Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 27, 2015

Ia Berpikir Maka Ia Kafir?

Ia Berpikir Maka Ia Kafir?

Seseorang perlu berpikir untuk sampai kepada keimanan. Ayat-ayat Alquran banyak mendorong manusia untuk berpikir guna mendapatkannya. Tetapi malam itu ada sebuah pertanyaan tentang sebuah fenomena yang rupanya sedang dibicarakan cukup luas di dunia maya.

Seorang aktor yang murtad. Ia mengaku telah memikirkannya selama enam tahun sebelum memutuskan murtad. Pertanyaannya: Jika keimanan harus diperoleh dengan proses berpikir, lalu mengapa sang aktor itu malah murtad setelah berpikir? Lalu berpikir yang seperti apa yang dapat menghasilkan keimanan? Dan bagaimana pula dengan kisah masuk Islamnya Abu Bakar yang seolah tanpa proses berpikir lebih dulu, melainkan langsung percaya saja dan masuk Islam? Mengenai pertanyaan terakhir, in syâ Allâh akan dibahas di dalam artikel lain, dengan judul Masuk Islamnya Abû Bakr. Artikel ini sedikit-banyak akan menjawab dua pertanyaan pertama.

Berpikir adalah mengaitkan fakta dengan informasi yang didapatkan sebelumnya. Prosesnya melibatkan indera dan otak. Akurasi fakta yang sampai ke dalam otak maupun informasi yang ada di dalam otak akan menentukan akurasi hasil pemikiran seseorang. Satu lagi yang tak kalah penting dalam menentukan kualitas pemikiran seseorang adalah mutu pengaitan antara fakta terindera dengan informasi awal tersebut.

Dalam menghukumi fakta kebenaran suatu agama, seseorang yang benaknya meyakini informasi bahwa semua agama sama, atau meyakini bahwa manusia boleh memilih agama apa saja yang diinginkannya, atau meyakini bahwa memeluk-agama-atau-tidak adalah hak asasi manusia (HAM), akan berbeda dengan seseorang yang informasi awal yang dimiliki dan diyakininya adalah bahwa kebenaran suatu agama itu berbeda-beda (ada yang salah, ada yang benar), manusia hanya boleh memilih agama yang telah dipilihkan oleh Sang Pencipta, serta hak dan kewajiban asasi manusia adalah bertindak sesuai dengan bimbingan-Nya. Dan lain-lain.

Seseorang yang mengenyam kekeliruan informasi awal yang kompleks akan lebih susah untuk berpikir benar dibandingkan orang-orang yang memiliki hanya sedikit saja kekeliruan informasi. Tetapi dalam kasus seseorang mau mencari kebenaran, berbagai kekeliruan informasi awal yang dimiliki oleh benaknya, sebanyak apapun, dapat dengan mudah dibersihkan –bi idznillâh— dengan membenahi dasar dari segala pemikirannya, yaitu pemahaman yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Kasus aktor yang murtad dapat kita bahas dalam kerangka ini. Pertama-pertama kita bisa menyelidikinya dengan mengajukan pertanyaan: Perenungan seperti apa yang membuat sang aktor murtad? Dengan pasti kita akan menemukan berbagai kekeliruan informasi yang dia enyam, apabila kita bisa mendapatkan keterangan-keterangan darinya mengenai hal itu.

Namun dalam kondisi tidak terdeskripsikannya makhluk yang ia sebut sebagai ‘perenungan selama enam tahun’ itu, kita dapat membahas hasil pemikirannya, dan menelaah: Apakah itu cermin berpikir yang benar? Jawaban atas pertanyaan itu bisa kita telusuri dengan menetapkan pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, terutama soal asal keberadaan kita. Dari mana kita berasal? Ini adalah pertanyaan kunci yang perlu kita jawab.

Pencermatan terhadap sebagian saja dari alam semesta, manusia, dan kehidupan, akan mengantarkan pada kesimpulan yang jelas dan pasti mengenai hal ini. Kita ambil satu contoh, yaitu tentang kejadian manusia.

Saat mengerjakan tulisan ini, Musa, putra pertama kami, menangis. Saat ini usianya tepat 32 hari. Itu berarti 33 hari yang lalu ia masih berada di dalam kandungan. Usia kandungannya tepat 38 pekan. Artinya, 266 hari sebelumnya ia masih berada di dalam tubuh saya. Sejak kapan ia ada di sana? Saya tidak tahu. Dari sangat banyak teman sejalannya, saya juga tidak bisa menentukan dia yang harus jadi manusia utuh. Sungguh saya tidak bisa memilih siapa di antara mereka harus dilahirkan ke muka bumi. Meski bahan baku Musa yang berasal dari saya itu akhirnya bersemayam di tubuh istri saya, dia pun tidak dapat menentukan bahwa ia pasti akan jadi manusia utuh, berkelamin lelaki, dan memiliki hidung seperti bapaknya. Kami hanya sejak awal memanggilnya Musa, sebagai doa karena keinginan ibunya agar anak pertamanya adalah lelaki. Dan meski benar dia terlahir sebagai lelaki, tetapi tampak hidungnya tak semancung ayahnya. Bukti bahwa kami bukanlah pihak yang mewujudkannya sedemikian rupa.

Lalu bagaimana ia bisa terwujud? Apakah ada yang mewujudkannya, atau tidak ada? Hanya ada dua kemungkinan itu, tidak ada yang lain. Lalu kemungkinan mana yang benar? Apakah benar Musa – juga setiap anak manusia yang lain – tak ada yang menciptakan sebagaimana yang diyakini oleh kaum ateis?

Kenyataan yang tak bisa dibantah oleh siapapun adalah: Manusia tumbuh dari benih yang ditanam oleh seorang lelaki (bapaknya) ke dalam rahim seorang perempuan (ibunya). Benih itu adalah sesuatu yang lebih lemah dibandingkan bapak dan ibunya. Ibu dan bapaknya secara umum memiliki kualitas yang lebih dibandingkan benih itu. Sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin mengadakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ada, juga tidak mungkin menjalankan proses apapun. Karenanya, bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibunya pasti ditumbuhkan dan dikembangkan oleh SESUATU YANG ADA, tidak mungkin muncul dari ketiadaan.

Lalu apa atau siapakah SESUATU YANG ADA, yang menumbuh-kembangkan benih menjadi janin di dalam rahim? Jelas ia bukan bapaknya, ibunya, atau dirinya sendiri. Maka pasti SESUATU YANG ADA itu adalah sesuatu yang di luar ketiganya, dan memiliki kualitas yang lebih dibandingkan ketiganya. Jadi siapakah Dia?

Kita bisa meneruskan penalaran seperti di atas untuk sampai kepada kesimpulan yang benar mengenai keimanan. Itulah salah satu contoh bagaimana menalar keberadaan Sang Pencipta. namun pembahasan tentang siapa Dia dalam konteks ini tidak harus dibahas panjang-lebar, karena pada dasarnya agama yang dianut sang aktor setelah murtad juga mengakui adanya Sang Pencipta. Dalam kitab suci mereka (versi Arab atau Indonesia), Sang Pencipta juga disebut Allah, sebagaimana di dalam Islam.

Sebagai suatu ajaran yang sama-sama mengakui adanya Sang Pencipta, tentu kebenaran yang berasal dari-Nya menduduki peran yang penting. Maka perenungan yang harus dilakukan  selanjutnya untuk mendapatkan hakikat kebenaran beralih kepada sejauh mana ajaran-ajaran yang dibawa oleh masing-masing agama bersumber dari-Nya. Kita bisa menilik kitab suci masing-masing untuk menjawab persoalan ini.

Pertanyaan pentingnya: Benarkah kitab suci agama yang saat ini dianut oleh sang aktor adalah berasal dari Sang Pencipta? Pertanyaan yang sama dapat diajukan untuk kitab suci agama yang ditinggalkannya. Sangat penting untuk membahasnya. Mari kita mulai memberikan sekedar contoh apa yang patut dipikirkan mengenai hal ini.

Pertimbangkan fakta-fakta di bawah ini dengan baik, dan cobalah renungkan.

1. Kitab suci agama yang ditinggalkan oleh sang aktor menyatakan: kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya. Pernyataan itu dapat ditemukan dengan segera setelah Pembukaan dalam kitab suci. Adakah pernyataan ‘keaslian’ semacam itu ada pada kitab suci agama yang sekarang dianut sang aktor?

2. Kitab suci agama yang ditinggalkan oleh sang aktor sejak diturunkan sampai saat ini dilafazkan dengan bahasa Arab. Itu menandakan konsistensi sekaligus jaminan keaslian, validitas dan otentisitas kitab ini dari dulu sampai sekarang. Apakah konsistensi seperti ini ditemukan juga di dalam kitab suci agama yang dianut sang aktor saat ini?

3. Kitab suci agama yang ditinggalkan oleh sang aktor memiliki rantai periwayatan yang jelas. Para penghafal Alquran memiliki sanad yang bersambung kepada Rasulullah, manusia penutur pertamanya. Adakah hal yang sama ada pada kitab suci yang dianutnya sekarang?

4. Kitab suci agama yang ditinggalkan oleh sang aktor menantang para pengingkarnya untuk membuat satu surat saja yang memiliki kualitas yang setara dengan satu surat di dalamnya. Apakah kitab suci agama sang aktor saat ini memiliki hal yang sama?

Jika sang aktor mengaku telah memikirkan kemurtadannya selama enam tahun, setidaknya empat fakta di atas mestinya ia perhatikan baik-baik, di luar berbagai fakta lain yang dapat dibandingkan mengenai validitas dan otentisistas sumber masing-masing agama. Itulah yang dituntut untuk dilakukan dalam konteks memilih dua agama yang sama-sama mengakui keberadaan Sang Pencipta. Jika penelusuran dan pembandingan terhadap sumber ajaran justru tidak dilakukan, diduga kuat bahwa yang dilakukan oleh sang aktor adalah berkhayal, bukan berpikir. Atau, yang dia lakukan hanyalah membandingkan dan merenungkan: agama mana yang lebih cocok dengan selera nafsunya?

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣)

Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Surat al-Jâtsiyah [45]:23)

Mulai ditulis di Sedayu, Bantul, DIY, pada 04 Ramadhân 1436 H


Selesai ditulis di Bukit Rivaria, Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada hari Jumat, 01 Syawwâl 1436 H/17 Juli 2015 pukul 16.37 WIB

Selasa, Februari 18, 2014

WAJIB 'AQLI, MUSTAHIL 'AQLI, DAN JAIZ 'AQLI

Sumber: http://mindramayu.blogspot.com/
Plang MTsN Kandanghaur. Dari: http://mindramayu.blogspot.com/
Seseorang menyatakan: 


Jika memang Tuhan ada dan se-maha kuasa itu, Dia bisa saja menanamkan ide yang serempak disetiap individu mengenai diri-Nya sejak individu-individu itu lahir. Semua orang akan punya ide yang sama tentang Tuhan dan orang-orang yang tidak percaya, seperti saya, bisa dengan mudah dibuat percaya. Selain itu, sifat-sifat Tuhan yang saya kenal selama ini terlalu MANUSIAWI (arrogant, gila hormat, avengeful, among other things) membuktikan sifat-sifat semua itu adalah dasar manusia–dan membuktikan bahwa Tuhan cuma konsep empiris di otak manusia alias sekedar imajinasi si manusia itu sendiri. And just that simple isnt it?

Membaca pernyataan di atas, saya jadi ingat masa kecil. Ada 3 konsep yang diajarkan kepada saya semasa Madrasah Tsanawiyah.

1) Wajib 'aqli (diharuskan secara nalar)

2) Mustahil 'aqli (dimustahilkan secara nalar)

3) Jazi 'aqli (dimungkinkan secara nalar)

sumber: http://wikimapia.org/4973643/id/MTsN-Kandanghaur#/photo/3608751
MTs tempat saya bersekolah dulu.
"menanamkan ide yang serempak disetiap individu mengenai diri-Nya sejak individu-individu itu lahir" adalah contoh Jaiz 'Aqli. Sang Pencipta boleh saja melakukannya, dan boleh juga tidak. Dalam istilah lain, ini termasuk Sifat Jaiz Bagi Allah.

Sedangkan keberadaan Sang Pencipta itu Wajib 'Aqli. Sesuatu yang Jaiz tidak bisa mengalahkan yang Wajib, sehingga menyatakan ketiadaan Sang Pencipta dengan melihat kenyataan adanya perbedaan ide di antara manusia tentang-Nya, adalah kesalahan berpikir.

Selasa, Januari 17, 2012

Apakah Mereka Diciptakan dari Sesuatu yang Tidak Ada ataukah Mereka Menciptakan Diri Mereka Sendiri?

{ أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37)}

35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

36. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

37. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?

(ath-Thûr [52])

Imam Ibnu Katsir rahimahullâh di dalam kitab Tafsîr al-Qur`ânu-l ‘Azhîm menulis:

Ini adalah tempat berpijak dalam menetapkan rubûbiyah dan tauhid ulûhiyah. Allah Ta’ala berfirman: {am khuliqû min ghayri syay`in am hum-ul khâliqûn}—‘apakah mereka diciptakan dari bukan sesuatu ataukah merekalah para pencipta (itu)?’, artinya: Apakah mereka tanpa ada yang mengadakan? Ataukah mereka yang mengadakan diri mereka sendiri? (Pertanyaan ini) artinya: Tidak ini (ada tanpa yang mengadakan), tidak pula itu (mengadakan diri sendiri), tetapi Allah lah yang menciptakan mereka dan menumbuhkan mereka setelah mereka sebelumnya belum bisa disebut apa-apa. [Dengan pernyataan ini tampak bahwa beliau (Imam Ibnu Katsir) mengaitkan ayat ini dengan ayat pertama surat al-Insân, pent.]

Imam al-Bukhârî mengatakan: al-Humaidî menceritakan pada kami, Sufyân menceritakan pada kami, ia berkata: Mereka menceritakan padaku, dari az-Zuhrî, dari Muhammad bin Jubair Ibn Muth’im, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam membaca surat ath-Thûr saat shalat Maghrib. Ketika sampai ayat berikut: {Am khuliqû min ghayri syay`in am hum-ul khâliqûn. Am khalaqû-ssamâwâti wa-l ardha bal lâ yûqinûn}, hampir-hampir hatiku goncang. [Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan di dalam Fathu-l Bârî dengan mengutip al-Khaththâbî, ia mengatakan: Seolah-olah (hatinya) terguncang ketika mendengar ayat ini karena pemahamannya terhadap makna ayat tersebut dan pengetahuannya terhadap apa yang dikandungnya, ia memahami hujjah (argumentasi) ini, lalu menyadarinya dengan kelembutan tabiatnya., pent.]

Hadis ini dikeluarkan di dalam Shahîhain melalui beberapa jalur. Jalur dari az-Zuhri dengan redaksi seperti itu.

Jubair bin Muth’im pernah mendatangi Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam setelah perang Badar untuk menebus para tawanan perang. Ketika itu dia masih seorang musyrik. Mendengar ayat ini termasuk salah satu factor yang membawanya masuk ke dalam Islam setelah itu.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: {Am khalaqû-ssamâwâti wa-l ardhi bal lâ yûqinûn}—‘Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini’, artinya: Apakah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? (Pertanyaan) ini adalah pengingkaran terhadap kemusyrikan mereka kepada Allah, padahal mereka mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tiadanya keyakinan mereka itulah yang membawa mereka kepada hal tersebut (kemusyrikan). {Am ‘indahum khazâ`inu Rabbika am hum-ul musaythirûn}—‘atau di sisi mereka kah perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa’, artinya: Apakah mereka yang mengelola kerajaan (alam semesta) dan di tangan mereka kunci-kunci khazanah (alam semesta), {am hum-ul musaythirûn}—‘ataukah mereka yang berkuasa’, artinya: (apakah mereka) yang menghisab para makhluk. Perkaranya tidak seperti itu. Tetapi Allah lah, ‘Azza wa Jalla, yang merupakan Pemilik Yang Maha Mengelola lagi Maha Melakukan apa yang Dia Kehendaki.

Padepokan Panatagama, 17 Januari 2012

Daftar Pustaka

Abû al-Fidâ` Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyî ad-Dimasyqî. Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm. Dâr Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tawzî’. 1420 H/1999 M. www.qurancomplex.com. Al-Maktabah asy-Syâmilah.

Ahmad Mukhtâr ‘Abdul Hamîd ‘Umar. Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyah al-Mu’âshirah. ‘Âlam al-Kutub. 1429 H/2008 M. Al-Maktabah asy-Syâmilah.

Syihâbuddîn Abû al-Fadhl Ahmad bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Alî bin Mahmûd bin Ahmad. Fath-ul Bârî li-Ibni Hajar al-‘Asqalânî. http://www.al-islam.com. Al-Maktabah asy-Syâmilah.

A.W. Munawwir. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Edisi Kedua. Pustaka Progressif, Surabaya. 2002.

Mohamad Taufiq. Quran In Word Ver 1.2.0. moh.taufiq@gmail.com.

Senin, Januari 16, 2012

Celaka Bagi Orang yang Mendengar Ayat Ini Lalu Memuntahkannya

Pernyataan dalam judul di atas adalah terjemah harfiyah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam yang dinukil oleh Imam al-Qurthubî di dalam kitab tafsir beliau, al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân. Ayat yang dimaksud adalah:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. {al-Baqarah [2]:164}
Lebih lengkapnya, beliau menyatakan:
Firman Allah Ta’ala: {Laâyâtin}—benar-benar terdapat ayat-ayat; artinya, petunjuk-petunjuk yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan-Nya; karena itu Allah menyebutkan perkara-perkara ini setelah firman-Nya: {Wa ilâhukum ilâhun wâhid}—dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang satu; untuk menunjukkan kebenaran kabar yang telah Dia sebutkan sebelumnya mengenai keesaan-Nya Yang Mahasuci, serta menyebutkan rahmat dan kasih-sayang-Nya. Diriwayatkan dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: [Celakalah bagi oang yang membaca ayat ini, tetapi memuntahkannya], yaitu tidak memikirkan kandungan di dalamnya serta tidak pula mengambil pelajaran. Jika dikatakan: Tidak bisa dipungkiri bahwa ia (alam semesta) ada dengan sendirinya. Maka dikatakan kepadanya: Ini tidak mungkin. Karena apabila ia mengadakan dirinya sendiri, maka (kemungkinannya) tidak lepas dari apakah ketika mengadakan dirinya sendiri itu dalam keadaan ada atau dalam keadaan tidak ada. Apabila ketika mengadakannya itu ia dalam keadaan tidak ada, maka hal ini tidak mungkin, karena pengadaan itu tidak mungkin datang kecuali dari yang hidup, mengetahui, mampu, dan berkehendak; padahal sesuatu yang tidak ada tidak sah disifati dengan sifat-sifat tersebut. Tetapi ketika ia ada, maka keberadaannya itu membutuhkan pengadaan dirinya. Ia berkata: Tidakkah mereka memperhatikan dengan pandangan pemikiran dan perenungan tentang hal tersebut, sehingga ia bisa membuktikan bahwa seluruh alam ini dalam keadaan baru dan berubah, karena benda-benda tersebut adalah benda-benda baru. Sedangkan benda baru membutuhkan pembuat yang membuatnya. (Lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân juz 2, hlm. 201-202)

Selasa, Desember 23, 2008

Ibrâhim Menjadi Nabi Jika Tak Mati? (Bantahan Terhadap Salah Satu Argumentasi Ahmadiyah Tentang Adanya Nabi Setelah Muhammad)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ عَاشَ لَكَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا وَلَوْ عَاشَ لَعَتَقَتْ أَخْوَالُهُ الْقِبْطُ وَمَا اسْتُرِقَّ قِبْطِيّ
(رواه ابن ماجه في سننه; الكتاب ما جاء في الجنازة; الباب ما داء في الصلاة في ابن رسول الله وذكر وفاته)

‘Abd al-Quddûs bin Muhammad memberi tahu kami, Dâwud bin Syabîb al-Bahîlî memberi tahu kami, Ibrâhîm bin ‘Utsmân memberi tahu kami, al-Hakam bin ‘Utaybah memberi tahu kami, dari Miqsam, dari Ibnu ‘Abbâs, ia berkata: ketika Ibrâhîm putra Rasulûllâh shallâllahu ‘alayhi wa sallam meninggal, beliau mensalatkannya dan bersabda: “Sesungguhnya ada yang menyusuinya di surga. Seandainya ia hidup, pastilah ia menjadi seorang Nabi yang shiddîq. Seadainya ia hidup, ia tentu akan memerdekakan paman-pamannya di Qibthî dan orang-orang Qibthî tidak akan diperbudak lagi.”
(HR. Ibnu Mâjah)