
[14] QS. Al-An’âm [6]:99
[15] QS. Al-Hasyr [59]:2
[16] QS. Yûnus [10]:101
Langganan:
Postingan (Atom)