Tampilkan postingan dengan label ateisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ateisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 18, 2014

WAJIB 'AQLI, MUSTAHIL 'AQLI, DAN JAIZ 'AQLI

Sumber: http://mindramayu.blogspot.com/
Plang MTsN Kandanghaur. Dari: http://mindramayu.blogspot.com/
Seseorang menyatakan: 


Jika memang Tuhan ada dan se-maha kuasa itu, Dia bisa saja menanamkan ide yang serempak disetiap individu mengenai diri-Nya sejak individu-individu itu lahir. Semua orang akan punya ide yang sama tentang Tuhan dan orang-orang yang tidak percaya, seperti saya, bisa dengan mudah dibuat percaya. Selain itu, sifat-sifat Tuhan yang saya kenal selama ini terlalu MANUSIAWI (arrogant, gila hormat, avengeful, among other things) membuktikan sifat-sifat semua itu adalah dasar manusia–dan membuktikan bahwa Tuhan cuma konsep empiris di otak manusia alias sekedar imajinasi si manusia itu sendiri. And just that simple isnt it?

Membaca pernyataan di atas, saya jadi ingat masa kecil. Ada 3 konsep yang diajarkan kepada saya semasa Madrasah Tsanawiyah.

1) Wajib 'aqli (diharuskan secara nalar)

2) Mustahil 'aqli (dimustahilkan secara nalar)

3) Jazi 'aqli (dimungkinkan secara nalar)

sumber: http://wikimapia.org/4973643/id/MTsN-Kandanghaur#/photo/3608751
MTs tempat saya bersekolah dulu.
"menanamkan ide yang serempak disetiap individu mengenai diri-Nya sejak individu-individu itu lahir" adalah contoh Jaiz 'Aqli. Sang Pencipta boleh saja melakukannya, dan boleh juga tidak. Dalam istilah lain, ini termasuk Sifat Jaiz Bagi Allah.

Sedangkan keberadaan Sang Pencipta itu Wajib 'Aqli. Sesuatu yang Jaiz tidak bisa mengalahkan yang Wajib, sehingga menyatakan ketiadaan Sang Pencipta dengan melihat kenyataan adanya perbedaan ide di antara manusia tentang-Nya, adalah kesalahan berpikir.

Jumat, Mei 03, 2013

Ketika Tiada Bisa Mencipta

KETIKA TIADA BISA MENCIPTA

Bagi Ateis,
Tuhan = Tidak ada
Tuhannya orang ateis adalah tiada

Bagi Ateis,
Sang Pencipta = tiada
Mereka pikir,
Tiada bisa menjadi Sang Pencipta
tiada bisa mengadakan yang tidak ada menjadi ada
khayalan di atas khayalan
kebodohan bagi mereka adalah di atas segalanya

Miliran, 3 Mei 2013
(2 hari lagi Muktamar Khilafah di Mandala Krida, Yogyakarta)

Sabtu, Oktober 29, 2011

Penjual Nasi Angkat Bicara

“Obrolan yang menarik. Bolehkah saya ikut berbincang?” pemilik warung yang disinggahi seorang yang mengaku filsuf dan dua orang insinyur menawarkan diri bergabung dalam perbincangan mereka tentang keberadaan Tuhan. Sebelumnya, dua insinyur tadi mengafirmasi keberadaan Tuhan, sedangkan si filsuf menegasikannya.

“Oh, silakan. Silakan kemukakan pemikiran Anda. Kalau Anda setuju dengan saya, berarti Anda materialis, sedangkan jika Anda setuju dengan tuan yang dua ini, berarti Anda idealis.”

Si penjual nasi tersenyum ramah. Manis sekali. “Saya tidak tahu apa itu materialis dan apa itu idealis. Yang saya tahu setiap manusia memiliki akal yang bisa ia gunakan untuk berpikir.”

“Betul sekali.” Seorang dari dua insinyur mengafirmasi.

“Lalu apa yang ingin Anda katakan?”

“Saya ingin katakan terus terang, saya kurang bisa memahami alur berpikir yang tuan-tuan miliki dalam persoalan ini.”

“Mungkin karena Anda kurang baca buku?” Salah seorang di antara mereka bertanya dengan sinis.

“Haha,, pasti buku yang pernah saya baca lebih sedikit dari Anda. Tetapi seorang yang dianugerahi akal perlu menggunakannya untuk berpikir. Dan saya melihat ketimpangan dalam argumentasi saudara bertiga. Apakah salah jika saya berpikir demikian?”

“Sudah, to the point saja, pak. Kami tidak punya banyak waktu.”

“Itu bijak. Baik, saya akan mulai. Sesuatu yang diciptakan manusia, misalnya kursi, butuh peran manusia agar bisa jadi kursi. Ini saya sepakat. Peran manusia adalah mengubah kayu yang semula berbentuk gelondongan menjadi bentuk tertentu. Nah, karena itu saya kurang sepakat jika peran manusia yang dibahas dalam perkara ‘kursi’ ini sebatas ‘menduduki’ atau ‘tidak menduduki’.’ Peran membentuk sudah tampak dalam proses pengubahan bentuk dari kayu glondongan menjadi kursi. Peran itu mutlak harus diperhatikan.”

Si filsuf berkerut-kerut keningnya. Mungkin sudah jadi kebiasaannya mengerutkan kening seperti demikian. Barangkali perlu beberapa kerutan baginya untuk memikirkan hal sangat sederhana sekalipun. Sesuatu yang sebenarnya hanya memperumit diri sendiri. “Ingat, bung, manusia tidak mengubah substansi zatnya. Ketika menjadi kursi, zat kayu tetap kayu, tidak ada perubahan.”

“Benar. Saya juga tidak bilang bahwa manusia yang membuat kayu menjadi kursi telah mengubah substansi zatnya. Tetapi bukankah Anda sepakat bahwa bentuknya berubah, dan pasti ada peran manusia di sana?”

“Maaf, bung, Anda bicara terlalu lambat, padahal pemaparan Anda tidak terlalu penting. Saya ada urusan lain. Saya pamit.”

“Oh, iya, kebetulan ini juga sudah agak siang, sebentar lagi adzan. Tapi, maaf tuan, apakah Anda melupakan sesuatu?”

“Apa?”

“Anda belum bayar.”

Beberapa orang di warung itu tersenyum mendengar dialog terakhir ini.

Forum siang itu bubar. Mungkin untuk sementara. Karena orang yang mengaku filsuf tadi rupanya sudah langganan makan di situ. Warung itu pun ditutup tidak lama kemudian, karena hari itu adalah hari Jumat, sehingga si pemilik harus segera ke masjid di selatan jalan untuk menunaikan rutinitas pekanannya; bersujud menghadap Sesuatu yang telah menciptakannya dari ketiadaan; Sesuatu yang diingkari oleh (tidak begitu) banyak orang yang mengaku terpelajar.

Padepokan Panatagama, 28 Oktober 2011