Sabtu, Juli 06, 2013

Atheism adalah Kekecewaan


Atheism adalah Kekecewaan
Mugi Paring Kertapati
Ateisme pada dasarnya adalah semacam bentuk pelarian dari kekecewaan terhadap agama, bukan sebuah keyakinan yang bersumber dari kesadaran berpikir dan perenungan yang jerniah maupun dari hati nurani yang suci.

*Mau diskusi? Maju ‎#satu_lawan_satu.
Like · · Unfollow Post · Share · 4 hours ago

    3 people like this.
   
Erlangga Adinegoro Udah bebal, tidak berpengetahuan, busuk lagi.
    3 hours ago · Like · 2
   
Mugi Paring Kertapati Pernyataan terbaik dari ateis memang sebatas itu. Untuk menjadi ateis, tidak perlu berpikir.
    about an hour ago · Like · 1
   
Anton Medan peryataan yg sungguh subjektif...
    about an hour ago via mobile · Unlike · 1
   
Taufik Atheist adalah lebih dari sekedar pengetahuan bahwa tuhan itu tidak ada, dan sedangkan bahwa agama adalah baik sebuah kesalahan atau penipuan. Atheist adalah sebuah sikap, kerangka pikiran yang terlihat di dunia obyektif, tanpa rasa takut, selalu berus...See More
    35 minutes ago · Like · 1
   
Mugi Paring Kertapati Jadi menurut ateis, karena ada begitu banyak macam mata uang palsu, maka kesimpulannya tidak ada satu pun mata uang asli. Perhatikan, Taufik -semoga Allah memberinya petunjuk-, tidak percaya atas keberadaan Tuhan hanya karena ada banyak versi ajaran tentang Tuhan. Pemikiran yang bagus untuk menunjukkan kepintaran Ateis.
    30 minutes ago · Like
   
Taufik disini kita berbicara fakta realita
    realistis dan tidak terbantahkan bukan opini pribadi
    29 minutes ago · Like
   
Sollune Elane Mugi, kamu tidak percaya peri gigi itu menandakan kamu kecewa dan bukan keyakinan dari nurani yang suci.
    28 minutes ago via mobile · Like
   
Mugi Paring Kertapati Saya ulangi:

    "Jadi menurut ateis, karena ada begitu banyak macam mata uang palsu, maka kesimpulannya tidak ada satu pun mata uang asli. Perhatikan, Taufik -semoga Allah memberinya petunjuk-, tidak percaya atas keberadaan Tuhan hanya karena ada banyak versi ajaran tentang Tuhan. Pemikiran yang bagus untuk menunjukkan kepintaran Ateis."

    23 minutes ago · Like
   
Taufik yakinkan saya kalo tuhan itu ada
    22 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati /Mugi, kamu tidak percaya peri gigi itu menandakan kamu kecewa dan bukan keyakinan dari nurani yang suci./

    Saya percaya peri gigi. Gigi saya pernah diperiksa olehnya. Kamu percaya bahwa kamu manusia, Sollune Elane?
    21 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati //yakinkan saya kalo tuhan itu ada //

    apa yang dimaksud degan keyakinan menurutmu?
    15 minutes ago · Edited · Like
   
Taufik ia ^_^
    20 minutes ago · Like
   
Sollune Elane oke, muslim lolgic: Saya percaya peri gigi. Gigi saya pernah diperiksa olehnya. Kamu percaya bahwa kamu manusia, Sollune Elane ?

    ^tidak perlu lagi pembuktian lebih lanjut, TS sangat delusif.
    17 minutes ago via mobile · Edited · Like
   
Mugi Paring Kertapati oh, yakin bagi taufik adalah senyum?
    17 minutes ago · Like
   
Taufik ini sudah melenceng dari topik diatas nih
    16 minutes ago · Edited · Like
   
Mugi Paring Kertapati Saya tulis ulang topiknya:

    "Ateis pada dasarnya adalah semacam bentuk pelarian dari kekecewaan terhadap agama, bukan sebuah keyakinan yang bersumber dari kesadaran berpikir dan perenungan yang jernih maupun dari hati nurani yang suci."
    15 minutes ago · Edited · Like
   
Taufik saya pribadi kecewa terhadap agama
    karna ada peperangan atas nama agama yang sudah mengorbankan banytak nyawa
    14 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati oh, mungkin @taufik gagal menangkap pertanyaan saya dengan baik. sudah saya edit, silakan dibaca lagi, kemudian dijawab.
    14 minutes ago · Like
   
Rein Borneojaya Ateisme itu ON - OFF di setiap insan Indonesia. Saat menyetubuhi calon istri ke-2, atau mengantongi uang milik rakyat, orang akan menganggap Aulloh SWT itu gak ada... itu ateisme yg sdg ON. Tetapi saat dzikir nangis-nangis pas ustadz Arifin Ilham diundang di acara Maulid kantor = Aulloh itu ada. Ateisme sedang OFF
    13 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati Dengan begitu, terbukti:

    "Ateis pada dasarnya adalah semacam bentuk pelarian dari kekecewaan terhadap agama, bukan sebuah keyakinan yang bersumber dari kesadaran berpikir dan perenungan yang jerniah maupun dari hati nurani yang suci."
    13 minutes ago · Like
   
Taufik tidak semua atheist sama dengan saya

    saya kecewa terhadap agama
    dan saya sadar dalam berpikir
    dan otak rasional menganalisa mana yang benar dan yang salah !
    10 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati Itu artinya, ateisme adalah kebejatan. Perumpamaan yang bagus, Rein Borneojaya.
    10 minutes ago · Like
   
Mugi Paring Kertapati //tidak semua atheist sama dengan saya//

    silakan kalau ada ateis yang tidak sama dengan anda, suruh maju ke depan.

    //saya kecewa terhadap agama//

    terbukti:

    "Ateis pada dasarnya adalah semacam bentuk pelarian dari kekecewaan terhadap agama, bukan sebuah keyakinan yang bersumber dari kesadaran berpikir dan perenungan yang jerniah maupun dari hati nurani yang suci."

    //dan saya sadar dalam berpikir
    dan otak rasional menganalisa mana yang benar dan yang salah !//

    sebenarnya tidak demikian. tetapi pemikiran anda diperbudak oleh kekecewaan anda terhadap agama.
    8 minutes ago · Like · 1
    Taufik
    6 minutes ago · Like

28 Sya’bân 1433 H/6 Juli 2013 M

Minggu, Juni 30, 2013

Untuk Saudaraku yang Telah Pergi



Lelaki itu sesenggukan sampai beberapa langkah dari kuburan yang baru saja ditaburi bunga beberapa menit yang lalu.

"Diloske wae mas, ben lego," kata sesosok gempal pendek yang agak hitam itu. Beliau adalah salah satu petugas penguburan. Semoga Allah menyayanginya.

Aku menepuk-nepuk pundak lelaki tadi, sekedar memberi hiburan. Ia melangkah menjejeri wanita berbusana serba putih.

"Putrane panjenengan, bu. Putra ingkang soleh." Ia memberi persaksian. Dari lisan sang ibu, mengalir doa-doa kebaikan untuk putranya yang dipersaksikan itu.

Di luar komplek pemakaman, depan masjid tempat KKN-ku dulu semasa kuliah, aku menyalami para syabab, sebelum mereka menaiki mobil. Pulang kembali ke Serang. Sebelumnya, di makam tadi, kami sempat berkenalan.

"Beliau itu 'Abdurrahman bin 'Auf. Keikhlasannya luar biasa." Ujar seorang pria sebelum memasuki mobil berplat A itu, diselingi sedu-sedan sesaat, lalu mengusap air matanya. Kami bersalaman, berpelukan, lalu berpisah. Semoga Allah mengampuni kami semua.

Menilai kepribadian seseorang adalah dengan melihat unsur kepribadian itu sendiri, yaitu 'aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola jiwa). Dua unsur ini tidak melihat titel seseorang. Seorang sarjana hukum, yang mengenyam pendidikan hukum sekuler, tidak serta-merta menjadi berkepribadian sekuler, selama tidak menganut pola pikir sekuler yang ia dapatkan.

Sosok yang kini terbaring di pusara tadi, adalah seorang sarjana hukum. Malam sebelum pemakaman, seusai pengajian di masjid dekat rumah duka, kami menyempatkan diri mengunjungi keluarganya. Jenazah belum tiba dari Serang. Di sana kami berbincang dengan ibu dan adik iparnya.

"Dia aktif di masyarakat. Kegiatan-kegiatan RT rajin dia ikuti. Pak RTne remen." sang ibu menuturkan.

"Jika ada yang memberi pekerjaan di Jogja, saya tidak akan pergi merantau." ujar sang ibu lagi, menirukan putranya. Ia mengenang, "Ditawari kerja di Pengadilan, dia tidak mau. Takutnya nanti membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, katanya."

Tampak, jiwa tulusnya tertempa sejak lama. Mungkin karena jiwa tulusnya itulah, dakwah dengan mudah menyentuhnya. Gambaran pemikiran dan jiwa sekuler, tidak terlihat dalam dirinya. Terbukti, sampai akhir hayatnya, ia tercatat sebagai salah seorang penggerak di sebuah harakah yang bercita-cita melanjutkan kehidupan Islam.

Inilah catatanku untuk seorang lelaki yang belum pernah kukenal sebelumnya, belum pernah melihat wajahnya, namun kebaikannya membekas pada orang-orang dekatanya yang sempat aku temui. Selamat jalan, saudaraku. Semoga Allah mempersilakan jannah-Nya ditempati oleh engkau dan orang-orang yang mencintaimu.

Allâhummaghfi lahû wa-rhamhu wa'âfihi wa-'fu 'anhu. Allâhumma lâ tahrimnâ ajrahû walâ taftinna ba'dahu wa-ghfir lanâ walahû.

Condrowangsan, 30 Juni 2013

Selasa, Juni 25, 2013

Tidak Ada Paksaan dalam Agama



Syaikh Muhammad Asy-Syuwaikî ghafarallâhu lahu di dalam kitab Barâ`atul Millah al-Islâmiyyah min Iqtirâ`ât wa Adhâlîl al-Firqah al-Ahmâdiyyah al-Qadiyâniyyah (h. 244-246) menulis:

Adapun perkataan mereka untuk mengelabui manusia dengan menyatakan bahwa Islam tidak memperbolehkan menyulut peperangan untuk menyebarkan Islam. Mereka berdalih dengan sikap Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pada periode Makkah, serta dengan Firman Allah Ta’âlâ pada surat al-Baqarah ayat 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan apapun dalam agama.

Maka jawabannya dari banyak segi.

Pertama, talbis ini tidak mengubah apapun bagi kaum Muslimin, karena sesungguhnya sikap Nabi shallallallâhu ‘alaihi wasallam pada periode Makkah dengan bersabar atas gangguan orang-orang kafir Makkah terhadap beliau dan tidak memerangi mereka adalah sebelum hijrah dan mendirikan Daulah, serta sebelum diwajibkannya jihad ofensif, jihad defensif, serta jihad wiqâ`î. Adapun setelah hijrah, tidak ada argumentasi yang mendukung bagi seorang pun untuk meninggalkan jihad dengan maknanya yang syar’i, kecuali apabila ia tergolong orang-orang yang memiliki uzur syar’i, sebagaimana ditunjukkan oleh nas-nas Quran dan hadis-hadis, belum lama ini.

Kedua, adapun ayat tersebut, ia tidaklah turun dalam tema perang dan jihad, melainkan dalam perkara khusus yang dilakukan oleh orang-orang Arab sebelum Islam.  Ibnu Ishâq dan Ibnu Jarîr telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs –radhiyallâhu ‘anhu– tentang Firman Allah (لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ), ia berkata: (Turun berkenaan dengan seorang lelaki Anshâr dari Banî Sulaim ibn ‘Auf yang dipanggil dengan nama al-Hushain. Ia memiliki dua anak lelaki yang beragama Nasrani, sedangkan ia sendiri telah masuk Islam. Lalu ia bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam: Tidak bolehkah aku memaka keduanya? Sesungguhnya mereka mengabaikanku kecuali tetap memeluk agama Nasrani. Kemudian Allah menurunkan ayat itu dalam persoalan ini). Abû Dâwud, an-Nasâ`î, Ibnu Jarîr, dan yang lain meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata:

كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَكُونُ مِقْلَاتًا فَتَجْعَلُ عَلَى نَفْسِهَا إِنْ عَاشَ لَهَا وَلَدٌ أَنْ تُهَوِّدَهُ فَلَمَّا أُجْلِيَتْ بَنُو النَّضِيرِ كَانَ فِيهِمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ فَقَالُوا لَا نَدَعُ أَبْنَاءَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الْغَيِّ }

Pernah ada seorang perempuan yang anaknya yang dilahirkannya selalu meninggal, sehingga ia berjanji apabila ada salah seorang anak yang dilahirkannya hidup, ia akan meyahudikannya. Ketika Bani Nadhîr diusir, di antara mereka ada anak-anak kaum Anshâr, sehingga mereka: Kami tidak akan membiarkan anak-anak kami. Lalu turunlah ayat yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agama.

Apabila dikatakan bahwa ibroh diambil dari keumuman lafaz, bukan dari khususnya sebab, maka jawabannya: Keumuman ayat ini telah dikhususkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya yang mulia dalam persoalan memerangi para penyembah berhala, atau mereka masuk Islam. Allah Subhânahu di dalam surat al-Fath ayat 16:

سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).

Juga dikhususkan oleh Allah, memerangi Ahli Kitab atau mereka menyerahkan jizyah dan berhukum dengan syariat Allah. Itu terdapat di dalam surat at-Taubah, yang termasuk ayat terakhir yang turun dalam persoalan jihad. Allah Yang Mahasuci berfirman di dalam ayat 29:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.

Demikian pula, ayat ini dikhususkan oleh hadis yang telah lalu tentang tawaran kepada orang-orang kafir sebelum memerangi mereka, apakah mereka memilih Islam, membayar jizyah, atau diperangi.

Ayat ini juga dikhususkan oleh hadis al-Mughîrah radhiyallâhu ‘anhu dengan perkataannya kepada gubernurnya Kisra, sebagaimana terekam di dalam Shahîh al-Bukhârî:

فأمرنا نبينا رسول الله –صلى الله عليه وسلم- أن نقاتلكم حتى تعبدوا الله وحده أو تؤدوا الجزية
Nabi kami, Utusan Allah memerintahkan kepada kami untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah semata dan menunaikan jizyah.

Dengan semua itu, keumuman ayat tersebut harus dibawa kepada makna yang khusus untuk menghilangkan pertentangan.

Dengan mengumpulkan semua itu, maka harus dipahami bahwa nas-nas yang ada menunjukkan adanya perbedaan antara memaksa untuk masuk Islam dengan memaksa untuk membayar jizyah serta melaksanakan hukum. Pemaksaan yang pertama telah lewat dengan masuk Islamnya musyrikin jazirah Arab, dan yang kedua, tetap ada. Maka, kita tidak boleh memaksa seorang pun agar menjadi mukmin. Kita hanya boleh memaksa seseorang untuk membayar jizyah, kecuali Nabi ‘Îsâ ‘alaihissalâm yang berdasarkan sebuah hadis, beliau meniadakah jizyah di akhir zaman. Ini menurut pendapat yang menyatakan bahwa kata wadh’ di dalam hadis tersebut bermakna menutup.

Miliran, 25 Juni 2013

Jumat, Juni 21, 2013

Siapakah yang Mengajarkan Quran kepada Muhammad?



Siapakah yang Mengajarkan Quran kepada Muhammad?

Orang-orang musyrik Makkah menuduh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pengajaran Quran dari orang lain, sebagaimana terbaca dalam Surat an-Nahl [59]:10. Siapakah orang yang dimaksud? Syaikh Hisyâm al-Badrânî di dalam kitab Tabshirah al-Afhâm, yang merupakan catatan kaki kitab Nizhâmul Islâm, menjelaskan:

النحل / 103. أُختلفَ في اسمِ الشَّخصِ الذي قالوا إنَّما يُعَلِّمُهُ، فقيلَ: هو غلامُ الفَاكِهِ بنِ المغيرةِ واسْمهُ جَبْرٌ، كان نصرانيّاً فأسْلَمَ، قال القرطبيُّ: وذكرَ النقَّاشُ أن مولَى جَبْرٍ كان يضربهُ ويقول لهُ: أنتَ تُعَلِّمُ مُحَمَّداً، فيقولُ: لاَ واللهِ بل هو يُعلِّمنِي ويهديَني. وقيلَ اسْمهُ يعيشُ عبدٌ لبَنِي الحضرمِيِّ كان رسولُ الله r يُلَقِّنُهُ القُرْآنَ. وقيل نصرانيّاً بِمكَّة اسْمهُ بَلْعَامُ، وكان غُلاماً يقرأُ القُرْآنَ. أو رجُلاً كان بِمكَّة يقالُ له أبو مَيْسَرَةَ وهو نصرانِيٌّ يتكلَّم بالروميَّة. وقيل عَدَّاسُ غلامُ عتبةَ بنِ ربيعةَ. وقيل عَابِسُ غلامُ حُويطِبَ بنِ عبدِ العزَّى ويسارُ أبو فُكيهَةَ مولَى ابنِ الحضرميِّ، وكانا قد أسْلَمَا. وهكذَا. وكلُّ هؤلاءِ كان رسولُ الله r يجالِسُهم يعلِّمُهم الإسلامَ، قال النَّحَّاسُ، وهذه الأقوالُ ليست بِمتناقضةٍ - أيْ أنَّ هؤلاءِ بزعمِ العرب أنَّهم يعلمونَ الرسولَ r القُرْآنَ - لأنه يجوزُ أن يكونوا أَوْمَأوُاْ إلى هؤلاءِ جميعاً، وزعمُوا أنَّهم يعلِّمونهُ. وَالْعُجْمَةُ: الإِخْفَاءُ وهي خلافُ الإِبَانَةِ، والأَعْجَمُ مَنْ فِي لِسَانِهِ ضَعْفُ إِبَانَةٍ وهو الذي لا يُفْصِحُ سواءً كان من العربِ أمِ من العَجَمِ. وكذلك الأعْجَمُ أو الأعجميُّ المنسوبُ إلى العَجَمِ وإن كانَ فصيحاً.

Diperselisihkan tentang nama orang yang mereka tuduh bahwa Beliau mendapatkan pengajaran Quran darinya tersebut. Ada yang mengatakan: Ia adalah budaknya al-Fâkih ibn al-Mughîrah yang bernama Jabr. Dia dulunya adalah seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam. Al-Qurthubî menyatakan: an-Nuqqâsy menyebutkan bahwa tuannya Jabr sering memukulinya dan mengatakan kepadanya: Kamu mengajari Muhammad. Ia menjawab: Tidak. Demi Allah, Beliaulah yang mengajari dan menunjukiku. Ada pula yang mengatakan: Namanya adalah Ya’îsy, budak Bani al-Hadhramî, yang mana Rasulullah sering mentalqîn Quran kepadanya. Ada lagi yang mengatakan: Dia adalah seorang Nasrani yang tinggal di Makkah, namanya Bal’âm. Dia adalah seorang budak yang rutin membaca Quran. Atau seorang lelaki di Makkah yang dipanggil dengan sebutan Abû Maisarah; dia adalah seorang Nasrani yang berbicara dengan bahasa Romawi. Ada juga mengatakan bahwa dia adalah ‘Addâs, budaknya ‘Utbah ibn Rabî’ah. Juga ada yang menyebut ‘Âbis, budaknya Huwaithib ibn ‘Abdul ‘Uzzâ dan Yasâr Abû Fukaihah, mantan budak Ibnu al-Hadhramî. Keduanya telah masuk Islam. Demikianlah. Mereka semua adalah orang-orang yang bermajelis dengan Rasulullah dan Beliau mengajarkan Islam kepada mereka. An-Nahhâs mengatakan: Pendapat-pendapat ini tidak saling bertentangan –artinya, berdasarkan klaim orang-orang Arab, mereka semua mengajari Quran kepada Rasulullah– karena bisa saja orang-orang Arab itu mengisyaratkan kepada mereka semua yang telah disebutkan tadi, dan mengklaim bahwa mereka telah mengajari Beliau. Adapun yang ‘Ujmah (ke-‘ajam-an) adalah al-ikhfâ` ‘kesamaran’, lawan kata dari al-ibânah ‘kejelasan’. Al-A’jam adalah siapa saja yang bahasanya memiliki kekurangjelasan, yaitu tidak fasih; baik dari kalangan orang Arab maupun orang non-Arab. Demikianlah, al-A’jam atau al-A’jamî juga disematkan kepada orang non-Arab, meskipun fasih.

Dengan kenyataan tersebut, Allah Ta’âlâ membantah mereka di ayat yang sama. Dia Ta’âlâ berfirman:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sungguh Kami Mengetahui bahwa mereka mengatakan, Quran itu hanyalah ajaran yang diajarkan oleh seorang manusia. Bahasa orang yang dituduhkan kepadanya tersebut adalah A’jam, sedangkan Quran ini adalah bahasa Arab yang nyata. (an-Nahl [16]:103)

Berkaitan dengan ini, Syaikh Taqyuddîn an-Nabhânî di dalam Kitab Nizhâmul Islâm menulis:

Mengenai bukti bahwa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam menentukan darimana asal Al-Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Pertama, kitab itu adalah karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT. Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab, Al-Quran adalah berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya.

Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab, tidak dapat diterima. Sebab, Al-Quran sendiri telah menantang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat:

“Katakanlah: ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” (TQS. Hud [11]: 13).

Di dalam ayat lain: “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (TQS. Yunus [10]: 38).

Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, akan tetapi tidak berhasil. Hal ini membuktikan bahwa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, kendati ada tantangan dari Al-Quran dan mereka telah berusaha menjawab tantangan itu.

Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Muhammad SAW, juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Muhammad SAW adalah orang Arab juga. Bagaimanapun jeniusnya, tetap ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad —yang juga termasuk salah seorang dari bangsa arab— tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Karena itu, jelas bahwa Al-Quran itu bukan karangannya. Terlebih lagi dengan adanya banyak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Muhammad SAW -yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur- yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad SAW, disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadits. Namun, ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain, karena merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadits, berarti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Masing-masing dari keduanya terdapat perbedaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab —orang-orang yang paling tahu gaya dan sastra bahasa arab— pernah menuduh bahwa Al-Quran itu perkataan Muhammad SAW, atau mirip dengan gaya bicaranya.

Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahwa Al-Quran itu disadur Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: ‘Bahwasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non-Arab), sedangkan Al-Quran itu dalam bahasa arab yang jelas” (TQS. An-Nahl [16]: 103). Selesai kutipan.

Demikian, terbukti bahwa Quran bukan karya manusia. Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak mendapatkan pengajaran tentangnya dari manusia. Lalu dari siapa? Quran sendiri menjawabnya:

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2)

Ar-Rahmân. Dia telah mengajarkan Quran. (TQS. Ar-Rahmân [55]:2)


Potorono, 13 Sya’bân 1434 H/21 Juni 2013