Jumat, Oktober 27, 2017

PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR

PERUBAHAN UNDANG-UNDANG
Politisi sebuah partai yang tidak mau saya sebut namanya menyatakan:
“Yang pertama, kita sebagai warga negara harus percaya kepada pemerintah yang kita pilih secara langsung. Harus percaya. Jangan kita curiga terlalu berlebihan kepada pemerintah. Karena dia eksekutif. Dia eksekutif. Yang kedua, revisi. Revisi itu hal yang biasa secara norma. Jangankan undang-undang, undang-undang dasar juga bisa direvisi. Melalui mekanisme yang diatur oleh undang-undang dasar tentunya.”  (video youtube mulai menit 40:19).
Ada beberapa poin yang ingin saya tanggapi dari pernyataan di atas.
Pertama, keharusan percaya kepada pemerintah dengan alasan “karena dia eksekutif” adalah alasan yang tidak masuk akal. Selama pemerintah masih mengaku sebagai manusia, maka dia bisa salah. Umat memiliki tugas untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan pemerintah, terutama pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Tidak peduli dia berstatus eksekutif ataupun bukan. Kepercayaan terhadap pemerintah tidak tergantung statusnya sebagai eksekutif atau bukan, melainkan tergantung komitmennya terhadap syariat Allah. Komitmen itulah yang pada gilirannya akan mengarahkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Kebijakan-kebijakan yang bersifat sekuleristik wajib dicurigai, sebab secara sadar telah melanggar bahkan menentang prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa yang justru hendak dijaga.
Kedua, si politisi menyatakan sesuatu yang benar tetapi belum lengkap ketika dia berbicara tentang perubahan undang-undang. Bahwa undang-undang bisa direvisi adalah benar. Tetapi sengaja mengundang-undangkan dan menyetujui aturan yang sejak awal disadari memiliki cacat mendasar adalah batil dan amat sangat zalim. Sungguh orang-orang yang menyetujuinya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Bagaimana kalian akan menjawab kelak? Apakah kalian masih akan bisa berkelit bahwa perbuatan kalian itu agar undang-undang yang kalian sahkan secara zalim bisa direvisi, padahal dengan menolaknya pun kalian bisa melakukannya?
Ketiga, si politisi menyatakan bahwa undang-undang dasar pun bisa direvisi dengan mekanisme yang juga diatur oleh undang-undang dasar. Ini juga pernyataan yang benar. Dan patut diingat bahwa bab perubahan undang-undang dasar juga mengalami perubahan. Perubahan adalah hal yang wajar, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Setiap anak Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan adalah yang banyak bertaubat. Salah satu hal yang harus ditempuh untuk bertaubat memperbaiki dan tidak meneruskan kesalahan tersebut. Maka jika didapati kesalahan di dalam undang-undang dasar yang menyalahi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa beserta segala konsekuensinya, tidak perlu untuk melakukan perubahan itu.
Bumi Allah, 07 Shafar 1439 H/27 Oktober 2017 M 5:59 WIB

Shofhi Amhar, S.Th.I, M.A.


Minggu, Agustus 27, 2017

TAFÂWUT

TAFÂWUT

Kontradiksi adalah salah satu alternatif terjemah dari kata ‘tafâwut’ (rasm utsmâniyy: تفوت), sebuah kata yang hanya disebut sekali di dalam Alquran, yaitu di dalam surat äl-Mulk ayat 3. Di dalam ayat tersebut Allah menyatakan bahwa tidak akan ditemukan tafâwut di dalam ciptaan-Nya.

Kamus Bahasa Arab v2.0 (software) menyebutkan dua arti untuk kata ini, yaitu perbedaan dan selisih, setelah menyebutkan kata yang dianggap sinonim: ikhtilâf. Sedangkan bentuk fi’l dari kata ini, yaitu tafâwata diartikan berlainan dan berbeda.

Tafsîr äl-Jalâlayn menafsirkan kata tafâwut dengan tabâyun wa ‘adamu tanâsub. Tabâyun pada Kamus Bahasa Arab v2.0 bermakna perbedaan, (ke)berlawanan, dan kontradiksi. Tanâsaba (fi’l dari tanâsub) dimaknai bersesuaian dan bersamaan.

Muhammad Thalib (2012:726) menerjemah-tafsirkan kata ini dengan kekurangan, sementara Quraish Shihab (2010:562) memaknainya dengan ketidakseimbangan.

Sebagai perbandingan, Allah menyebutkan bahwa Dia ber-itqân atas segala sesuatu (än-Naml [27:88). Ayat ini adalah salah satu dasar pembuktian keberadaan Allah yang bisa dilakukan dengan mengamati alam semesta. Dengan kata lain, keberadaan sifat itqân dan ketiadaan tafâwut pada alam semesta membuktikan bahwa di balik ini semua ada Sang Pencipta.

Wa Ällâhu A’lamu.


Sedayu-Bantul-Mataram Islam, 05 Dzû äl-Hijjah 1438 H/27 Agustus 2017 M 

Jumat, Juli 21, 2017

BELAJAR BAHASA ARAB AL QURAN METODE “BACA SAJA!” (KURSUS BAHASA ARAB VIA WA) (Kontak: 0822.4252.2585 a.n. Abu Musa).

BELAJAR BAHASA ARAB AL QURAN METODE “BACA SAJA!” (KURSUS BAHASA ARAB VIA WA)

(Kontak: 0822.4252.2585 a.n. Abu Musa).

Anda bisa membaca Alquran dan rutin membacanya?

Anda bisa membaca Alquran, khatam berkali-kali, tetapi tidak memahami apa yang Anda baca, karena Bahasa Arab bukan bahasa keseharian Anda?

Anda ingin belajar Bahasa Arab dengan tujuan bisa mengeja makna kata-kata di dalam Alquran, tetapi tak tahu harus memulai dari mana?

Belajar Bahasa Arab Al Quran Metode “Baca Saja!” menawarkan solusi untuk orang-orang seperti Anda.

Sebab kami menyadari, Bahasa Arab adalah modal dasar untuk bisa memahami Al Quran.

Dan sebaliknya, Al Quran merupakan modal besar yang sudah Anda miliki untuk bisa memahami kaidah-kaidah Bahasa Arab yang dipilih Allah sebagai bahasa Kitab-Nya yang tidak ada keraguan ini.

Anda berminat? Hubungi kami. Kontak di nomer WA: 0822.4252.2585 (a.n. Abu Musa)

Kami menawarkan metode yang sederhana. Anda hanya perlu membaca. Target kami adalah Anda paham sejak pertama.

Metode ini kami siapkan sebagai teropong, untuk Anda yang ingin meraba tulisan gondrong.

Disajikan secara singkat di sebuah modul, perlahan-lahan Anda dibimbing untuk bisa meraba tulisan Arab gundul.

Metode ini, dengan izin Allah, akan memudahkan kita memahami kaidah-kaidah bahasa Arab. Insya Allah kita akan menyadari bahwa ternyata mempelajari kaidah bahasa Arab bisa dimulai dengan sangat sederhana. Dimulai dengan kitab suci berbahasa Arab yang dekat dengan Anda!

Hubungi kami di Nomer Kontak WA: 0822.4252.2585 (a.n. Abu Musa)

Persyaratan, waktu belajar, dll bisa langsung ditanyakan ke nomer di atas.


Bayar sekali saja, silakan belajar dengan modul kami seumur hidup, sepuas Anda, sampai Anda bisa!

Ttd

ABU MUSA

(Pendiri Metode Belajar Bahasa Arab BACA SAJA!)

WA: 0822.4252.2585

++++++++++

Mengapa belajar Bahasa Arab dengan Al Quran?

Buku yang sampul depannya saya tampilkan dalam tulisan ini adalah salah satu buku yang menginspirasi saya dalam mengembangkan Belajar Bahasa Arab Metode “Baca Saja!”. Pada Kata Pengatar Cetakan Ke-2, Prof. Dr. Salman Harun, penulis buku ini menulis:

“Banyak permintaan dari masyarakat, baik masyarakat umum maupun kalangan akademisi, terhadap buku ini. Perrmintaah itu dalam bentuk izin untuk memfotokopi, atau agar buku ini diterbitkan kembali. Alasan yang dikemukakan mereka antara: sangat menarik karena contohc-contohnya seluruhnya ayat-ayat al-Qur’an, tepat untuk diajarkan kepada pelajar, dan dua keuntungan yang diperoleh sekaligus, yaitu mengerti Bahasa Arab dan al-Qur’an, dan sebagainya.”

Pernyataan beliau yang lebih menginspirasi untuk mengembangkan modul Belajar Bahasa Arab Metode “Baca Saja!” ada di Kata Pengantar Cetakan Ke-1. Beliau nyatakan:

“Bila ditinjau tujuan-tujuan pengajaran Bahasa Arab yang pernah dirumuskan, akan ditemukan kenyataan bahwa tujuan itu tidak pernah menyimpang dari sasaran utama: agar pelajar mampu memahami Islam dari sumber aslinya, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Tetapi apa yang telah dikerjakan tampaknya tidak sejalan dengan sasaran yang hendak dicapai itu, terutama pada saat-saat terakhir. Hal itu karena Bahasa Arab yang diajarkan adalah Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi. Padahal bahasa itu jelas sekalig berbeda dari bahawa Qur’an dan Hadis.”

Dst.

Didasari oleh keprihatinan itu, Prof. Dr. Salman Harun lalu menyusun buku “Pintar Bahasa Arab Al-Quran; Cara Cepat Belajar Bahasa Arab Agar Paham Al-Quran.” Tebal materi utama buku ini hampir 350 halaman. Di dalamnya memaparkan Nahwu dan Shorof secara berselang-seling dengan contoh-contoh yang seluruhnya adalah ayat-ayat al-Qur’an.


Anda minat? Hubungi kami: 0822.4252.2585

Rabu, Juli 19, 2017

Belajar Bahasa Arab Metode "Baca Saja!"

Belajar Bahasa Arab Metode "Baca Saja!"

1. Peserta disyaratkan bisa membaca Alquran

2. Proses belajar bisa jarak jauh via WA (seluruh Indonesia) atau pertemuan langsung (area masih terbatas)

3. Biaya belajar jarak jauh:

a. Paket A: Rp 50.000,00 untuk satu modul

b. Paket B: Rp 100.000,00 untuk 3 modul
(setiap modul 8-12 halaman)

b. Biaya pertemuan langsung: Rp 50.000/pertemuan 60 menit.

Ketentuan Belajar Jarak Jauh

1. Modul dikirimkan via email, berbentuk pdf. Boleh dicetak dan diperbanyak oleh peserta

2. Kontrak belajar untuk setiap paket adalah mempelajari modul pada paket yang dipilih. Berlaku untuk seumur hidup.

3. Waktu belajar tidak ditentukan. Peserta bisa mengerjakan latihan-latihan yang diberikan oleh instruktur kapan saja dia mau.

4. Latihan idealnya dilakukan secara lisan, dengan cara: peserta merekam suara dan dikirimkan ke nomer WA instruktur

5. Instruktur bisa menambah latihan yang relevan yang sebisa mungkin diambil dari Alquran, sesuai dengan tujuan metode BACA SAJA!, yaitu membantu memahami makna Alquran.

Bantul, 24 Syawwāl 1438 H/18 Juli 2017 M 02.53

Ttd

Abu Musa

(Pendiri Metode Belajar Bahasa Arab "BACA SAJA!")

Kontak: 0822.4252.2585

Soal-Jawab Seputar Belajar Bahasa Arab

Soal-Jawab Seputar Belajar Bahasa Arab

Oleh: Shofhi Amhar, S.Th.I

Apa pentingnya mempelajari Bahasa Arab?

Mempelajari bahasa Arab sangat penting, karena Bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa Alquran. Sebagai orang Arab, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam juga bertutur dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mempelajari Alquran dan Hadis (Sabda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam) tidak dapat sempurna kecuali dengan mempelajari bahasa Arab. Mempelajari Alquran dan Hadis dengan menggunakan bahasa Arab bagaikan melihat panorama alam yang indah secara langsung, sedangkan mempelajari Alquran dan Hadis tanpa menguasai bahasa Arab, hanya melalui terjemahan saja, itu seperti melihat panorama keindahan alam melalui foto. Tentu jelas bedanya.

Apa saja yang perlu dipelajari dari Bahasa Arab?

Kemahiran bahasa itu ada empat: berbicara (takallum), menulis (kitâbah), memahami perkataan lisan (fahmul masmû’), serta memahami tulisan (fahmul maqrû`). Empat kemahiran ini perlu dimiliki. Akan tetapi, untuk kepentingan memahami Alquran dan Hadis, yang paling pokok untuk dikuasai adalah kemampuan memahami perkataan lisan dan tulisan (fahmul masmû’ wal maqrû`). Fahmul masmû’ wal maqrû` sendiri, terlebih dalam kaitannya dengan penggalian makna-makna serta rahasia-rahasia Alquran dan Hadis, membutuhkan dasar-dasar kaidah ilmu bahasa Arab. Ilmu tentang kaidah-kaidah Bahasa Arab inilah yang sangat perlu untuk dikuasai dalam rangka memahami Alquran dan Hadis lebih dalam.

Apa saja kaidah-kaidah Bahasa Arab itu?

Kaidah-kaidah Bahasa Arab dibagi menjadi banyak cabang. Namun yang paling mendasar adalah ilmu sharf (morfologi) dan nahwu (gramatika). Ilmu sharf adalah ilmu yang mempelajari susunan dan cara membaca huruf dalam kata beserta maknanya. Sedangkan ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari susunan kata dalam kalimat beserta kedudukan kata tersebut dan maknanya.

Jika harus memilih, mana yang sebaiknya dikuasai terlebih dahulu, Ilmu Sharf atau Ilmu Nahwu?

Dari dua cabang ilmu Bahasa Arab itu, secara prioritas, yang lebih dulu perlu dikuasai adalah ilmu sharf, karena berkaitan dengan penguasaan kosakata Bahasa Arab (mufradât). Orang-orang yang menguasai ilmu sharf bisa menguasai kosakata berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan orang-orang yang tidak menguasainya.

Bukankah menguasai kosakata juga penting?

Ya. Bukan hanya penting, bahkan sangat penting. Namun, menguasai kosakata bisa dilakukan dalam kerangka pembelajaran ilmu sharf. Jadi, mempelajari ilmu sharf tetap bisa dijadikan prioritas. Bahkan, penguasaan ilmu sharf sangat menunjang penguasaan kosakata. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, siapapun yang menguasai ilmu sharf bisa melejit dalam penguasaan kosakata.

Bagaimana cara mempelajari ilmu sharf?

Caranya adalah dengan mempelajari pola-pola kata. Pola-pola kata itu bisa dikenali dengan memahami akar katanya, imbuhannya, sisipannya, dan juga akhirannya, beserta syakal dan pengaruhnya masing-masing terhadap makna kata tersebut.

Buku apa yang bagus digunakan untuk mempelajari ilmu ini?

Saya belajar ilmu sharf pertama kali dengan menghafal pola-pola kata dalam buku al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah. Saya ingin menyebutkan, Bapak saya adalah orang yang pertama kali memperkenalkan buku yang luar biasa ini. Semoga Allah melimpahkan pahala yang terus mengalir kepada beliau karena jasanya tersebut.

Di bawah bimbingan Bapak, saya hanya mampu menghafalkan satu bab dari buku luar biasa yang juga disebut buku Tasrifan tersebut. Namun, manfaat dari menghafalkan timbangan-timbangan kata beserta contoh-contohnya itu bisa saya rasakan. Terlebih saat di akhir masa kuliah saya sempat mondok dengan bimbingan Ustadz Abdurrahim yang mengharuskan para santrinya menghafal buku ini.

Bukunya tebal?

Tidak. Justru bukunya sangat tipis.

Apakah mempelajarinya harus dengan dihafal?

Ya, sebaiknya dihafal. Akan tetapi, proses pembelajaraan yang hanya melulu menghafal berpeluang lebih cepat membuat jenuh. Tanpa ada upaya untuk menjelaskan faidah dari materi hafalan, orang akan merasa apa yang dilakukannya tidak ada manfaatnya. Padahal manfaatnya besar.

Lalu apa solusinya?

Solusi utamanya adalah tekad, kemauan, dan kesungguhan. Setiap kali semangat mengendur, ingatlah tentang pentingnya menuntut ilmu, manfaat menguasai bahasa Arab, kebutuhan kita untuk memahami Alquran dan Hadis, serta tak kalah pentingnya adalah ikut serta melestarikan dan membudayakan bahasa ini di tengah-tengah kaum muslimin.

Adakah solusi yang lebih bersifat metode?

Banyak metode belajar Bahasa Arab yang saat ini dikembangkan oleh para praktisi yang menggeluti dunia Bahasa Arab. Semuanya bisa dicicipi. Saya pribadi lebih memilih untuk mengembangkan buku semodel al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, tetapi dengan gaya pembelajaran membaca Alquran, semacam buku Iqra`, Qirâatî, dan sebagainya. Jadi, dengan metode itu, saya membayangkan belajar ilmu sharf bisa semudah belajar membaca Alquran dengan metode-metode yang saat ini berkembang.

Untuk tujuan itu, saya telah menyusun satu contoh modul pembelajaran ilmu sharf. Saya memberinya judul Tawsî’ al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah (Perluasan al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah). Modul sederhana itu telah saya perkenalkan di kelas bahasa Arab dewasa yang saya ampu. Tanggapannya positif. Para peserta belajar tidak merasa berat mempelajarinya.

Apakah metode itu ditujukan untuk orang dewasa saja?

Tidak. Saya merancang modul tersebut untuk semua orang yang sudah mengenal dan bisa membaca huruf hijaiyyah. Semua bisa memakai metode ini.

Idealnya berapa tahun seseorang bisa mulai belajar dengan metode ini?

Anak Taman Pendidikan Alquran (TPA) biasanya sudah bisa membaca Alquran dengan baik di usia berapa tahun? Itu saja patokannya. Kalau dia sudah pernah khatam Alquran, itu lebih bagus. Atau kalau mau pakai patokan umur, kelas 1 SMP, katakanlah, seharusnya sudah mulai belajar kaidah-kaidah sharf.

Saya dengar banyak anak-anak TPA yang tidak lagi meneruskan belajar setelah khatam Alquran. Saya berharap modul kami ini bisa menjadi alternatif pembelajaran lanjutan bagi anak-anak yang sudah memasuki Alquran. Lebih dari itu, saya berharap modul ini bisa menjadi salah satu solusi bagi siapapun yang berkeinginan untuk belajar bahasa Arab mulai dari dasar sekali.

Wallâhu A’lamu


Sedayu, Rabu, 27 Dzulhijjah 1437 H/29 September 2016 M 15.56 WIB