Tampilkan postingan dengan label buya hamka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buya hamka. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 16, 2012

Apa Kata Buya Hamka tentang Penistaan terhadap Nabi Muhammad?


Saat ini kaum Muslimin di seluruh dunia masih dalam suasana gelombang protes terhadap diizinkannya peredaran film Innocence of Muslims yang menghina Nabi Suci Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam. Alhamdulillah, di berbagai belahan negeri-negeri Islam, kaum Muslimin benar-benar mengekspresikan kecintaan mereka terhadap Nabi mereka, Imam para Nabi, yang setiap disebut namanya, bibir serta-merta mengucapkan doa agar kesejahteraan dan keselamatan senantiasa tercurah ke haribaannya.

Nabi Muhammad, Nabinya kaum Muslimin, yang diutusnya ke muka bumi tidak lain adalah sebagai rahmat bagi semesta alam, justru banyak dihujat dan dilecehkan. Tidak hanya masa-masa ini, melainkan sejak dahulu kala, sejak beliau mendakwahkan risalah dari Sang Pemilik alam. Penghinaan demi penghinaan itu terus berlanjut, hingga saat ini.

Jadi, penghinaan terhadap Nabi oleh orang-orang kafir terjadi sejak Nabi masih hidup, masa para khalifah, hingga saat ini ketika kaum Muslimin tidak lagi memiliki khalifah. Hanya saja, di saat Nabi masih hidup dan ketika kaum Muslimin masih memiliki negara Khilafah, orang-orang kafir perlu berpikir berulang-ulang kali untuk menghina Nabi, karena pada saat itu mereka akan mendapat reaksi yang semestinya secara efektif. Berbeda halnya dengan saat ini, di mana penguasa-penguasa negeri Islam lebih banyak diam melihat penghinaan demi penghinaan terhadap seseorang yang mereka akui sebagai Nabi. Malah ada di antara mereka yang mendahulukan pembelaan terhadap pemuka negara kafir harbi yang menjadi korban protes yang dilakukan oleh kaum Muslimin.

Meski demikian, Alhamdulillah, di tengah ketiadaan Khilafah, sejarah mencatat beberapa kisah kepahlawanan individu Muslim dalam membela kehormatan Nabinya. Di antara rekaman sejarah mengenai hal ini bisa disimak dari penuturan Buya Hamka di dalam Tafsir al-Azhar Juz XVIII halaman 236-240, yaitu ketika memaparkan kandungan surat an-Nûr ayat 63. Berikut penuturan beliau selengkapnya:

Jumat, Juni 29, 2012

Borobudur dan Prambanan, Bukti Penjajahan atau Kejayaan? (1)


(Diskusi Facebook; dari HAMKA, Penerapan Syariat Islam, Sinkretisme, Penjajahan, hingga Majapahit)

Pengantar

Diskusi ini terjadi di status facebook saya (Mugi Paring Kertapati). Pernyataan Buya HAMKA yang saya jadikan status itu rupanya menarik perhatian beberapa orang, termasuk seseorang yang menamakan dirinya Anwar Nashir. Seperti terlihat dalam komentar-komentarnya, baginya, Islam adalah Arab, sehingga kalau ada orang yang mengkampanyekan penerapan syariat Islam secara murni dan konsekuen, dia akan menganjurkan yang bersangkutan untuk bertani kurma dan beternak unta. Padahal tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan keduanya. Berbeda halnya dengan wajibnya penerapan syariat Islam, keharaman sinkretisme, dan lain-lain; semua ada dalilnya.

Bagaimana pun, dalam diskusi ini saya mendapat pengetahuan baru yang disuntikkan oleh ustadz Arif Wibowo tentang bahwa sebenarnya Borobudur adalah simbol penajajahan atas penduduk tanah Jawa. (di bagian 2). Sedangkan untuk Prambanan, memerlukan penjelasan di lain kesempatan.

Selamat menikmati