Sabtu, Mei 11, 2013

Empat Hadis tentang Ikhlas



Empat Hadis tentang Ikhlas

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ عَنْ مُعَانِ بْنِ رِفَاعَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ بُخْتٍ الْمَكِّيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي هَذِهِ فَحَمَلَهَا فَرُبَّ حَامِلِ الْفِقْهِ فِيهِ غَيْرُ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ الْفِقْهِ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ صَدْرُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمُنَاصَحَةُ أُولِي الْأَمْرِ وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
(مسند أحمد, 12871)

Abû al-Mughîrah menceritakan kepada kami, dari Mu’ân ibn Rifâ’ah, ia berkata: ‘Abdul Wahhâb ibn Bukht al-Makkî telah menceritakan kepadaku, dari Anas ibn Mâlik dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, belia bersabda: Allah akan menerangi orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menjaganya, dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tahu darinya. Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat dengki, yaitu ikhlas beramal karena Allah, menasihati pemimpin kaum Muslimin, dan senantiasa ada dalam jamaah kaum muslimin. Karena dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka. (Musnad Ahmad, 12871)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ يَشُكُّ فِي السَّادِسَةِ قَالَ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ
قَالَ عَبْد اللَّهِ قَالَ أَبِي أَبُو سَلَمَةَ هَذَا الْمُغِيرَةُ بْنُ مُسْلِمٍ أَخُو عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقَسْمَلِيِّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ الْخُرَاسَانِيِّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ
(مسند أحمد, 20273)

‘Abdurrazzâq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Sufyân, dari Abû Salamah, dari ar-Rabî’ ibn Anas, dari Abû al-‘Âliyah, dari Ubayy ibn Ka’b, ia berkata:
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, keluhuran, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi. Siapa saja dari umat ini yang melaksanakan amal akhirat untuk dunianya, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apapun.
‘Abdullâh berkata: Bapakku, Abû berkata: Abû Salamah ini adalah al-Mughîrah ibn Muslim, saudaranya ‘Abdul ‘Azîz ibn Muslim al-Qasmalî. Muhammad ibn Abû Bakr al-Muqaddamî menceritakan kepada kami, Mu’tamir ibn Sulaimân menceritakan kepada kami, Sufyân ats-Tsaurî menceritakan kepada kami, dari Abû Salamah al-Khurâsânî, dari ar-Rabî’ ibn Anas, dari Abû al-‘Âliyah, dari Ubayy ibn Ka’b, dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, hadis yang semisal.
(Musnad Ahmad, 20273)

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ
قَالَ أَنَسٌ وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ قَبْلَ هَرْجِ الْأَحَادِيثِ وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي آخِرِ مَا نَزَلَ يَقُولُ اللَّهُ
{ فَإِنْ تَابُوا }
قَالَ خَلْعُ الْأَوْثَانِ وَعِبَادَتِهَا
{ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ }
وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى
{ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ }
حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى الْعَبْسِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ مِثْلَهُ
(سنن ابن ماجه, 69)

Nashr ibn ‘Alî al-Jahdhamî menceritakan kepada kami, Abû Ahmad menceritakan kepada kami, Abû Ja’far ar-Râzî menceritakan kepada kami, dari ar-Rabî’ ibn Anas, dari Mâlik, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa saja yang berpisah dari dunia (wafat) dengan membawa keikhlasan kepada Allah saja, ia tidak menyekutukan Allah sedikit pun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan Allah ridha kepadanya.

Anas berkata, itu adalah agama Allah yang dibawa oleh para Rasul. Mereka menyampaikannya dari Rabb mereka sebelum terjadi kekacauan dalam berbagai pembicaraan dan perselisihan hawa nafsu. Legitimasi atas hal itu terdapat di dalam Kitab Allah pada ayat-ayat terakhir yang turun. Allah berfirman:

{ فَإِنْ تَابُوا }
Jika mereka kembali

Ia berkata: Meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala.

{ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ }
Dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat.

Allah berfirman di ayat yang lain:

{ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ }

Dan jika mereka kembali, menegakkan shalat, serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudaramu dalam agama.

Abû Hâtim menceritakan kepada kami, ‘Ubaidullâh ibn Mûsaâ al-‘Absî menceritakan kepada kami, Abû Ja’far ar-Râzî menceritakan kepada kami, dari ar-Rabî ib Anas, yang semisalnya.

(Sunan Ibnu Mâjah, 69)
أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ هِلَالٍ الْحِمْصِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
(سنن النسائي, 3089)

‘Îsâ ibn Hilâl al-Himshî mengabari kami, ia berkata: Muhammad ibn Himyar berkata: Mu’âwiyah ibn Sallâm menceritakan kepada kami, dari ‘Ikrimah ibn ‘Ammâr, dari Syaddâd Abû ‘Ammâr, dari Abû Umâmah al-Bâhilî, ia berkata: Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Apa pendapat Engkau tentang seseorang yang berperang untuk mendapat imbalan dan pujian, ia mendapat apa? Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menjawab: Ia tidak mendapat apa-apa. Lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: Ia tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah semata. (Sunan an-Nasâ`î, 3089)

Surat Untuk Hûr 'În

Assalamu 'alaikum.

Apa kabar? Sudah lama kita tidak berbincang, ya? Saya ingin bercerita.

Tadi habis lohoran di Diponegoro, ada simbah putri minta uang kecil.

"Berapa, mbah?" tanya saya.

"Manut," kata beliau.

Di kantong ada sepuluh ribu, beberapa lembar ratusan, ribuan, dan dua ribuan. Saya keluarkan yang dua ribu.

"Dua ribu."

"Nggih." Simbah beranjak dari dekat kami.

Tapi sekejap kemudian, beliau kembali mendekat.

"Tak kandani."

"Pripun?"

Beliau mengatakan sesuatu, tetapi samar. Kemudian pergi lagi.

"Daleme pundi, mbah?"

"Mriku, Miliran. Ngerti Miliran tho?"

"Nggih, semerep."

"Lha, sedereke pundi?"

Dan beliau mulai menceritakan. Ia lontang-lantung sejak gempa Jogja. Itu berarti sudah 7 tahun. Dulu semasa muda, ia bekerja di suatu tempat ... ah, saya lupa di mana. Banyak Brimob.

"Aku iki prawan ting."

"Kok mboten nikah mawon?"

"Wegah, repot. Ndak golek-golek"

"Lha, malah penak tho, mbah?"

"Ora. Luwih penak ijen, ho`o tho?"

Banyak saya temui orang yang sendiri dalam kehidupan ini. Tetapi tidak satu pun di antara mereka yang memang tidak ingin menikah. Ternyata ada, orang yang tidak menikah atas dasar pilihan. Bukan atas dasar status seperti menjadi pastur atau biarawati. Saya baru menemukannya hari ini.

Jumat, Mei 10, 2013

Amal yang Tak Putus



Amal yang Tak Putus

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalânî di dalam Kitab Bulûghûl Marâm, Kitâb al-Buyû’, Bâb al-Waqfi, menukil hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ, أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ, أَوْ وَلَدٌ يَدْعُوْ لَهُ» رواه مسلم.

Dari Abû Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: «Apabila seorang anak Adam meninggal, amalnya terputus darinya kecuali dari yang tiga: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang mendoakan kebaikan kepadanya» (H.R. Muslim)

01. Para ulama menafsirkan shadaqah jâriyah dalam hadis di atas sebagai wakaf.

02. Wakaf (al-waqfu) secara bahasa berarti al-habsu (menahan, mencegah, merintangi, menghalangi, memenjarakan). Sedangkan secara syar’i bermakna:

حبس مال يمكن انتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته من الواقف وغيره على مصرف مباح موجود تقربا إلى الله تعالى

Menahan harta yang bisa dimanfaatkan tanpa mengurangi zatnya, dengan memutus hak pemanfaatan bagi pemberi wakaf maupun pihak yang lain untuk dimanfaat dengan pemanfaatan yang diperbolehkandan riil, untuk mendekatkan diri kepada Allah.

03. Harta wakaf adalah milik Allah, bukan milik wâqif (orang yang mewakafkan) maupun nâzhir (orang yang diserahi tugas untuk memanfaatkan harta wakaf), sehingga tidak dapat dijual, dihibahkan, diwariskan, atau apapun yang dapat menghilangkan sifat kewakafannya.

04. Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan para Sahabat dan mutaqaddimîn tentang bolehnya mewakafkan tanah. Imam Syafi’I mengisyaratkan bahwa hal ini adalah termasuk kekhususan Islam yang tidak diketahui di masa jahiliyah. Lafaz-lafaz yang digunakan untuk menyatakan wakaf adalah: habastu, sabbaltu, dan abbadtu. Sedangkan lafaz tashaddaqtu dianggap wakaf secara kinâyah. Adapun lafaz harramtu ada yang mengatakan bahwa itu adalah ungkapan wakaf yang sharîh, ada pula yang menyatakan tidak sharîh.

05. Ungkapan aw ‘ilmun yuntafa’u bihi maksudnya adalah ilmu yang bermanfaat secara ukhrawî, sehingga ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya secara ukhrowi seperti nujum, sihir, tidak termasuk di dalamnya.

06. Termasuk ke dalam ‘ilmun yuntafa’u bihi antara lain: orang yang menyusun suatu ilmu yang bermanfaat, atau menyebarkannya kemudian ada yang meriwayatkannya dan mengambil manfaatnya, atau menulis suatu ilmu yang bermanfaat meskipun dengan imbalan jika meniatkan agar dimanfaatkan oleh orang, atau mewakafkan buku-buku.

07. Lafaz al-walad (anak) mencakup anak lelaki maupun perempuan. Orang tua wajib mendidik anak hendaknya mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang saleh. Dalam hadis di atas disebutkan anak yang saleh yang mendoakannya, karena doa anak yang saleh akan dikabulkan oleh Allah. Rasulullah banyak memberi tuntunan dan contoh bagaimana mendidik anak. Beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam meyuruh para orang tua untuk mengajari anak-anak untuk mencintai Nabi, Ahli Bait beliau, membaca Alquran, senantiasa menjaga aturan Allah, meminta hanya kepada Allah, menyuruh mereka solat pada usia tujuh tahun, dan mulai memberi hukuman jika tidak mau solat pada usia sepuluh tahun, memisahkan tempat tidur mereka, dan sebagainya.

08. Hadis ini adalah dalil terputusnya pahala amal setelah mati kecuali tigal hal tersebut. Tiga hal tersebut pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal. Para ulama mengatakan: Karena hal itu merupakan hasil usahanya.

09. Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa doa anak kepada orang tua, sampai kepada keduanya. Demikian pula selain doa, seperti sedekah, membayar hutang, dan lain-lain.

10. Ibnu Mâjah meriwayatkan hadis yang menyebutkan lebih dari tiga perkara di atas, sebagai berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan-kebaikan yang menyusul seorang mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkannya, anak saleh yang ditinggalkannya,  mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabîl, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dalam keadaan sehat dan semasa hidupnya; semua itu akan menyusul setelah kematiannya.

Pustaka

Syaikh Ibn ‘Îdrûs al-‘Îdrûs ‘Alawî ibn Abî Bakr as-Saqqâf. Ta’lîq dalam Bulûghul Marâm min Adillah al-Ahkâm.

Muhammad ibn Ismâ’îl al-Amîr ash-Shun’ânî. Subulus Salâm al-Mûshilah ilâ al-Bulûghil Marâm. Dâr Ibn Hazm, Damâm: 1421 H.


Muhammad Râtib an-Nâblûsî. Ahadîts al-Mukhtalifah fî Tarbiyatil Awlâd. http://nabulsi.com/text/04hadeeth/1shareh/1targheeb/021-030tar/tar023.pdf, 10 Mei 2013.

Kamis, Mei 09, 2013

Belajar dari Nabi Nuh



Belajar dari Nabi Nuh

Sekira sepekan sebelum Muktamar Khilafah 2013 di Mandala Krida, saya meminta daris untuk mengundang teman-teman di kampusnya. Ia akan menyelenggarakan forum yang di dalamnya diterangkan pentingnya menghadiri Muktamar Khilafah.

Beberapa hari kemudian ia memberitakan bahwa sejumlah temannya siap hadir. Perkembangan terakhir, ada lima belas orang yang menyatakan kesediaannya. Acara akan diselenggarakan hari Jumat jam 13.00 di Masjid Jamik.

Pada hari H, sebelum jam 13.00, saya sampai di lokasi. Tampak banyak mahasiswa yang duduk-duduk di teras masjid. Takmir yang sebelumnya sudah dilobi tampak menyiapkan beberapa hal yang diperlukan, dibantu oleh daris saya. Saya mendekati mereka untuk menyempurnakan persiapan. Setelah dirasa cukup, saya meminta kepadanya untuk memanggil teman-temannya. Namun, dari banyak mahasiswa yang tadi duduk-duduk, kami melihat hanya tiga orang yang tersisa.

Daris saya tampak kecewa. Dari lima belas orang yang menyatakan bersedia hadir, hanya tiga orang yang datang. Mungkin begitu pikirnya. Melihat itu, saya berusaha menghibur. Saya katakana kepadanya, hal seperti ini lumrah; hal biasa dalam dakwah. Dulu saya juga begitu. Dan kita tidak boleh berhenti.

Usai acara, saya kembali mencoba menghiburnya.

“Pernah baca Surat Nuh?”

“Belum.” Ia menjawab pelan sambil menggelengkan kepala.

“Cobalah baca.”

“Ayat berapa?”

“Semua saja. Itu tidak panjang.”

Lalu saya bacakan beberapa ayat. Bahwa Nabi Nuh, tidak seperti kita yang berdakwah hanya pada waktu-waktu tertentu saja, beliau menyeru kaumnya siang dan malam, selama ratusan tahun. Hanya sedikit dari kaumnya yang mau beriman. Kebanyakan mereka lari dari dakwah beliau. Setiap beliau berdakwah, mereka menyumbat telinga mereka dengan jari; mereka menutupkan pakaian mereka ke kepala sebagai tanda keacuhan.

“Antum bisa baca sendiri selengkapnya. Oke? Saya pamit dulu ya..”

Kami berpisah setelah saling bertukar doa keselamatan.

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١)قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (٢)أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (٣)يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٤)قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا (٥)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلا فِرَارًا (٦)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (٧)ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (٨)ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (٩)فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠)يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١)وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (١٣)وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (١٤)أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (١٥)وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (١٦)وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا (١٧)ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (١٨)وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا (١٩)لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا (٢٠)قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا (٢١)وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (٢٢)وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (٢٣)وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا (٢٤)مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا (٢٥)وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (٢٦)إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلا فَاجِرًا كَفَّارًا (٢٧)رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا تَبَارًا (٢٨)

1. Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dengan perintah: “Sampaikanlah ancaman kepada kaummu sebelum datangnya azab yang pedih kepada mereka

2. Nuh berkata: “Wahai kaumku, aku benar-benar seorang pemberi ancaman yang jelas kepada kalian.

3. Hendaklah kalian tunduk kepada Allah dan patuh kepada-Nya serta taat kepadaku.

4. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memanjangkan umur kalian sampai masa tertentu. Bila kematian tiba, maka tidak dapat ditunda, jika kalian benar-benar mau mengerti.

5. Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah mengajak kaumku kepada Islam malam dan siang,

6. tetapi mereka ternyata semakin menjauhkan diri dari ajaranku.

7. Setiap kali aku mendakwahi mereka agar Engkau mengampuni mereka, ternyata mereka menutup telinga mereka dengan jari-jari mereka. Mereka menutupkan kain ke muka mereka agar tidak melihat, dan tetap dalam kekafiran. Mereka bersikap congkak berlebih-lebihan.

8. Aku benar-benar telah mengajak mereka kepada Islam dengan terang-terangan.

9. Kemudian aku kembali mengajak mereka kepada Islam dengan terang-terangan, setelah sebelumnya aku mengajak mereka dengan diam-diam.

10. Lalu aku berkata kepada kaumku: ‘Hendaklah kalian memohon ampun kepada Tuhan kalian dari kekafiran dan dosa-dosa kalian. Tuhan kalian itu senantiasa Maha Pengampun.

11. Allah menurunkan hujan dari langit secara terus-menerus kepada kalian.

12. Allah memberikan harta dan anak kepada kalian. Allah memberikan kebun-kebun dan sungai-sungai kepada kalian.

13. Tetapi mengapa kalian tidak mempercayai adanya kekuasaan Allah?

14. Padahal Allah telah menciptakan kalian tahap demi tahap.

15. Apakah kalian tidak mau memikirkan, bagaimana Allah menciptakan tujuh lapis langit.

16. Dan telah menciptakan bulan bercahaya dan menciptakan matahari bersinar?

17. Allah menciptakan kalian dari tanah, lalu kalian tumbuh berkembang dengan baik.

18. Kemudian akan mengembalikan kalian menjadi tanah, lalu membangkitkan kalian dari kubur.

19. Allah telah menjadikan bumi terhampar untuk kepentingan kalian.

20. agar kalian dapat melewati jalan-jalan luas permukaannya.’”

21. Nuh berkata: “Wahai Tuhanku, kaumku durhaka kepadaku. Mereka mengikuti hawa nafsu para pemimpin yang menjadi sesat karena harta dan anaknya.

22. Mereka melakukan tipu daya yang amat kuat.

23. Para pembesar kaum Nuh berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, janganlah kalian tinggalkan berhala Wad, Suwaa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.”

24. Sungguh para pembesar kaum Nuh telah menyesatkan banyak orang. Nuh berdoa: “Wahai Tuhanku, karena kaumku telah berbuat syirik, maka tambahkanlah kesesatan kepada mereka.”

25. Karena dosa-dosa kaum Nuh, mereka ditenggelamkan. Kelak di hari kiamat, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka. Mereka tidak akan mendapatkan penolong selain Allah.

26. Nuh berkata: “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan di muka bumi ini sebuah negeri pun untuk orang-orang kafir.

27. Wahai Tuhanku, jika Engkau membiarkan orang-orang kafir tetap hidup, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu. Mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang durhaka lagi kafir.

28. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta siapa saja yang masuk ke dalam perahuku dengan hati beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Sungguh orang-orang kafir itu hanya akan mendapatkan kerugian di akhirat.”