Rabu, November 06, 2013

Penggunaan Kata Ganti ‘Kami’ untuk Orang Pertama Tunggal Menunjukkan Pengagungan

استخدام المتكلم ضمير (نحن) دليل علة تعظيمه
Penggunaan Kata Ganti ‘Kami’ untuk Orang Pertama Tunggal Menunjukkan Pengagungan

السبت 2 رجب 1424 - 30-8-2003 
Sabtu, 2 Rajab 1424 – 30/8/2003

رقم الفتوى: 36693
Nomor Fatw: 36693

Klasifikasi: Seleksi Tafsir Ayat

السؤال
Soal

ما حكمة استعمال الضمير (نحن) في الآيات القرآنية التالية؟ - (نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ). - (إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا). - (أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنْ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ). - (أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ). والسلام عليكم.

Apa hikmah penggunaan dhamîr (nahnu) [kata ganti ‘kami’] dalam ayat-ayat berikut ini?

(نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ) [الإنسان, 76:28]

[نحن: kami, خلقنا : kami telah ciptakan, و: dan, شددنا: kuatkan, أسر: anggota badan, هم: mereka]

(إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا) [الإنسان, 76:23]

[إِنَّا : sesungguhnya kami, نحن: kami, نزلنا : kami telah turunkan, عليك : kepadamu, تنزيلا: penurunan]

(أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنْ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ) [الواقعة, 56:69]

[أ : apakah, أنتم : kalian, أنزلتموه : kalian menurunkannya, من : dari, المزن : awan yang berair, أم : ataukah, المنزلون : para penurun (yang melakukan usaha penurunan)]

(أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ) (الواقعة, 56:59)
[تخلقونه : kalian menciptakannya, الخالقون : para pencipta]

Wassalâm.

الإجابــة

Jawaban

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد: فالضمير (نحن) جمع (أنا) من غير لفظه، وهو يستخدم في الأصل لجماعة المتكلمين من الذكور، ولجماعة الإناث أو لهما معاً، فيقول الذكور: نحن مسلمون، وتقول الإناث: نحن مسلمات. فإذا استخدم المتكلم المفرد ضمير الجمع (نحن) كان ذلك دليلاً على تعظيم المتكلم نفسه، واستخدام الضمير (نحن) في الآيات المذكورة في السؤال مع أن المتكلم واحد وهو الله سبحانه للدلالة على تعظيم الله لنفسه، وهو بحق صاحب العظمة والجلال. والله أعلم.

Alhamdu lillâhi washshalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâhi wa ‘alâ âlihi washahbihi ammâ ba’du:

Dhamîr (Nahnu) adalah jamak dari (Ana), pada asalnya digunakan untuk orang-pertama-banyak laki-laki maupun perempuan atau keduanya secara bersamaan. Para lelaki bisa mengatakan: Nahnu muslimûn (kami adalah orang-orang muslim). Para perempuan juga bisa mengatakan: Nahnu muslimât. Jika orang pertama satu orang menggunakan kata ganti jamak (Nahnu), hal itu menunjukkan bahwa orang pertama tersebut memuliakan dirinya sendiri. Dan penggunaan Dhamîr (Nahnu) di dalam ayat-ayat yang tersebut di dalam pertanyaan, padahal yang berbicara adalah satu, yaitu Allah yang Mahasuci, itu untuk menunjukkan pengagungan Allah kepada Diri-Nya Sendiri. Dialah yang hakikat-Nya memiliki keagungan dan kebesaran. Wallâhu A’lamu.

Sabtu, November 02, 2013

Khutbah Jumat: Halqah Ideologis dan Pendidikan Keluarga

Siswa SMP yang berzina di depan teman-temannya, direkam kamera, ada juga yang ‘menjual’ sebayanya kepada para lelaki hidung belang. Juga data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan  Perempuan dan Anak (PT2TP2A) Jawa Barat yang menyebutkan sekitar 7000 remaja putri di bawah usia 18 tahun menjadi pelacur, 28% di antaranya masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Tampaknya perzinaan menjadi hal yang biasa saja bagi sebagian remaja. Padahal, zina termasuk salah satu dosa besar. Bahkan Allah menyandingkan pelaku zina dengan pelaku syirik. Lelaki pezina tidak akan berzina kecuali dengan perempuan pezina atau wanita musyrik. Demikian pula perempuan pezina tidak akan dizinai oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. Sedangkan kaum mukminin tidak akan melakukannya. Demikian sebagaimana yang dipahami dari Surat an-Nur ayat 3.

Kondisi semacam itu tentu sangat memprihatinkan. Salah satu sebab maraknya tindakan asusila oleh para remaja adalah kurangnya kesadaran hubungan dengan Allah di dalam diri mereka. Mereka telah dijauhkan dari pemahaman bahwa amal setiap manusia semestinya diikat dengan syariat. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam mengajarkan bahwa amal apa saja yang tidak ada ketetapannya, ia tertolak. Kaidah tentang perbuatan menyebutkan bahwa hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syar’i.

Secara praktis, ketika hendak melakukan suatu perbuatan, seorang muslim mencari tahu tentang hukum perbuatan tersebut, apakah wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram. Jika wajib, akan dijalankan. Jika haram, akan ditinggalkan. Seorang muslim minimal melakukan dua hal tersebut; menjalankan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Jadi, ketika telah menginjak usia baligh, semestinya seorang muslim sudah mengetahui apa saja yang wajib dan apa saja yang haram. Dalam kaitannya dengan remaja masa kini, bagaimana mungkin mereka memahami hal-hal tersebut, jika di rumahnya mereka tidak diajari, sedangkan di sekolah pun tidak bisa diharapkan.

Maka, alangkah baiknya jika di setiap rumah seorang ada kajian, minimal sepekan sekali, yang bisa difokuskan untuk membahas tafsir, hadis, atau pemikiran Islam, fikih halal-haram, dan sebagainya. Dengan begitu, diharapkan akan tumbuh suasana keilmuan di dalam setiap rumah, yang pada gilirannya akan membentuk pola pikir, pola jiwa, serta sikap yang sesuai standar kepribadian Islam.

Tetapi itu pun rasanya belum cukup. Sebab, pergaulan di tengah-tengah masyarakat yang tidak Islami seperti saat ini bisa merusak apa saja yang telah susah-payah dibangun di dalam rumah. Karenanya, melakukan upaya untuk mengubah masyarakat pun harus dilakukan. Tentu diperlukan ilmu. Dalam rangka itulah, kami telah mengadakan kajian-kajian yang bisa diikut oleh seluruh kaum muslimin. Kami mengajak dan memfasilitasi siapa saja muslim yang peduli dan ingin mengkaji persoalan ini, untuk bergabung dengan halqah-halqah yang kami adakan setiap pekan. Kami mengundang para jamaah sekalian untuk mempelajari Islam lebih dalam dan mendiskusikan persoalan-persoalan keumatan, sehingga dengan itu kita bisa berperan serta dalam menyelamatkan generasi muda  dari bencana dunia dan akhirat yang mengancam mereka.

Dimodifikasi dari khutbah Jumat di Masjid Dalilatul Iman, 27 Dzulhijjah 1434 H/01 Oktober 2013 M


Miliran, 28 Dzulhijjah 1434 H/02 Oktober 2013 M 06:15 WIB

Minggu, Oktober 20, 2013

SAINS VS AGAMA; Dunia Sekuler selalu mempertentangankannya

SAINS VS AGAMA; Dunia Sekuler selalu mempertentangankannya.


Ada yang menarik perhatian saya hari ini. Seperti pada kuliah tadi, di dalam dua artikel yang saya baca barusan juga ditemukan persoalan ketidakjelasan definisi. Di situs ini, ada dua artikel dari dua orang Doktor (Dr. Wendi Zarman dan Dr. Ioanes Rakhmat). Doktor pertama (pegiat proyek Islamisasi Sains) tampaknya memang belum begitu gamblang dalam mengungkapkan konsepnya. Beliau juga tidak mengemukakan definisi sains yang dimaksudkannya. Adapun Doktor kedua (aktivis Kristen Liberal, mantan pendeta), tampak gegabah melakukan kritik tanpa memahami apa yang dikritiknya. Semua itu berawal dari ketidakselarasan istilah Sains yang digunakan keduanya.

KamusBesar Bahasa Indonesia versi daring menyediakan tiga makna untuk sains, sebagai berikut:

1 ilmu pengetahuan pd umumnya; 2 pengetahuan sistematis tt alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb; ilmu pengetahuan alam; 3 pengetahuan sistematis yg diperoleh dr sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yg mengarah pd penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yg sedang diselidiki, dipelajari, dsb.

Jika yang dimaksudkan Dr. Wendi adalah arti pertama, maka kritikan Dr. Iones sebetulnya tidak tepat benar dan terlihat terlalu percaya diri dalam menyampaikan kritik sebelum jelas konsep pihak yang dikritiknya. Padahal, arti pertama inilah yang tampaknya sedang dipaparkan Dr. Wendi. Jika demikian, proyek Islamisasi Sains adalah wajar adanya, karena ajaran Islam juga mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik ontologi, epistemologi, maupun aksiologi.

Sayangnya, Dr. Wendi tidak menyebut contoh-contoh yang memadai. Beliau hanya menyebutkan contoh (a) “pesawat Islam, komputer Islam, dan teknologi berlabel Islam”, (b) “sains yang dimulai dengan bismillah”, serta (c) “mencocok-cocokkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penemuan sains mutakhir kemudian mengklaim bahwa Islam telah lama mengungkap hal tersebut”, -yang sebenarnya merupakan sebagian suara miring dari para pengkritik Islamisasi Sains- dan mengomentarinya dengan menyatakan: “meskipun sebagian dari yang disebut di atas termasuk bagian dari sains Islam itu sendiri, tapi karena disampaikan dengan olok-olok maka semua hal tersebut terdengar menggelikan”, tanpa menunjukkan mana yang termasuk ke dalam cakupan proyek Islamisasi Sains ini. Padahal, pernyataan beliau: [sebagian ... termasuk bagian dari sains Islam itu sendiri] menunjukkan bahwa sebagian lain dari contoh tersebut tidak termasuk.

Kalau boleh nglancangi, saya ingin memposisikan tiga poin (a), (b), dan (c), dalam kacamata Islamisasi Sains (dengan pengertian sains adalah ilmu pengetahuan pada umumnya). Contoh-contoh yang dikemukakan tersebut dalam Islamisasi Sains berposisi sebagai berikut:

Poin (a) saya sangsi bahwa contoh seperti ini yang sedang diusung para pegiat Islamisasi Sains. Saya berharap, ini tidak termasuk bidang garap yang dikehendaki oleh para pengusung Islamisasi Sains dalam mazhab apapun. Saya menduga itu hanya olok-olokan murni dari para pengkritik gagasan ini, sebagai kritik membuta. Kritik membuta tidak terlalu penting ditanggapi.

Poin (b) “sains yang dimulai dengan bismillah”, mungkin maksudnya, sains yang proses penelitian dan penemuannya diawali dengan mengucapkan bismillah (secara harfiah) atau bisa juga penelitian itu dimaksudkan untuk menyibak keagungan Allah, memberi kemaslahatan pada manusia dengan berbagai penemuan teknologi untuk lebih berbakti kepada Allah, dan sebagainya (sebagaimana spirit yang bisa diambil dari wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad, yang bermakna: Bacalah dengan Nama Rabbmu yang menciptakan!). Dengan maksud seperti ini, maka apa yang dipersilakan oleh Dr. Ioanes “umat Islam memakai astronomi untuk keperluan menentukan waktu ibadah, matematika untuk menghitung warisan, dst” yang disebutnya sebagai “moral Islam dalam pemanfaatan sains” tentu saja termasuk Islamisasi Sains, karena memang Islam mengajarkan ilmu pengetahuan tentang bagaimana menentukan waktu ibadah, menghitung warisan, dan lain-lain. Dalam dunia pemikiran, ini masuk ke dalam diskursus aksiologi.

Poin (c) ini pembahasannya agak panjang. Sepertinya empat seri terjemahan kang Irfan Habibie Martanegara (dari http://www.hamzatzortzis.com/essays-articles/exploring-the-quran/does-the-quran-contain-scientific-miracles-a-new-approach/) berikut ini cukup relevan:



Ini jika yang dimaksudkan oleh Dr. Wendi sebagai sains adalah ilmu pengetahuan pada umumnya. Dan tampaknya inilah yang memang beliau maksudkan, dengan bukti pernyataan:

“Wacana sains Islam adalah wacana yang sangat filosofis yang berakar dari pemikiran mengenai hakikat ilmu di dalam Islam” dst.

Jadi, Islamisasi Sains yang dimaksud bukan sekedar makna kedua dan ketiga dari definisi sains menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, melainkan juga berbicara dalam tataran filosofis. Cocok dengan arti sains yang pertama, yaitu ilmu pengetahuan pada umumnya.

Mafhûm ‘anil Asyyâ dan Mafhûm ‘anil Hayâh

Kini kita beralih pada makna sains yang kedua, yaitu pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb atau singkatnya disebut ilmu pengetahuan alam. Tampaknya, dengan bermodal arti sains seperti inilah, Dr. Ioanes menanggapi artikel Dr. Wendi. Perhatikan pernyataannya berikut ini:

Yang ingin saya temukan, misalnya matematika Islam, atau astronomi Islam, ilmu ukur Islam, ilmu kedokteran Islam, dll, apakah akan bisa ada dlm dunia ini? Misalnya, menurut ilmu ukur Islam, sudut siku-siku bukan 90 derajat, tapi 97 derajat, sudut lingkaran bukan 360, tapi 357 derajat.

Jika seperti itu yang diinginkan, maka keinginan Dr. Ioanes tidak akan pernah terwujud. Seorang muslim paling brilian sekalipun tidak akan pernah bisa menemukan sudut siku-siku yang bukan 90 derajat, sudut lingkaran 357 derajat, dan sebagainya. Dan memangnya para pegiat Islamisasi Sains ada yang berpikir hendak melakukannya? Kalau ada, saya pribadi termasuk yang menyayangkannya, dan termasuk yang akan menolaknya. Ilmu alam seperti ini berkaitan dengan mafhûm ‘anil asyyâ`, bukan mafhûm ‘anil hayâh, sehingga standar validitasnya adalah ketepatannya dengan fakta itu sendiri dan tidak harus melibatkan penggalian dalil-dalil qawliyah yang diakui oleh Islam, melainkan cukup dengan dalil-dalil ilmiah yang ditemukan di alam.

Ustadz Mahmud Abdul Karim Hasan dalam Metode Perubahan Sosial Politik (judul asli: at-Taghayyur Hatmiyyah ad-Dawlah al-Islâmiyyah, http://www.4shared.com/get/zCXgMFu2/___.html) menyatakan sebagai berikut:

“Pemahaman itu ada dua macam: Pertama, pemahaman akan sesuatu (mafâhîm ‘anil asyyâ`), yaitu qanâ’ât (penerimaan dengan puas) atas hukum-hukum yang bersumber dari sesuatu itu sendiri. Seperti kita yang mengatakan: Api itu bisa membakar, racun itu membunuh, dan minuman keras itu memabukkan, atau daging dapat dimakan dan tanah tidak dapat dimakan. Atau banyak tekanan akan melahirkan ledakan atau bahwa masyarakat merupakan sekumpulan orang yang terikat oleh interaksi mereka terus-menerus. Atau kebangkitan tidak akan terwujud kecuali dengan pemikiran yang cemerlang. Pemikiran-pemikiran jenis ini sifat-sifat dan hukumnya bersumber dari (realita) objeknya. Hal itu bisa benar dan bisa juga salah, tergantung sesuai atau tidak dengan realita sesuatu itu. Dalam berbagai keadaan, pemikiran itu akan menjadi mafâhîm (pemahaman-pemahaman) bagi orang yang membenarkannya. Perbuatan-perbuatan manusia itu terikat dengan pemahamannya akan sesuatu. Orang yang yakin bahwa makanannya beracun, ia tidak akan menyentuhnya sekalipun ia lapar. Orang yang haus akan mencari air, bukannya yang lain. Orang yang ingin mabuk akan mencaru khamr, bukannya yang lain.

Kedua, pemahaman akan kehidupan (mafâhîm ‘anil hayâh), yaitu qanâ’ât atau hukum-hukum yang bersumber dari luar sesuatu yang dibahas. Seperti kita mengatakan bahwa shalat itu wajib, penipuan itu haram, khamr itu haram, pembunuhan itu haram, dan sebagainya. Hukum-hukum itu bukan bersumber dari sesuatu atau perbuatan itu sendiri (bukan bersumber dari shalat, penipuan, khamr, pembunuhan, dsb.) sesuatu atau perbuatan itu sendiri hanyalah merupakan objek pembahasan atau fakta yang dihukumi. Sedangkan sumber hukumnya (mashâdir al-hukm) adalah sesuatu yang lain.

Pernyataan kita bahwa minuman keras (khamr) itu memabukkan adalah sifat atau karakteristik khamr itu sendiri. Itu merupakan hukum atas sesuatu itu sendiri sesuai dengan realitasnya. Sedangkan pernyataan kita bahwa khamr itu haram, merupakan hukum atas sesuatu di mana hukumnya berasal dari Allah, pihak yang berwenang menjadikan sesuatu itu haram ataukah halal.

Perbuatan manusia terikat pula dengan pemahamannya akan kehidupan. Jika pemahamannya atas sesuatu mengatakan bahwa daging babi bisa dimakan dan bisa menghilangkan rasa lapar, maka itu berarti pemahaman atas sesuatu sesuai realitasnya (mafhûm ‘anil asyyâ`). Sedang pemahamannya akan kehidupan (mafhûm ‘anil hayâh) mengatakan bahwa daging babi haram untuk dimakan, yakni wajib dijauhi. Orang yang memahami hukum tersebut dan ia membenarkannya, maka itu akan menjadi pemahaman bagi dirinya yang tentu akan mempengaruhi perbuatannya, yaitu akan mencegahnya menghilangkan rasa lapar dengan daging babi.

Jika seseorang memiliki pemahaman bahwa patung atau berhala berpengaruh terhadap keamanannya , rizki, dan nasib baiknya; atau bahwa orang yang telah meninggal memiliki pengaruh terhadap dirinya, maka ia akan diliputi perasaan takut, khusyu’ terhadap berhala dan ia akan berdoa memohon perlindungan kepada orang yang telah meninggal. Sebaliknya orang yang tidak membenarkannya maka ia tidak akan segan-segan untuk menghinakan berhala dan menyalahkan orang-oran yang memohon keselamatan kepada orang-orang yang telah meninggal.

Demikianlah, sesungguhnya perbuatan manusia tergantung pemahaman-pemahamannya akan sesuatu (mafâhîm ‘anil asyyâ`) dan pemahaman-pemahamannya akan kehidpa (mafâhîm ‘anil hayâh). Apa yang kadang-kadang terjadi pada sebagian orang, yaitu lemahnya keterikatan terhadap pemahaman, adalah akibat lalai terhadap pemahaman-pemahamannya atau akibat lenyapnya pemahaman yang ia miliki karena banyak sebab yang menimpa mereka.”

Sok Tahu tentang Agamawan

Selain terlalu pede menafsirkan konsep Islamisasi Sains, Dr. Ioanes Rakhmat juga terlihat sok tahu tentang agamawan. Ketika menyebut agamawan, dan yang dikomentarinya adalah seseorang yang beragama Islam, tentu yang dikehendaki oleh Dr. Ioanes mencakup juga para tokoh di antara kaum muslimin. Meski konsep agamawan sejatinya tidak dikenal dalam Islam, tetapi bukan tempatnya membahas persoalan itu di sini.

Masuk ke materi kritik. Saya kutip pernyataan Dr. Ioanes:


Tetapi ada perbedaan sikap antara para agamawan dan para saintis ketika mereka masing-masing menatap pada kebesaran jagat raya dan misteri-misterinya. Para agamawan berusaha keras untuk menjaga misteri-misteri alam, yang diyakini mereka sebagai misteri-misteri ilahi yang tak boleh ditembus dan tak akan bisa dijelaskan; sebaliknya, para saintis justru terdorong kuat untuk menyibak dan menembus semua misteri alam, tentu saja secara bertahap dan dengan tak kenal lelah.


Dr. Ioanes keliru -atau tidak sepenuhnya benar- ketika menyatakan: Para agamawan berusaha keras untuk menjaga misteri-misteri alam, yang diyakini mereka sebagai misteri-misteri ilahi yang tak boleh ditembus dan tak akan bisa dijelaskan. Bahkan dalam kontek Islam sebagai yang dikomentari, pernyataan itu sepenuhnya salah.


Saya tidak tahu dalam agama lain, tetapi dalam Islam, sama sekali tidak ada kewajiban bagi agamawan untuk berusaha keras untuk menjaga misteri-misteri alam apalagi menganggapnya sebagai tak boleh ditembus dan tak akan bisa dijelaskan.


Kekeliruan lain dari IR adalah ketika menyatakan: Agama memakai epistemologi revelatif fideis: sesuatu diterima benar jika bersumber dari wahyu (Latin: revelationem) yang diterima hanya dengan iman (Latin: fidem), tanpa bukti.


Kentara sekali IR trauma dengan sejarah Kristen (mantan agama yang dianutnya). Jika komentar tersebut ditujukan khusus untuk Kristen, itu adalah urusannya dengan para agamawan Kristen. Tetapi untuk kasus Islam, jelas IR salah besar. Kekeliruannya kali ini adalah karena -sebagaimana kekeliruan kaum sekuler maupun agamawan non-Islam, karena mengartikan iman (=kredo?) dari kacamata tradisi Barat, sehingga menganggap tidak memerlukan bukti. Iman adalah sesuatu yang harus dipercaya dan diyakini tanpa intervensi akal apapun.


Hal itu jelas berbeda dengan Islam. Iman di dalam Islam, oleh Syaikh Taqyuddin an-Nabhani, didefinisikan sebagai: Pembenaran yang bersifat pasti yang sesuai dengan kenyataan berdasarkan bukti (Tashdîqul jâzim al-muthâbiq lil wâqi' 'an dalîl). Bahkan taklid (sebagai simbol penganutan konsep tanpa proses pembuktian) dalam persoalan akidah dianggap rawan diserang keraguan. Padahal tidaklah disebut iman apabila tersusupi ragu.

Sekarang, apa lagi yang tersisa dari komentar Dr. Ioanes terhadap ide Islamisasi Sains? Jika masih ada yang tersisa, sudilah kiranya untuk menyebutkan.


Miliran, 14 Dzulhijjah 1434 H/19 Oktober 2013 M 02:31

Senin, Oktober 14, 2013

Pembahasan (1) Tharîqul Îmân

Pembahasan (1) Tharîqul Îmân

Hisyâm al-Badrânî
(dalam Tabshirah al-Afhâm, Qirâ`ah fî Kitâb Nizhâm al-Islâm)

a. Tharîq : adalah jalan yang dilalui. Contoh penggunaannya, Firman Allah ‘Azza wa Jalla (Thâhâ:77):

}طَرِيْقاً فِي الْبَحْرِ{

Tharîq di dalam laut

Artinya, jalan di dalam laut yang dilalui oleh sekelompok orang agar selamat dari tenggelam. Dari makna seperti ini kemudian dipinjam untuk setiap tempat berjalan yang dilalui manusia dalam melakukan perbuatan terpuji maupun tercela. Jamak dari kata ath-tharîq adakah athriqah dan thuruq; bisa di-mu`annats-kan dan di-mudzakkar-kan, sehingga bisa dikatakan: tharîqah, dan tharâ`iq. Istilah tharîqatul qawm, maknanya adalah orang-orang terpilih, terbaik, serta rujukan pandangan (ahlu ra`yi) mereka. Makna seperti ini terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla (al-Jin:11):

:}كُنَّا طَرَائِقَ قِدَداً{

Artinya, kami terpecah dalam golongan yang berbeda-beda. Tharîqah juga bermakna sunnah (tradisi) dan madzhab. Tharîqah-nya seseorang, berarti yang dipegangnya dalam pandangan, pemikiran, dan keyakinan. Al-Kisâ`î mengatakan: (dengan tharîqah kalian, berarti dengan tradisi dan jalan kalian). Orang-orang Arab berkata: fulân ‘alâ ath-tharîqah al-mutslâ, artinya ‘si fulan berada di atas petunjuk yang lurus (hudan mustaqîm)’. Maka, ath-tharîq dalam tempat ini bermakna ‘jalan yang dilalui dalam membentuk pemikiran, akidah, dan agama untuk sampai kepada arahan Sayyidina Rasul Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam serta Sunnahnya, agar konsisten dengan ketetapan Islam’.

b. Adapun Îmân, berasal dari kata dasar (amina). Al-Amnu bermakna: tenangnya jiwa dan hilangnya ketakutan. Pada beberapa kesempatan, kata îmân digunakan sebagai nama dari syariat yang dibawa oleh Sayyidina Rasul Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (al-Baqarah:62):

}إنَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى والصَّابِئِينَ{

Atribut ini digunakan untuk menyifati siapa saja yang masuk ke dalam syariatnya, dengan mengakui Allah dan kenabian beliau (Nabi Muhammad). Di kesempatan yang lain juga digunakan sebagai pujian yang dimaksudkan untuk menundukkan jiwa kepada kebenaran (al-haqq) dengan jalan pembenaran (tashdîq); atau membangun pondasi pembenaran dengan penyerahan diri. At-Tashdîq bermakna ‘menerima pemikiran dan keyakinan setelah melakukan pergolakan rasional (munâza’ah ‘aqliyyah) yang dibangun di atas dalil’. At-Taslîm adalah menerima pemikiran, keyakinan, hukum, dan pendapat tanpa penyanggahan.

الْمَبْحَثُ (1) طَرِيْقُ الإيْمَانِ
آ. الطَّرِيْقُ: هو السَّبِيْلُ الذي يُسْلَكُ، ومنهُ قول اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: }طَرِيْقاً فِي الْبَحْرِ{([1]) أي سَبِيْلاً فِي الْبَحْرِ يَسْلُكُهُ الْقَوْمُ لِلنَّجَاةِ مِنَ الْغَرَقِ. وعنه اسْتُعِيرَ كُلُّ مَسْلَكٍ يَسْلُكهُ الإنسانُ في فعلٍ محمودٍ كان أو مذمُوماً. وجمعُ الطريقِ (أطْرِقَةٌ) و (طُرُقٌ)، ويؤنَّثُ ويذكَّرُ، ويقالُ: طَرِيْقَةٌ، وَطَرَائِقُ. وطريقةُ القومِ أماثِلُهُم وخِيَارُهُمْ وأهلُ الرَّأيِ فيهم وفيهِ قولهُ عَزَّ وَجَلَّ:}كُنَّا طَرَائِقَ قِدَداً{([2]) أي فِرَقاً في الرَّأْيِ مختلفِين. والطَّرِيْقَةُ السُنَّةُ والْمَذْهَبُ؛ وطريقةُ الرجُلِ مذهبهُ في الرأي والفكْرِ والمعتقدِ، قال الكسائيُّ: (بِطَرِيْقَتِكُمْ، بِسُنَّتِكُمْ وَسِمَتِكُمْ) وتقولُ العربُ: فلانٌ على الطريقةِ الْمُثْلَى؛ يعنونَ على هُدًى مُسْتَقِيْمٍ. فالطريقُ في هذا المقامِ السبيلُ الذي يُسلك في نَهْجِ الفكرِ والمعتقد والدِّينِ للوصول إلى هَدْيِ سيِّدنا الرَّسُولِ مُحَمَّدٍ r وسُنَّتهِ في الاستقامةِ بأمرِ الإسلام([3]).
ب. أما الإِيْمَانُ: فهو من الأصلِ (أَمِنَ)، والأمنُ طُمَأْنِيْنَةُ النَّفْسِ وَزَوَالُ الْخَوْفِ، ويستعملُ الإيْمانُ تارةً اسْماً للشَّريعةِ التي جاءَ بِها سَيِّدُنَا الرَّسُول مُحَمَّدٌr، قال اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: }إنَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى والصَّابِئِينَ{([4]) ويوصفُ به كلِّ مَن دخلَ في شريعتهِ مُقِرّاً باللهِ وبنبوَّتِهِ. ويستعملُ تارةً على سبيلِ الْمَدْحِ ويرادُ به إذعانُ النفسِ للحقِّ على سبيلِ التَّصديقِ؛ أو تأسِيساً على سبيلِ التَّصديقِ بالتَّسليمِ، وَالتَّصْدِيْقُ: قَبُولٌ للفكرِ والمعتقد بعد منازعةٍ عقليَّة يقومُ لَها الدليلُ، وَالتَّسْلِيْمُ: قَبُولٌ للفكرِ والمعتقد والحكمِ والرَّأيِ من غيرِ منازعةٍ.





([1]) طـه / 77.
([2]) الجن / 11.
([3]) ينظر: القرطبي: الجامع لأحكام القرآن:ج 11 ص220، ج 19 ص18-19، والراغب: المفردات في غريب القرآن، والقاموس المحيط، ومختار الصحاح مادة (طرق).
([4]) البقرة / 62.

Minggu, September 29, 2013

EMPIRISME VS RASIONALISME

EMPIRISME VS RASIONALISME

by Irfan Habibie Martanegara on Monday, December 26, 2011 at 6:54am

???? ********shared Satrio *******'s status update.
Satrio *******
But super smart theist (read: Aristotle parrot), if it is possible for God to exist uncreated, then surely it is also possible for the universe to exist without it being created?
Like · · Unfollow post · Share · Friday at 20:35 ·
Didu ***** likes this.

Irfan Habibie Martanegara
saya coba jawab ya. universe yang kita lihat saat ini sifatnya impersonal. sedang tuhan didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki personalitas. ciri personalitas tuhan adalah punya kehendak.

dari sains kita bisa ketahui bahwa alam semesta ini sekarang ini dimulai dengan big bang. sebelum big bang alam semesta ini berupa suatu titik singular yang katanya vakum tapi massa yang besar dan volume yang sangat kecil. konsep waktu belum ada saat itu.

pertanyaannya bagaimana bisa sesuatu yang impersonal (tidak punya kehendak) itu meledak (melakukan perubahan) padahal sebelumnya dia tetap seperti itu? perubahan alam semesta menunjukkan adanya personalitas yang merupakan ciri dari tuhan.

gimana?
Friday at 21:07 · Like

Satrio *******
Semua yang berubah di dunia ini punya kehendak... Apakah ini berarti matahari punya kehendak, pantat saya yang kentut punya kehendak, bumi berrevolusi punya kehendak? Seandainya yang penting adalah perubahan dari kondisi diam ke bergerak atau ke diam lagi, apakah seandainya sebuah asteroid menabrak Jupiter, dengan kata lain dari bergerak menjadi diam, maka asteroid itu punya kehendak?

Dan... ummmmmm.... kalau konsep waktu tidak ada ya berarti kata "sebelumnya" tidak ada artinya sama sekali.

Lagipula itu jawaban yang menghindari asal argumennya. Kita tidak membicarakan apakah sesuatu bisa berubah dan bagaimana ia berubah. Kita mempertanyakan: Kalau kita bertanya mengapa segala sesuatu harus ada penyebabnya, kenapa bukan pertanyaan sahih untuk menanyakan apa penyebab adanya Tuhan?

Kalau menggunakan jawaban ngelesnya Aristoteles, karena kita harus stop di satu titik. Oke. Stop di big bang. Kenapa itu tidak valid?
Friday at 22:07 · Like

Irfan Habibie Martanegara
semua yang ada di alam semesta ini ga bisa lepas dari hukum alam. perubahan yang terjadi pada matahari, bumi, pantat itu ga lepas dari hukum alam. asteroid bergerak sesuai dengan hukum alam dan hukum alam pula jupiter bergerak karena tabrakan asteroid.

kalau pakai logika aristoteles pertanyaannya kenapa asteroidnya bergerak, apa penggerak asteroid, kemudia penggerak asteorid itu siapa yang menggerakkan dan seterusnya, hingga berhenti di suatu titik.

oke lah saya coba rapikan ulang argumennya.
premis 1: setiap yang bergerak digerakkan oleh yang lain.
premis 2: konsep ketakterhinggaan adalah konsep yang tidak eksis dalam dunia natural kita.

kalau berhenti pada big bang, melanggar premis 1. kalau tidak ada ujungnya, melanggar premis 2.

kesimpulan: alam semesta ini pertama kali digerakkan oleh sesuatu yang berasal dari luar dunia natural.
Friday at 22:19 · Like

Satrio *******
Wait what ini super konyol 2012. Premis 1 dan 2 hanya melahirkan kesimpulan itu kalau ada premis 3: Ada dunia di luar dunia kita.

Dan bukti ilmiah apa sih yang membuktikan premis 1 & 2? Pengamatan sehari-hari?

Siapa yang menggerakkan "sesuatu dari luar dunia natural"? Kenapa dia tidak tunduk pada prinsip premis 1: Setiap yang bergerak digerakkan oleh yang lain?
Friday at 22:25 · Like

Irfan Habibie Martanegara
sesuatu di luar dunia kita adalah keharusan logis jika premis satu dan dua benar. sesuatu itu harus ada untuk menggerakkan pertama kali alam semesta ini. keberadaannya tidak dibuktikan secara empiris, tapi rasional.

sebelum dibahas lebih lanjut yang lain2nya. kita perlu sepakati dulu premis satu dan dua. bagaimana menurut anda?
Friday at 22:32 · Like

Satrio *******
What is this I don't even... Dunia lain dibuktikan dengan rasional? WHAT? Ini pemikiran scholastic yang sudah "membuktikan" bahwa seluruh benda angkasa mengorbit bumi dengan orbit berbentuk lingkaran... Kita tidak boleh membuktikan adanya sesuatu dengan hanya pemikiran "rasional", sebelum ada bukti empiris ya itu hanya sekedar postulat saja, bukan pasti nyata. Keberadaan fisik yang niscaya itu omong kosong.

Saya tidak tahu. Tidak ada bukti. Premis 1 dan 2 bukan pernyataan yang dibuktikan kebenarannya secara filosofis, tapi secara empiris.

Premis 2 tampaknya tidak benar.

Tidak ada alasan kenapa alam semesta ini tidak dapat sepenuhnya langgeng. Saya masih tidak yakin ide bahwa suatu saaat akan ada Great Contraction itu valid.

Beberapa partikel hampir sama sekali tidak terpengaruh oleh gravitasi dan gaya-gaya lainnya (misalnya neutrino). Neutrino yang ditembakkan dari bumi akan terus dan terus dan terus berjalan. Apakah alam semesta ini ada batasnya? Kita tidak tahu, tapi tidak ada alasan kenapa alam semesta ini harus ada batasnya.
Friday at 22:42 · Like

Irfan Habibie Martanegara
ok. saya bahas premis dua dulu. kalau kita berjalan lurus terus kita mungkin bisa berjalan tiada henti. artinya mungkin akan ada akhir yang tak terhingga. tapi ini adalah ketakterhinggaaan potensial, bukan aktual. sebab saya harus MULAI berjalan. nanti ada great contraction kemudian ada big bang lagi, kemudian kontraksi lagi kemudian meledak lagi dan seterusnya itu mungkin, tapi harus ada big bang pertama agar proses tersebut berjalan.

(ini mungkin yang juga menjelaskan mengapa surga dan neraka, kalo ada, itu secara potensial abadi)
Friday at 22:48 · Like

Satrio *******
No. Ketika dikatakan bahwa saya harus MULAI berjalan untuk membuat sesuatu yang tidak terhingga, ini sudah asumsi.

Contoh: set bilangan ini juga tidak terhingga:

(...,-4,-3,-2,1,0,1,2,3,...)

Set ini tidak punya awal, tidak punya akhir. Nah, sekarang set bilangan tentu saja merupakan sesuatu yang abstrak. Tapi adakah BUKTI bahwa sesuatu yang tidak terhingga harus dimulai di dunia nyata? Atau ini hanya asumsi?
Friday at 23:05 · Like

???? ********
(seru melihat percakapan ini)
Saturday at 07:12 · Like

Irfan Habibie Martanegara
mungkin saya perlu sedikit perjelas tentang tak terhingga potensial. tak terhingga potensial itu tiap kita berhenti untuk mengukur waktu pasti jumlahnya terhingga. mungkin sangat besar saat itu tapi tetap saja terhingga.

dan saya kira yang justru anda yang harus membuktikan jika memang ada sesuatu yang tak terhingga secara aktual, bukan potensial, di dunia natural ini.

tapi baik saya coba buktikan bahwa alam semesta ini harus memiliki awal dengan menggunakan analogi.

misalkan saya adalah seorang tentara yang sedang latihan menembak. saya baru diperkenankan menembak bila tentara di samping saya menembak dan tentara tersebut juga baru diperkenankan menembak setelah tentara di sebelahnya lagi menembak. begitu seterusnya.

pertanyaannya akankah saya pernah kebagian giliran menembak bila di samping saya ada sejumlah tak terhingga tentara? tidak. saya tidak akan dapat giliran menembak. saya baru akan dapat giliran menembak jika sebelum saya ada sejumlah tertentu saja tentara meski jumlahnya sangat banyak.

nah sekarang pertanyaannya, akankah kita bisa berdiskusi sekarang saat ini bila sejarah masa lalu alam semesta itu tak terhingga? tidak. bahkan bumi pun tidak akan pernah dapat giliran untuk terbentuk bila sejarah alam semesta sebelumnya itu tak terhingga.
Saturday at 07:36 · Like

Irfan Habibie Martanegara ‎
????, maaf ya menuhin wallnya.
Saturday at 07:36 · Like

Satrio *******
Analogi aneh. Hanya ada sejumlah tentara di dunia ini, tentu saja ini bukan set yang tak terhingga. Yang menyebabkan analogi ini tampak tidak masuk akal bukan properti sesuatu yang tidak terhingga, melainkan properti jumlah manusia yang masih ada, yang tentu saja terbatas. Jadi analogi ini pun bukan aktual melainkan abstrak.

Kenapa ini bukan set yang tidak valid?

(..., -3,-2,-1,0)

Again, ini asumsi lagi. Cara berpikir tentang set ini begini: kenapa saat ini saya menembak? Karena sebelum saya ada yang menembak dan seterusnya.

Kalau pertanyaannya dibalik, ya ini sama konyolnya dengan mengetes set (1,2,3,...) Dengan "sebelum ~ itu (~ minus 1) ya?". Absurd. ~ bukan bilangan
Saturday at 08:23 · Like

Satrio *******
Sekali lagi, saya menolak untuk mengklaim apakah premis 1 atau 2 benar. Meskipun saya duga keduanya salah, ini pembuktian yang sama sekali tidak ilmiah. Premis 1 dan 2 hanya bisa benar atau salah secara empiris, tidak secara rasional.
Saturday at 09:49 · Like

Irfan Habibie Martanegara
mmm, kalau mau lanjut diskusi kita perlu beralih bicara epistemologi. menurut anda apa rasionalitas itu bisa jadi sumber pengetahuan atau tidak? jika ya, kapan rasionalitas itu bisa dipakai?
Saturday at 14:32 · Like

Satrio *******
Rasionalitas dipakai dalam hal membuktikan suatu pernyataan secara logika formal benar atau tidak. Apakah pernyataan itu berkorespondensi dengan kenyataan itu urusan sains ilmiah, bukan urusan rasio. Kecuali dalam theisme, saya tidak pernah mendengar bahwa sesuatu itu "niscaya" ada. Wtf does that even mean? Bahwa zebra itu "pasti" ada itu tidak ada artinya. Argumen keniscayaan eksistensi ini cuma selundupan saja, karena dalam membicarakan eksistensi logika yang dipakai seharusnya logika ilmiah yang induktif, bukan deduktif. Kesimpulannya adalah "more probable than not" bukan "pasti".

Masalah dari kedua premis ini adalah rasionalitasnya saja sangat aneh. Dari tadi tidak ada deduksi yang membuktikan bahwa premis 1 dan 2 benar. Yang ada hanya analogi yang aneh dan keniscayaan "common sense". Tidak perlu mundur sampai epistemologi segala.
Saturday at 14:47 · Like

Irfan Habibie Martanegara
mmm, saya sekarang ini hanya membaca tulisan anda. saya tidak pernah bertemu dengan anda sebelumnya. tapi saya yakin anda eksis hanya dari tulisan ana. dan saya merasa anda itu "pasti" ada, tidak hanya sekadar "mungkin" ada.

Saturday at 15:58 · Like