Tampilkan postingan dengan label jihad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jihad. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 25, 2013

Tidak Ada Paksaan dalam Agama



Syaikh Muhammad Asy-Syuwaikî ghafarallâhu lahu di dalam kitab Barâ`atul Millah al-Islâmiyyah min Iqtirâ`ât wa Adhâlîl al-Firqah al-Ahmâdiyyah al-Qadiyâniyyah (h. 244-246) menulis:

Adapun perkataan mereka untuk mengelabui manusia dengan menyatakan bahwa Islam tidak memperbolehkan menyulut peperangan untuk menyebarkan Islam. Mereka berdalih dengan sikap Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pada periode Makkah, serta dengan Firman Allah Ta’âlâ pada surat al-Baqarah ayat 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan apapun dalam agama.

Maka jawabannya dari banyak segi.

Pertama, talbis ini tidak mengubah apapun bagi kaum Muslimin, karena sesungguhnya sikap Nabi shallallallâhu ‘alaihi wasallam pada periode Makkah dengan bersabar atas gangguan orang-orang kafir Makkah terhadap beliau dan tidak memerangi mereka adalah sebelum hijrah dan mendirikan Daulah, serta sebelum diwajibkannya jihad ofensif, jihad defensif, serta jihad wiqâ`î. Adapun setelah hijrah, tidak ada argumentasi yang mendukung bagi seorang pun untuk meninggalkan jihad dengan maknanya yang syar’i, kecuali apabila ia tergolong orang-orang yang memiliki uzur syar’i, sebagaimana ditunjukkan oleh nas-nas Quran dan hadis-hadis, belum lama ini.

Kedua, adapun ayat tersebut, ia tidaklah turun dalam tema perang dan jihad, melainkan dalam perkara khusus yang dilakukan oleh orang-orang Arab sebelum Islam.  Ibnu Ishâq dan Ibnu Jarîr telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs –radhiyallâhu ‘anhu– tentang Firman Allah (لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ), ia berkata: (Turun berkenaan dengan seorang lelaki Anshâr dari Banî Sulaim ibn ‘Auf yang dipanggil dengan nama al-Hushain. Ia memiliki dua anak lelaki yang beragama Nasrani, sedangkan ia sendiri telah masuk Islam. Lalu ia bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam: Tidak bolehkah aku memaka keduanya? Sesungguhnya mereka mengabaikanku kecuali tetap memeluk agama Nasrani. Kemudian Allah menurunkan ayat itu dalam persoalan ini). Abû Dâwud, an-Nasâ`î, Ibnu Jarîr, dan yang lain meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata:

كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَكُونُ مِقْلَاتًا فَتَجْعَلُ عَلَى نَفْسِهَا إِنْ عَاشَ لَهَا وَلَدٌ أَنْ تُهَوِّدَهُ فَلَمَّا أُجْلِيَتْ بَنُو النَّضِيرِ كَانَ فِيهِمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ فَقَالُوا لَا نَدَعُ أَبْنَاءَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الْغَيِّ }

Pernah ada seorang perempuan yang anaknya yang dilahirkannya selalu meninggal, sehingga ia berjanji apabila ada salah seorang anak yang dilahirkannya hidup, ia akan meyahudikannya. Ketika Bani Nadhîr diusir, di antara mereka ada anak-anak kaum Anshâr, sehingga mereka: Kami tidak akan membiarkan anak-anak kami. Lalu turunlah ayat yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agama.

Apabila dikatakan bahwa ibroh diambil dari keumuman lafaz, bukan dari khususnya sebab, maka jawabannya: Keumuman ayat ini telah dikhususkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya yang mulia dalam persoalan memerangi para penyembah berhala, atau mereka masuk Islam. Allah Subhânahu di dalam surat al-Fath ayat 16:

سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).

Juga dikhususkan oleh Allah, memerangi Ahli Kitab atau mereka menyerahkan jizyah dan berhukum dengan syariat Allah. Itu terdapat di dalam surat at-Taubah, yang termasuk ayat terakhir yang turun dalam persoalan jihad. Allah Yang Mahasuci berfirman di dalam ayat 29:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.

Demikian pula, ayat ini dikhususkan oleh hadis yang telah lalu tentang tawaran kepada orang-orang kafir sebelum memerangi mereka, apakah mereka memilih Islam, membayar jizyah, atau diperangi.

Ayat ini juga dikhususkan oleh hadis al-Mughîrah radhiyallâhu ‘anhu dengan perkataannya kepada gubernurnya Kisra, sebagaimana terekam di dalam Shahîh al-Bukhârî:

فأمرنا نبينا رسول الله –صلى الله عليه وسلم- أن نقاتلكم حتى تعبدوا الله وحده أو تؤدوا الجزية
Nabi kami, Utusan Allah memerintahkan kepada kami untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah semata dan menunaikan jizyah.

Dengan semua itu, keumuman ayat tersebut harus dibawa kepada makna yang khusus untuk menghilangkan pertentangan.

Dengan mengumpulkan semua itu, maka harus dipahami bahwa nas-nas yang ada menunjukkan adanya perbedaan antara memaksa untuk masuk Islam dengan memaksa untuk membayar jizyah serta melaksanakan hukum. Pemaksaan yang pertama telah lewat dengan masuk Islamnya musyrikin jazirah Arab, dan yang kedua, tetap ada. Maka, kita tidak boleh memaksa seorang pun agar menjadi mukmin. Kita hanya boleh memaksa seseorang untuk membayar jizyah, kecuali Nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm yang berdasarkan sebuah hadis, beliau meniadakah jizyah di akhir zaman. Ini menurut pendapat yang menyatakan bahwa kata wadh’ di dalam hadis tersebut bermakna menutup.

Miliran, 25 Juni 2013

Kamis, Juni 06, 2013

Jihad



Jihad

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalânî meletakkan tidak kurang dari 43 hadis tentang jihad di dalam Kitab Bulûghul Marâm, Kitâbul Jihâd. Di urutan kedua, beliau meletakkan hadis berikut:

وعَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ» رواه أحمد والنسائيُّ, وصححه الحاكم

Dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: {Berjihadlah kalian memerangi orang-orang musyrik dengan harta-harta kalian, jiwa-jiwa kalian, dan lisan-lisan kalian}. (H.R. Ahmad dan an-Nasâ`î. Disahihkan oleh al-Hâkim)

Pengertian Jihad
01. Jihad secara bahasa adalah mashdar dari kata جهد. Ungkapan جهدت جهادا maknanya adalah بلغت مشقة (kesulitan menghampiriku).
02. Sedangkan jihad secara syar’i, menurut ash-Shun’ânî dan as-Saqqâf[1] adalah:

بذل الجهد في قتال الكفار أو البغاة
Mengerahkan segenap kesungguhan untuk memerangi orang-orang kafir dan para pemberontak (bughâh)

03. Sementara itu di dalam Hâsyiyah Ibn ‘Âbidîn sebagaimana dikutip oleh Muhammad Khair Haikal dan juga diikuti oleh an-Nabhânî [2], jihad secara syar’i bermakna:

بذل الوسع في القتال في سبيل الله, مباشرة أو معاونة بمال أو رأي أو تكثير سواد أو غير ذلك
Mencurahkan kemampuan untuk berperang di jalan Allah secara langsung, atau dengan memberi bantuan harta, pemikiran, memperbanyak perbekalan, dan lain sebagainya.

04. Kedua pendapat tersebut berbeda dari segi cakupan: Apakah memerangi para pemberontak termasuk jihad atau bukan? Meskipun kedua pendapat tersebut adalah pendapat Islami, dan perselisihan pendapat tersebut termasuk ikhtilaf yang sâ`igh (layak), namun pendapat kedua, yang tidak memasukkan memerangi bughât sebagai jihad, adalah pendapat yang lebih baik, in syâ`allâh.
05. Adapun pengertian jihad yang sangat umum, yang menyatakan arti jihad ialah bekerja sungguh-sungguh, berjuang, berperang, dan sebagainya di jalan Allah yang diperintahkan dan di jalan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya[3], maka pengertian yang semacam ini adalah takrif yang berlebihan, yang keluar dari konteks makna syar’inya.

Hukum Jihad

06. Dalam hadis di atas, ada perintah untuk berjihad. Bagi yang berpegang pada kaidah al-Ashlu fî al-amr lil wujûb (hukum asal suatu perintah adalah menunjukkan kewajiban), maka hadis di atas merupakan dalil wajibnya berjihad. Akan tetapi, kaidah yang lebih tepat mengenai perintah adala al-Ashlu fî al-amr lith thalab (hukum asal suatu perintah adalah untuk menunjukkan tuntutan). Karenanya hadis di atas tidak serta-merta bermakna wajib berjihad, melainkan sebatas menunjukkan adanya tuntutan. Sebuah tuntutan bisa jadi wajib, bisa pula sunah; tergantung qarînah yang mengikutinya.

07. Berdasarkan dalil-dalil lain yang menunjukkan adanya qarînah yang jâzim (pasti), dapat disimpulkan bahwa hukum jihad adalah fardu.  Berikut sebagian dalil tersebut:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ
Diwajibkan atas kalian berperang. (al-Baqarah [2]:216)

Rasulullah bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ (رواه مسلم(

Siapa saja yang mati padahal belum berperang dan tidak bercita-cita demikian di dalam hatinya (berarti) ia mati di atas satu cabang dari kemunafikan. (HR. Muslim)

Jihad dengan Harta dan Jiwa

08. Dalam hadis di atas terdapat tiga sarana berjihad, yaitu dengan harta, jiwa, dan lisan. Jihad dengan jiwa adalah keluar langsung memerangi orang-orang kafir. Sedangkan jihad dengan harta adalah dengan mengerahkan kemampuan untuk menginfakkan sesuatu yang dengannya jihad bisa terlaksana, seperti persenjataan, kendaraan, dan lain-lain.[4] Hal ini banyak disebutkan di dalam ayat-ayat Alquran, antara lain di dalam Surat at-Taubah [9]:41:

وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Dan berjihadlah kalian dengan harta-harta kalian dan jiwa-jiwa kalian di jalan Allah.

Jihad dengan Lisan

09. Jihad dengan lisan adalah dengan menegakkan hujah yang meruntuhkan keyakinan orang-orang kafir, mendakwahi mereka agar menyembah Allah, dengan suara-suara yang menggentarkan mereka ketika bertemu, dengan celaan kepada mereka, dan hal-hal lain yang di dalamnya ada hal yang bisa mengalahkan musuh,[5] sebagaimana firman Allah di dalam Surat at-Taubah [9]:120:

وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ
Tidaklah menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh.

10. Jihad dengan lisan ada kaitannya dengan jihad dengan pemikiran. Yang dimaksud adalah pemikiran yang berkaitan langsung dengan peperangan. Jika pemikiran tersebut berkaitan langsung dengan peperangan di jalan Allah, maka dia adalah jihad. Tetapi jika tidak berkaitan langsung dengan itu, maka dia bukan jihad secara syar’I, meskipun di dalamnya terdapat berbagai kesulitan, dan meskipun dia menghasilkan berbagai faidah untuk meninggikan kalimat Allah. Karena, jihad secara syar’i khusus untuk peperangan, dan masuk ke dalamnya segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan peperangan. Yang serupa dengan pemikiran adalah tulisan dan ceramah. Jika berkaitan secara langsung dengan peperangan, seperti ceramah di hadapan pasukan untuk mengobarkan semangat perang mereka, atau artikel berisi anjuran untuk memerangi musuh, maka itu adalah jihad. Jika tidak demikian, maka tidak termasuk jihad.[6]

Memerangi Penguasa yang Murtad Apakah Termasuk Jihad?

11. Tidak semua peperangan adalah jihad. Demikian pula, tidak semua peperangan yang disyariatkan adalah jihad. Sebagai misal, memerangi bughât menurut pendapat yang lebih tepat bukanlah jihad.

12. Adapun memerangi penguasa yang rusak, hal itu dijelaskan oleh Dr. Muhammad Khair Haikâl sebagai berikut:

Jika penguasa telah kafir secara nyata, lalu ia dibantu dan ditopang oleh berbagai kekuatan, maka memeranginya dalam rangka menggulingkannya dan membunuhnya adalah jihad fî sabîlillâh, karena bersesuaian dengan pengertian jihad, yaitu memerangi orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah ‘Azza wa Jalla. Penguasa yang murtad termasuk bagian dari ahlul harb (pihak yang berhak diperangi).

Kaum muslimin yang berperang di barisannya (penguasa murtad) adalah para pemberontak yang dimintai tolong oleh ahlul harb. Sehingga setiap Muslim yang terbunuh dalam peperangan melawan mereka adalah terbunuh di dalam peperangan melawan orang kafir, sehingga dihukumi syahid dunia-akhirat.

Adapun apabila penguasa tersebut tidak sampai murtad dari Islam, hanya terjatuh kepada kesalahan-kesalahan, yang dengan kesalahannya itu ia boleh dilengserkan, namun si penguasa tetap mempertahankan kekuasaannya, kemudian terjadi perang dengan penguasa tersebut bersama para pendukungnya, maka peperangan di sini hukumnya sama dengan memerangi bughâh, sebagaimana ‘Alî ibn Abî Thâlib radhiyallâhu ‘anhu memerangi Mu’âwiyah ibn Abî Sufyân setelah dicopot dari jabatannya sebagai gubernur Syâm, dan Mu’âwiyah menolak untuk turun dari jabatannya. Karena itulah, peperangan ini bukanlah jihad fî sabîlillâh secara makna istilah bagi jihad, sebagaimana telah kami tarjihkan ketika membahas tentang memerangi bughât.[7]



[1] Muhammad ibn Ismâ’îl al-Amîr ash-Shun’ânî (Subulussalâm, j. 7, h. 195); Syaikh Ibnu ‘Îdrûs al-‘Îdrûs ‘Alawî ibn Abî Bakr as-Saqqâf (Ta’lîq Bulûgh al-Marâm, h. 237)
[2] Muhammad Khair Haikâl (al-Jihâd wa al-Qitâl fî as-Siyâsah asy-Syar’iyyah, j. 1, h. 40), Taqyuddîn an-Nabhânî (asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah j. 2, h. 146)
[3] Lihat A. Hassan (Tarjamah Bulughul Maram, h. 579).
[4] Lihat Subulussalâm h. 197.
[5] Subulussalâm, h. 197.
[6] Taqyuddin an-Nabhani (Kepribadian Islam, j. II, h. 247)
[7] Muhammad Khair Haikâl (al-Jihâd wal Qitâl, j. 1, h. 140)

Jumat, Oktober 12, 2012

Terjemah al-Adab al-Mufrad Karya Imam al-Bukhari (Hadis Nomor 1)


1 - أخبرنا أبو نصر أحمد بن محمد بن الحسن بن حامد بن هارون بن عبد الجبار البخاري المعروف بابن النيازكي قراءة عليه فأقر به قدم علينا حاجا في صفر سنة سبعين وثلاثمائة ، قال : أخبرنا أبو الخير أحمد بن محمد بن الجليل بن خالد بن حريث البخاري الكرماني العبقسي البزار سنة اثنتين وعشرين وثلاثمائة ، قال : حدثنا أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن الأحنف الجعفي البخاري قال : حدثنا أبو الوليد قال : حدثنا شعبة قال : الوليد بن العيزار أخبرني قال : سمعت أبا عمرو الشيباني يقول : حدثنا صاحب هذه الدار ، وأومأ بيده إلى دار عبد الله قال : سألت النبي صلى الله عليه وسلم : أي العمل أحب إلى الله عز وجل ؟ قال : « الصلاة على وقتها » ، قلت : ثم أي ؟ قال : « ثم بر الوالدين » ، قلت : ثم أي ؟ قال : « ثم الجهاد في سبيل الله » قال : حدثني بهن ، ولو استزدته لزادني

1-Abû Nashr Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Hâmid ibn Hârûn ibn ‘Abdul Jabbâr al-Bukhârî, yang dikenal dengan Ibnu an-Niyâzakî mengabari kami, dengan cara kami membaca dan ia menyetujuinya. Ia singgah di tempat kami pada bulan Safar tahun 370 setelah pulang berhaji. Ia berkata: Abû al-Khayr Ahmad ibn Muhammad ibn al-Jalîl ibn Khâlid ibn Harîts al-Bukhârî al-Kirmânî al-‘Abqasî al-Bazzâr mengabari kami pada tahun 322, ia berkata: Abû ‘Abdillâh Muhammad ibn Ismâ’îl ibn Ibrâhîm ibn al-Mughîrah ibn al-Ahnaf al-Ju’fî al-Bukhârî, ia berkata: Abû al-Walîd berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Walîd ibn al-‘Aizâr mengabariku, ia berkata: Aku mendengar Abû ‘Amr asy-Syaibânî berkata: Pemuka kampung ini—ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah kampungnya ‘Abdullâh—telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa’? Beliau menjawab, ‘Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian jihad di jalan Allah’. Ia berkata, ‘Beliau memberitahukan ketiga hal itu. Seandainya saya meminta Beliau menambah, niscaya beliau akan menambahnya.”