Senin, Juli 27, 2015
Ia Berpikir Maka Ia Kafir?
Selasa, Februari 18, 2014
WAJIB 'AQLI, MUSTAHIL 'AQLI, DAN JAIZ 'AQLI
![]() |
| Plang MTsN Kandanghaur. Dari: http://mindramayu.blogspot.com/ |
Jika memang Tuhan ada dan se-maha kuasa itu, Dia bisa saja menanamkan ide yang serempak disetiap individu mengenai diri-Nya sejak individu-individu itu lahir. Semua orang akan punya ide yang sama tentang Tuhan dan orang-orang yang tidak percaya, seperti saya, bisa dengan mudah dibuat percaya. Selain itu, sifat-sifat Tuhan yang saya kenal selama ini terlalu MANUSIAWI (arrogant, gila hormat, avengeful, among other things) membuktikan sifat-sifat semua itu adalah dasar manusia–dan membuktikan bahwa Tuhan cuma konsep empiris di otak manusia alias sekedar imajinasi si manusia itu sendiri. And just that simple isnt it?
Membaca pernyataan di atas, saya jadi ingat masa kecil. Ada 3 konsep yang diajarkan kepada saya semasa Madrasah Tsanawiyah.
1) Wajib 'aqli (diharuskan secara nalar)
2) Mustahil 'aqli (dimustahilkan secara nalar)
3) Jazi 'aqli (dimungkinkan secara nalar)
![]() |
| MTs tempat saya bersekolah dulu. |
Sedangkan keberadaan Sang Pencipta itu Wajib 'Aqli. Sesuatu yang Jaiz tidak bisa mengalahkan yang Wajib, sehingga menyatakan ketiadaan Sang Pencipta dengan melihat kenyataan adanya perbedaan ide di antara manusia tentang-Nya, adalah kesalahan berpikir.
Selasa, Januari 17, 2012
Apakah Mereka Diciptakan dari Sesuatu yang Tidak Ada ataukah Mereka Menciptakan Diri Mereka Sendiri?
{ أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37)}
35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
36. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).
37. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?
(ath-Thûr [52])
Ini adalah tempat berpijak dalam menetapkan rubûbiyah dan tauhid ulûhiyah. Allah Ta’ala berfirman: {am khuliqû min ghayri syay`in am hum-ul khâliqûn}—‘apakah mereka diciptakan dari bukan sesuatu ataukah merekalah para pencipta (itu)?’, artinya: Apakah mereka tanpa ada yang mengadakan? Ataukah mereka yang mengadakan diri mereka sendiri? (Pertanyaan ini) artinya: Tidak ini (ada tanpa yang mengadakan), tidak pula itu (mengadakan diri sendiri), tetapi Allah lah yang menciptakan mereka dan menumbuhkan mereka setelah mereka sebelumnya belum bisa disebut apa-apa. [Dengan pernyataan ini tampak bahwa beliau (Imam Ibnu Katsir) mengaitkan ayat ini dengan ayat pertama surat al-Insân, pent.]
Imam al-Bukhârî mengatakan: al-Humaidî menceritakan pada kami, Sufyân menceritakan pada kami, ia berkata: Mereka menceritakan padaku, dari az-Zuhrî, dari Muhammad bin Jubair Ibn Muth’im, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam membaca surat ath-Thûr saat shalat Maghrib. Ketika sampai ayat berikut: {Am khuliqû min ghayri syay`in am hum-ul khâliqûn. Am khalaqû-ssamâwâti wa-l ardha bal lâ yûqinûn}, hampir-hampir hatiku goncang. [Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan di dalam Fathu-l Bârî dengan mengutip al-Khaththâbî, ia mengatakan: Seolah-olah (hatinya) terguncang ketika mendengar ayat ini karena pemahamannya terhadap makna ayat tersebut dan pengetahuannya terhadap apa yang dikandungnya, ia memahami hujjah (argumentasi) ini, lalu menyadarinya dengan kelembutan tabiatnya., pent.]
Hadis ini dikeluarkan di dalam Shahîhain melalui beberapa jalur. Jalur dari az-Zuhri dengan redaksi seperti itu.
Jubair bin Muth’im pernah mendatangi Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam setelah perang Badar untuk menebus para tawanan perang. Ketika itu dia masih seorang musyrik. Mendengar ayat ini termasuk salah satu factor yang membawanya masuk ke dalam Islam setelah itu.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: {Am khalaqû-ssamâwâti wa-l ardhi bal lâ yûqinûn}—‘Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini’, artinya: Apakah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? (Pertanyaan) ini adalah pengingkaran terhadap kemusyrikan mereka kepada Allah, padahal mereka mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tiadanya keyakinan mereka itulah yang membawa mereka kepada hal tersebut (kemusyrikan). {Am ‘indahum khazâ`inu Rabbika am hum-ul musaythirûn}—‘atau di sisi mereka kah perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa’, artinya: Apakah mereka yang mengelola kerajaan (alam semesta) dan di tangan mereka kunci-kunci khazanah (alam semesta), {am hum-ul musaythirûn}—‘ataukah mereka yang berkuasa’, artinya: (apakah mereka) yang menghisab para makhluk. Perkaranya tidak seperti itu. Tetapi Allah lah, ‘Azza wa Jalla, yang merupakan Pemilik Yang Maha Mengelola lagi Maha Melakukan apa yang Dia Kehendaki.
Padepokan Panatagama, 17 Januari 2012
Daftar Pustaka
Abû al-Fidâ` Ismâ’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyî ad-Dimasyqî. Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm. Dâr Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tawzî’. 1420 H/1999 M. www.qurancomplex.com. Al-Maktabah asy-Syâmilah.
Ahmad Mukhtâr ‘Abdul Hamîd ‘Umar. Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyah al-Mu’âshirah. ‘Âlam al-Kutub. 1429 H/2008 M. Al-Maktabah asy-Syâmilah.
Syihâbuddîn Abû al-Fadhl Ahmad bin ‘Alî bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Alî bin Mahmûd bin Ahmad. Fath-ul Bârî li-Ibni Hajar al-‘Asqalânî. http://www.al-islam.com. Al-Maktabah asy-Syâmilah.
A.W. Munawwir. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Edisi Kedua. Pustaka Progressif, Surabaya. 2002.
Mohamad Taufiq. Quran In Word Ver 1.2.0. moh.taufiq@gmail.com.
Senin, Januari 16, 2012
Celaka Bagi Orang yang Mendengar Ayat Ini Lalu Memuntahkannya
Selasa, Desember 23, 2008
Ibrâhim Menjadi Nabi Jika Tak Mati? (Bantahan Terhadap Salah Satu Argumentasi Ahmadiyah Tentang Adanya Nabi Setelah Muhammad)
‘Abd al-Quddûs bin Muhammad memberi tahu kami, Dâwud bin Syabîb al-Bahîlî memberi tahu kami, Ibrâhîm bin ‘Utsmân memberi tahu kami, al-Hakam bin ‘Utaybah memberi tahu kami, dari Miqsam, dari Ibnu ‘Abbâs, ia berkata: ketika Ibrâhîm putra Rasulûllâh shallâllahu ‘alayhi wa sallam meninggal, beliau mensalatkannya dan bersabda: “Sesungguhnya ada yang menyusuinya di surga. Seandainya ia hidup, pastilah ia menjadi seorang Nabi yang shiddîq. Seadainya ia hidup, ia tentu akan memerdekakan paman-pamannya di Qibthî dan orang-orang Qibthî tidak akan diperbudak lagi.”(HR. Ibnu Mâjah)

