Tampilkan postingan dengan label bakti orang tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bakti orang tua. Tampilkan semua postingan

Senin, September 16, 2013

Berbakti kepada Orang Tua (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Berbakti kepada Orang Tua (1)
(بر الوالدين)

Al-Faqîr yang sangat membutuhkan kasih sayang Allah Ta’âlâ, asy-Syaikh al-Imâm al-‘Allâmah, Jamâluddîn, Abû al-Faraj, ‘Abdurrahmân ibn ‘Alî ibn Muhammad ibn al-Jauzî—semoga Allah memberi kita manfaat darinya, Âmîn—berkata:

الحمد لله الذي أمر بالبر, ونهى عن العقوق, وصلاته وسلامه على سيدنا محمد الصادق المصدوق, وعلى آله وأتباعه يوم إستيفاء الحقوق.
Segala puji bagi Allah yang memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan melarang melakukan kedurhakaan. Shalawat dan salamnya semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Muhammad yang jujur lagi dapat dipercaya, kepada keluarga beliau dan para pengikut beliau hingga hari dipenuhinya segala hak.

أما بعد: فإني رأيت شبيبة من أهل زماننا لا يلتفتون إلى بر الوالدين، ولا يرونه لازماً لزوم الدين، يرفعون أصواتهم على الآباء والأمهات، وكأنهم لا يعتقدون طاعتهم من الواجبات، ويقطعون الأرحام التي أمر الله سبحانه بوصلها في الذكر، ونهى عن قطعها بأبلغ الزجر، وربما قابلوها بالهجر والجهر، وقد أعرضوا عن مواساة الفقراء مما يرزقون، وكأنهم لا يصدقون بثواب ما يتصدقون، قد التفتوا بالكلية عن فعل المعروف، كأنه في الشرع، والعقل ليس بمعروف. وكل هذه الأشياء تحث عليها المعقولات، وتبالغ في ذكر ثوابها وعقابها المنقولات.
Ammâ ba’du. Aku sungguh telah melihat pemuda pada zaman kita tidak lagi menaruh perhatian kepada kedua orang tuanya, serta tidak melihatnya sebagai suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Agama. Mereka meninggikan suara mereka kepada bapak dan ibu mereka. Seakan-akan mereka tidak meyakini bahwa menaati mereka adalah bagian dari kewajiban. Mereka memutus silaturahim yang Allah Yang Mahasuci perintahkan di dalam Alquran untuk disambung sekaligus melarang untuk memutuskannya dengan ancaman yang paling menohok. Seringkali mereka menghadapi kerabat dengan pengucilan dan kata-kata keras. Mereka juga menolak untuk menolong kaum fakir dari rejeki yang diberikan kepada mereka. Seakan-akan mereka tidak membenarkan pahala atas apa yang mereka sedekahkan. Sungguh mereka telah berpaling dari melakukan aktivitas yang makruf seluruhnya, seakan-akan semua itu menurut pandangan syariat maupun akal bukanlah hal yang makruf. Padahal semua itu dianjurkan oleh berbagai hasil perenungan akal yang jernih (ma’qûlât) nan dianjurkan oleh pelbagai nukilan wahyu (manqûlât).

فرأيت أن أجمع كتاباً في هذه الفنون من اللوازم، ليتنبه الغافل، ويتذكر الحازم، وقد رتبته فصولاً وأبواباً، والله الموفق لما يكون صواباً.
Maka aku melihat perlunya menyusun sebuah kitab dalam bidang-bidang yang sangat penting ini, untuk memberitahu yang lalai dan mengingatkan kembali orang yang teguh hati. Aku telah menyusunnya menjadi beberapa pasal dan bab. Allah lah yang memberi taufik terhadap terhadap segala yang benar (dalam kitab ini).

ذكر المعقول في بر الوالدين وصلة الرحم
غير خاف على عاقل حق المنعم، ولا منعم بعد الحق تعالى على العبد كالوالدين، فقد تحملت الأم بحمله أثقالاً كثيرة، ولقيت وقت وضعه مزعجات مثيرة، وبالغت في تربيته، وسهرت في مداراته، وأعرضت عن جميع شهواتها، وقدمته على نفسها في كل حال.
Paparan Rasional tentang Berbakti kepada Kedua Orang Tua dan Silaturahim

Hak pihak yang memberi nikmat tidaklah samar bagi orang yang berakal. Setelah Allah, tidak ada yang memberi nikmat kepada seorang hamba seperti apa yang dilakukan oleh dua orang tua. Ibunya telah menanggung beban yang teramat berat dengan mengandungnya.  Ia menemui kegelisahan yang teramat memilukan saat melahirkannya. Ia bersungguh-sungguh dalam mendidik buah hatinya, sering begadang hanya untuk melayani dan melayaninya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan ia mengesampingkan seluruh kesenangannya dan mendahulukan dirinya sendiri dalam segala hal.

وقد ضم الأب إلى التسبب في إيجاده محبته بعد وجوده، وشفقته، وتربيته بالكسب له والإنفاق عليه.
Ayahnya telah menghimpun segala daya untuk menyediakan prasarana untuk menghadirkannya ke dunia, serta mencintainya setelah ia lahir, mengasihinya, dan mendidiknya dengan cara bekerja untuk menghidupi dan menafkahinya.


والعاقل يعرف حق المحسن، ويجتهد في مكافأته، وجهل الإنسان بحقوق المنعم من أخس صفاته، لا سيما إذا أضاف إلى جحد الحق المقابلة بسوء المنقلب.
Seorang yang berakal tahu hak orang yang berbuat baik kepadanya, serta bersungguh-sungguh untuk membalas hutang budinya. Sayangnya manusia lupa atas hak-hak pemberi nikmat karena kerendahan sifat-sifatnya, apalagi bila sampai mengingkari haknya dan justru membalasnya dengan keburukan yang sangat bertolak-belakang dengan hutang budinya.

وليعلم البار بالوالدين أنه مهما بالغ في برهما لم يف بشكرهما.
Hendaklah diketahui, berbuat baik dan bakti kepada dua orang tua, meskipun berkelimpahan dan penuh kesungguhan, tidaklah mencukupi sebagai balas budi kepada keduanya.


عن زرعة بن إبراهيم، أن رجلاً أتى عمر رضي الله عنه، فقال: إن لي أماً بلغ بها الكبر، وأنها لا تقضي حاجتها إلا وظهري مطية لها، وأوضئها، وأصرف وجهي عنها، فهل أديت حقها؟ قال: لا. قال: أليس قد حملتها على ظهري، وحبست نفي عليها؟ قال: (إنها كانت تصنع ذلك بك، وهي تتمنى بقاءك، وأنت تتمنى فراقها).
Dari Zur’ah ibn Ibrâhîm, bahwasanya ada seorang lelaki mendatangi ‘Umar radhiyalllâhu ‘anhu, ia berkata: Aku mempunyai ibu yang sudah lanjut usia. Ia tidak bisa mengerjakan keperluannya sendiri kecuali punggungku menjadi tunggangannya. Aku memandikannya. Aku juga menceriakan wajahku di depannya. Apakah aku telah membalas budinya? ‘Umar menjawab: Tidak. Ia berkata lagi: Bukankah aku sudah menggendongnya dengan punggungku, dan menahan diri untuk tidak menelantarkannya? ‘Umar menjawab: (Sungguh ia pun melakukannya ketika kamu kecil, dan ia berharap engkau tetap hidup, sedangkan kamu berharap untuk berharap untuk berpisah dengannya!).

ورأى عمر - رضي الله عنه - رجلاً يحمل أمه، وقد جعل لها مثل الحوية على ظهره، يطوف بها حول البيت وهو يقول:
أَحمِلُ أُمي وَهِيَ الحَمالَة ... تُرضِعُني الدِرَةَ وَالعَلالَة
فقال عمر: (الآن أكون أدركت أمي، فوليت منها مثل ما وليت أحب إلي من حمر النعم).
‘Umar radhiyallâhu ‘anhu melihat seorang lelaki yang menggendong ibunya. Ia memposisikannya seperti hawiyyah di atas punggungnya, berthawaf dengannya mengelilingi Baitullah, sambil bersenandung:

أَحمِلُ أُمي وَهِيَ الحَمالَة ... تُرضِعُني الدِرَةَ وَالعَلالَة

Aku menggendong ibuku, dan ia pun pernah menggendong diriku ini
Ia menyusuiku berlimpah-limpah dan berulang kali

‘Umar berkata: Seandainya ibuku masih hidup, lalu aku mengurusnya seperti kamu mengurus ibumu, itu lebih aku sukai daripada onta merah.

وقال رجل لعبد الله بن عمر رضي الله عنهما: حملت أمي على رقبتي من خراسان حتى قضيت بها المناسك، أتراني جزيتها؟ قال: (لا، ولا طلقة من طلقاتها).
Seorang lelaki berkata kepada ‘Abdullâh ibn ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ: Aku menggendong ibuku dari Khurasan sampai aku (tiba di Makkah) dan menunaikan manasik haji, apakah engkau berpendapat aku sudah membalas budinya? Ia berkata: Tidak. Engkau juga belum membalas satu atom dari atom-atom budinya.

ويقاس على قرب الوالدين من الولد قرب ذوي الرجل والقرابة. فينبغي ألا يقصر الإنسان في رعاية حقه.
Kedekatan antara dua orang tua dengan anaknya diqiyaskan kepada kaum lelaki dengan hubungan kerabat. Maka sepatutnya manusia tidak bersambalewa dalam mengurus hak orangtuanya.

(Diterjemahkan dari sebuah kitab berjudul Birrul Wâlidain karya al-Imâm Ibnul Jauzî rahimahullâh. Penerjemah: Shofhi Amhar.)


Parean, 11 Syawwâl 1434 H/18 Agustus 2013 H 11:51 WIB

Minggu, Oktober 14, 2012

Terjemah al-Adab al-Mufrad Karya Imam al-Bukhari (Hadis Nomor 7)


Bakti Kepada Kedua Orangtua adalah Pembuka Pintu Surga
7 - حدثنا حجاج قال : حدثنا حماد هو ابن سلمة ، عن سليمان التيمي ، عن سعيد القيسي ، عن ابن عباس قال : ما من مسلم له والدان مسلمان يصبح إليهما محتسبا ، إلا فتح له الله بابين - يعني : من الجنة - وإن كان واحدا فواحد ، وإن أغضب أحدهما لم يرض الله عنه حتى يرضى عنه « ، قيل : وإن ظلماه ؟ قال : » وإن ظلماه «

7 – Hajjâj menuturkan kepada kami, ia berkata: Hammâd, dia adalah Ibnu Salamah, menuturkan kepada kami, dari Sulaimân at-Taimî, dari Sa’îd al-Qaisî, dari Ibnu ‘Abbâs, ia berkata: Tidaklah seorang muslim yang memiliki dua orang tua muslim mengunjungi keduanya di pagi hari karena mengharap ridha Allah, kecuali Allah Allah akan membukakan baginya dua pintu – yakni dua pintu surga – jika ada satu, maka (dibukakan baginya) satu (pintu). Jika dia membuat salah satunya marah, Allah tidak akan ridha kepadanya sampai ia (salah satu orang tua yang dibuat marah) ridha kepadanya. Ibnu ‘Abbâs ditanya: Meskipun keduanya menzhaliminya? Ibnu ‘Abbâs menjawab: Meskipun keduanya menzhaliminya. (Lihat syarahnya lebih lanjut di Silsilah al-Adab al-Mufrad karya Syaikh Hânî Hilmî).

Terjemah al-Adab al-Mufrad Karya Imam al-Bukhari (Hadis Nomor 4)


4 - حدثنا سعيد بن أبي مريم قال : أخبرنا محمد بن جعفر بن أبي كثير قال : أخبرني زيد بن أسلم ، عن عطاء بن يسار ، عن ابن عباس ، أنه أتاه رجل فقال : إني خطبت امرأة ، فأبت أن تنكحني ، وخطبها غيري ، فأحبت أن تنكحه ، فغرت عليها فقتلتها ، فهل لي من توبة ؟ قال : أمك حية ؟ قال : لا ، قال : تب إلى الله عز وجل ، وتقرب إليه ما استطعت . فذهبت فسألت ابن عباس : لم سألته عن حياة أمه ؟ فقال : إني لا أعلم عملا أقرب إلى الله عز وجل من بر الوالدة

4 – Sa’îd ibn Abî Maryam menuturukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ja’far ibn Abî Katsîr mengabari kami, ia berkata: Zaid ibn Aslam mengabari kami, dari ‘Athâ` ibn Yasâr, dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya seorang lelaki mendatangi beliau, lalu berkata, “Aku telah mengkhitbah seorang wanita, namun ia menolak menikah denganku. Lalu orang lain mengkhitbahnya, ia pun senang menikah dengannya, sehingga aku cemburu terhadapnya, sehingga aku membunuh perempuan itu. Apakah saya bisa bertobat?” Ibnu ‘Abbâs bertanya, “Ibumu masih hidup?” Dia menjawab, “Tidak.” Ibnu ‘Abbâs berkata, “Bertobatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatlah kepada-Nya sekuat tenagamu.” Lalu aku (‘Athâ` ibn Yasâr) pergi dan bertanya kepada Ibnu ‘Abbâs, “Mengapa engkau menanyainya tentang kehidupan ibunya?” Ibnu ‘Abbâs menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui amal yang paling dekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla selain berbakti kepada ibu.”

Jumat, Oktober 12, 2012

Terjemah al-Adab al-Mufrad Karya Imam al-Bukhari (Hadis Nomor 2)


Murka dan Ridha Allah Tergantung Orang Tua
2 - حدثنا آدم قال : حدثنا شعبة قال : حدثنا يعلى بن عطاء ، عن أبيه ، عن عبد الله بن عمر قال : رضا الرب في رضا الوالد ، وسخط الرب في سخط الوالد
2-Âdam telah menuturkan kepada kami, ia berkata: Syu’bah telah menuturkan kepada kami, ia berkata: Ya’lâ ibn ‘Athâ` telah menuturkan kepada kami, dari Bapaknya, dari ‘Abdullâh ibn ‘Umar, ia berkata: Ridha Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara ada pada ridha orang tua. Murka Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara ada pada ridha orang tua.

Terjemah al-Adab al-Mufrad Karya Imam al-Bukhari (Hadis Nomor 1)


1 - أخبرنا أبو نصر أحمد بن محمد بن الحسن بن حامد بن هارون بن عبد الجبار البخاري المعروف بابن النيازكي قراءة عليه فأقر به قدم علينا حاجا في صفر سنة سبعين وثلاثمائة ، قال : أخبرنا أبو الخير أحمد بن محمد بن الجليل بن خالد بن حريث البخاري الكرماني العبقسي البزار سنة اثنتين وعشرين وثلاثمائة ، قال : حدثنا أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن الأحنف الجعفي البخاري قال : حدثنا أبو الوليد قال : حدثنا شعبة قال : الوليد بن العيزار أخبرني قال : سمعت أبا عمرو الشيباني يقول : حدثنا صاحب هذه الدار ، وأومأ بيده إلى دار عبد الله قال : سألت النبي صلى الله عليه وسلم : أي العمل أحب إلى الله عز وجل ؟ قال : « الصلاة على وقتها » ، قلت : ثم أي ؟ قال : « ثم بر الوالدين » ، قلت : ثم أي ؟ قال : « ثم الجهاد في سبيل الله » قال : حدثني بهن ، ولو استزدته لزادني

1-Abû Nashr Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Hâmid ibn Hârûn ibn ‘Abdul Jabbâr al-Bukhârî, yang dikenal dengan Ibnu an-Niyâzakî mengabari kami, dengan cara kami membaca dan ia menyetujuinya. Ia singgah di tempat kami pada bulan Safar tahun 370 setelah pulang berhaji. Ia berkata: Abû al-Khayr Ahmad ibn Muhammad ibn al-Jalîl ibn Khâlid ibn Harîts al-Bukhârî al-Kirmânî al-‘Abqasî al-Bazzâr mengabari kami pada tahun 322, ia berkata: Abû ‘Abdillâh Muhammad ibn Ismâ’îl ibn Ibrâhîm ibn al-Mughîrah ibn al-Ahnaf al-Ju’fî al-Bukhârî, ia berkata: Abû al-Walîd berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Walîd ibn al-‘Aizâr mengabariku, ia berkata: Aku mendengar Abû ‘Amr asy-Syaibânî berkata: Pemuka kampung ini—ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah kampungnya ‘Abdullâh—telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa’? Beliau menjawab, ‘Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian jihad di jalan Allah’. Ia berkata, ‘Beliau memberitahukan ketiga hal itu. Seandainya saya meminta Beliau menambah, niscaya beliau akan menambahnya.”