Sabtu, Januari 26, 2013

Pembagian Waris Sama Rata Atas Dasar Kesalingrelaan Tidak Otomatis Halal


Pengantar

Pada tanggal 17 Januari 2013, saya menyebarkan tautan tulisan berjudul Kesalingrelaan dalam Pembagian Waris ke beberapa grup di jejaring sosial Facebook. Hari ini, Sabtu, 26 Januari 2013, tulisan yang saya terjemahkan dari http://www.islamweb.net tersebut mendapat tanggapan dari Ustadz Azizi Fathoni –hafizhahullâh. Sebuah tanggapan yang sangat bermanfaat. Saya menilai, apa yang beliau kemukakan dapat menjadi penyempurna bagi tulisan sebelumnya. Jika setelah membaca artikel terdahulu Anda membaca kesan bahwa membagi waris pada asalnya adalah suka sama suka, sehingga tidak menganggap belajar ilmu waris yang syar’i adalah tidak penting dan mendesak, maka penjelasan beliau di bawah ini in syâ`allâh bisa menjadi obat.
Semoga Allah meridhai kita semua.

Isi Dialog

Mugi Paring Kertapati
http://alfariyani.blogspot.com/2013/01/kesalingrelaan-dalam-pembagian-waris.html
---
Al-Fariyani; Muslim Pembelajar: Kesalingrelaan dalam Pembagian Waris
alfariyani.blogspot.com
Like · · Unfollow post · Share · 17 January at 08:50

    Azizi Fathoni Akhi Mugi Paring Kertapati: setelah saya tahqiq, saya punya pandangan sedikit berbeda dengan fatwa syaikh di atas. Menurut saya membagi harta waris dengan sama rata sekalipun dengan keridhaan para ahli waris belum tentu halal. perlu dilihat dulu:

    Jika mereka tahu bagian-bagian mereka menurut ilmu faraidh, namun mereka yang mendapat bagian lebih merelakan kelebihan bagiannya untuk dibagikan secara merata sebagai pemberian (hibah), maka yang seperti ini mubah.

    Jika mereka tahu bagian-bagian mereka menurut ilmu faraidh, namun mereka merasa pembagian secara syar'i tersebut tidak atau kurang adil sehingga lebih memilih pembagian secara sama rata, maka yang demikian ini haram. Karena menganggap pembagian sama rata sebagai yang lebih adil daripada ketetapan Dzat yang mahaadil.

    Jika mereka tidak tahu bagian-bagian mereka menurut ilmu faraidh, yang demikian ini langsung haram. karena keridhaan mereka bukan didasarkan pada ilmu terhadap hak-hak ahli waris yang telah ditetapkan oleh syara', dengan menganggap bagian sama rata itu sebagai asal pendapatan mereka dari harta waris. mereka berdosa karena kebodohannya terhadap ketetapan Allah swt.

    wallaahu ta'aalaa a'lam
    5 hours ago · Edited · Unlike · 3
    
Mugi Paring Kertapati jazâkumullâhu khayran, tadz. iya, saya juga ada terpikir mengenai beberapa konsekuensi yang saya agak kurang sreg dari fatwa syaikh tersebut.
    7 hours ago via mobile · Like
    
Azizi Fathoni sekarang sudah sreg?
    7 hours ago · Like
    
Mugi Paring Kertapati oya, tadz, berkenanlah kiranya antum menyertakan dalil dan wajhul istidlal dari apa yang antum paparkan di atas. syukran.
    7 hours ago via mobile · Like
    
Mugi Paring Kertapati perlu tahqiq untuk benar-benar sreg. hehe,
    setidaknya tafshil yang antum lakukan bisa mengobati beberapa tanda tanya saya.
    7 hours ago via mobile · Edited · Like
    
Azizi Fathoni argumen untuk point pertama: bahwa tidak halal harta seseorang bagi saudaranya kecuali berdasarkan kerelaan pemiliknya. lihat khutbah Nabi saat haji wada.

    argumen untuk point ke-dua: berpaling dari hukum Allah kepada selainnya dengan disertai keyakinan bahwa hukum selain hukum Allah tersebut lebih baik dari hukum Allah bisa menjadikan kafir seseorang. ini berlaku umum, termasuk di dalamnya ketetapan waris.

    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [المائدة/50]
    meyakini ada yang lebih baik dari ketetapan Allah berarti menyalahi nash tersebut.

    argumen untuk point ke-tiga: pewarisan adalah di antara sebab kepemilikan yang sah. asal daripada bagian waris adalah apa yang telah Allah tetapkan. ridha terhadap ketetapan selain ketetapan Allah padahal itu menyelisihi ketetapan Allah adalah haram, meski didasari ketidak tahuan, karena ketidaktahuan tidak termasuk apa-apa yang menjadikan seorang mukallaf terangkat pena hisabnya.
    7 hours ago · Edited · Unlike · 1
    
Mugi Paring Kertapati mengenai 'ketidaktahuan tidak termasuk hal yang menjadikan seorang mukallaf terangkat pena hisabnya', kalau boleh, saya minta tambahan penjelasan.
    6 hours ago via mobile · Like
    
Azizi Fathoni dispensasi syara' itu kan ada 6, terangkum dalam dua hadits nabi.
    1. masa sebelum baligh, kondisi tidur, dan kondisi gila/tidak sadar.
    2. ketidaksengajaan, lupa, dan kondisi terpaksa/dipaksa.

    orang yang bodoh tidak termasuk yang terbebas dari dosa karena ketidaktahuannya - ini berbanding lurus dengan kewajiban menuntut 'ilmu, tentunya yang dimaksud adalah 'ilmu syari'at islam.
    5 hours ago · Edited · Like
    
Mugi Paring Kertapati bukankah orang yang tahu tetapi melakukan maksiat, dosanya lebih besar dibandingkan orang yang melakukan maksiat karena ketidaktahuannya?
    5 hours ago via mobile · Like
     
Azizi Fathoni ya benar. tapi yang tidak tahu kan tetap dosa, hanya saja yang sudah tahu lebih berat dosanya.
    5 hours ago · Edited · Unlike · 1
     
Mugi Paring Kertapati oke. in syâallâh akan saya rangkai dialog kita ini sebagai pelengkap penjelasan syaikh di atas.
    syukran, tadz.
    5 hours ago via mobile · Like
     
Azizi Fathoni maksudnya?
    5 hours ago · Like
     
Mugi Paring Kertapati maksudnya, penjelasan antum ini mau saya unggah di blog, terus disebarkan lagi seperti link di atas, agar menjadi penjelasan bagi yang lain.
    4 hours ago via mobile · Like · 1


Kamis, Januari 17, 2013

Kesalingrelaan dalam Pembagian Waris

السؤال

هل تقسيم الإرث بين الأبناء بالطريقة الشرعية واجب أم هو ضروري فقط عند عدم التراضي بمعنى هل يجوز إعطاء الأنثى مثل حظ الذكر إذا رضي الإخوة الذكور بذلك ؟
جزاكم الله خيرا.
الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فإن طابت نفوس الأبناء الذكور البالغين الرشداء بتسوية أخواتهم معهم في التركة فلا حرج في ذلك إذ العبرة بالتراضي في تقسيم المواريث وطيب نفوس أصحاب الحقوق بما أعطوا من حقهم للأخوات ، وأما التقسيم للتركة حسب ما شرع الله فهو فريضة من الله إن طلب كل وارث حقه الشرعي ، وراجع الفتوى رقم : 66504 ، والفتوى رقم : 63730 ، والفتوى رقم : 63459 ، والفتوى رقم : 30897 ، والفتوى رقم : 53064 ، والفتوى رقم : 58649 .

والله أعلم .

Sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&lang=A&Id=71278&Option=FatwaId

Soal:

Apakah pembagian waris di antara anak-anak dengan jalan syar'i adalah wajib, ataukah ia hanya harus ketika tidak adanya saling ridha? Artinya, apakah boleh memberikan bagian kepada perempuan sama dengan bagian kepada laki-laki apabila saudara-saudara laki-lakinya setuju tentang hal itu? Jazaakumullaahu khayran.
 
Jawab:

Alhamdulillaah washshalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah wa 'alaa aalihi washahbihi, ammaa ba'd:

Apabila anak-anak lelaki yang telah baligh, cerdas, suka rela untuk mendapat bagian sama dengan saudari-saudarinya di dalam harta warisan, maka tidak ada halangan dalam hal itu, karena melalui jalan kesalingrelaan dalam pembagian harta-harta warisan dan kebesaran hati orang-orang yang berhak mengenai hal yang mereka berikan kepada saudari-saudari mereka. Adapun pembagian waris adalah fardhu dari Allah apabila setiap ahli waris meminta hak syar'inya. Rujuk fatwa no. 66504, 63730, 63459, 30897, 53064, serta 58649.

Wallaahu A'lam.

Kamis, Desember 06, 2012

Hukum Asal Air adalah Suci

Hukum Asal Air adalah Suci

2/2 – وَعَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ». أَخْرَجَهُ الثَّلاَثَةُ, وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ.

Kosa Kata

عَنْ
رَضِيَ
أَبِيْ (أَبُوْ)
صَحَّحَ
وَ
Dari

(Dia telah) meridoi
Bapaknya …
Mensahihkan
Dan
طَهُوْر
المَاء
رَسُوْل
قال
هُِ/ـهُِ
Sangat suci

Air
Utusan
(Dia telah) berkata
-nya
الثَّلاَثَةُ
أَخْرَجَ
شَيْء
يُنَجِّس
لا
(yang) tiga
Merilis/mengeluarkan
Sesuatu
Menajiskan
Tidak

Penjelasan Sanad

01.  Abû Sa’îd adalah Sa’d ibn Mâlik ibn Sinân al-Khudrî al-Anshârî al-Khazrajî. Mengikuti 12 peperangan bersama Nabi. Perang perdana yang diikutinya adalah perang Khandaq pada tahun 5 H. Sebelumnya ia masih kecil. Ia banyak memiliki hafalan ilmu dari Nabi, serta termasuk ulama dan pemuka kalangan Anshâr. Wafat pada tahun 73 H dan dimakamkan di pemakaman Baqî’. (Minhatul ‘Allâm, hlm. 29)
02.  Beliau adalah seorang Sahabat Nabi. Sa’îd ibn al-Musayyab menyatakan bahwa Sahabat Nabi adalah orang yang bersahabat dengan beliau selama satu atau dua tahun atau pernah berperang bersama beliau sebanyak satu atau dua kali peperangan. (asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah al-Juz` al-Awwal, hlm. 324)
03.  Hadis ini di-takhrîj (dirilis) oleh ats-Tsalâtsah (Tiga). Maksudnya adalah Abû Dâwud, at-Tirmidzî, dan an-Nasâ`î. [Istilah yang dipakai oleh Ibnu Hajar dalam kitab kitab Bulûghul Marâm adalah sebagai berikut: as-Sab’ah (Tujuh) adalah Ahmad, al-Bukhârî, Muslim, Abû Dâwûd, Ibnu Mâjah, at-Tirmidzî, dan an-Nasâ`î). As-Sittah (Enam) adalah mereka (yang tersebut) kecuali Ahmad. Al-Khamsah adalah mereka (yang tersebut) kecuali al-Bukhârî dan Muslim—terkadang dikatakan al-Arba’ah wa Ahmad (Empat dan Ahmad). Al-Arba’ah (Empat) adalah mereka (yang tersebut) selain tiga Imam yang pertama. Ats-Tsalâtsah adalah mereka (yang tersebut) selain tiga yang pertama dan satu yang terakhir. Muttafaq ‘alaihi (Disepakati) adalah al-Bukhârî dan Muslim; kadang-kadang rawi lain tidak disebut jika sudah disebut keduanya. Adapun rawi selain itu akan ditegaskan nama rawinya.] (Lihat Bulûgh al-Marâm, hlm. 9-10; Tarjamah Bulughul Maram, hlm. 28). Hadis ini juga di-takhrîj oleh Imam Ahmad.
04.  Salah satu jalur sanad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَقَالَ أَبُو أُسَامَةَ مَرَّةً عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَالنَّتْنُ وَلُحُومُ الْكِلَابِ قَالَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

05.  Abû Usâmah adalah Hammâd ibn Usâmah. Al-Walîd ibn Katsîr adalah al-Makhzûmî (dari suku Makhzûm). Sedangkan Muhammad ibn Ka’b adalah al-Qurazhî (dari suku Quraizhah). ‘Ubaidullâh ibn ‘Abdirrahmân ibn Râfi’ dinyatakan majhûl (tidak dikenal) oleh Ibnu Mandah. Di dalam kitab Taqrîb at-Tahdzîb, al-Hâfizh Ibnu Hajar menyatakan: Mastûr, sedangkan rijâl yang lain tsiqât, tergolong rijâl-nya syaikhain. Ibnu Hibbân menyebutkan biografinya (‘Ubaidullâh) di dalam kitab ats-Tsiqât, sebagai berikut:
[ 3904 ] عبيد الله بن عبد الله بن رافع بن خديج يروى عن أبيه روى عنه سليط بن أبي أيوب مات سنة إحدى عشرة ومائة وهو بن خمس وثمانين سنة وكنيته أبو الفضل
06.  Al-Mizzî menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau mensahihkannya. Ibnu Hajar menambahkan bahwa hadis ini disahihkan pula oleh Yahyâ ibn Sa’îd dan Abû Muhammad ibn Hazm. At-Tirmidzî mengatakan: Abû Usâmah membawakan hadis ini dengan (sanad) paling baik. Tidak seorang pun yang meriwayatkan hadis tentang sumur Budhâ’ah dari Abû Sa’îd yang lebih baik dari Abû Usâmah. Padahal hadis ini diriwayatkan tidak hanya dari satu jalur dari Abû Sa’îd. Menurut at-Tirmidzî, hadis ini sahih; derajatnya tidak jatuh karena pencacatan seorang periwayatnya. (Minhatul ‘Allâm, hlm. 30)

Penjelasan Matan
07.  Huruf ال dalam kalimat الماء طهور berfaidah lil istighrâq ‘alâ al-azhhar (mencakup sebagian besar). (Minhatul ‘Allâm, hlm. 31). Dengan demikian, maknanya adalah setiap air adalah sangat suci. Istilah thahûr dalam dalam istilah ahli fikih dimaknai sebagai thâhir muthahhir (suci lagi menyucikan—bisa digunakan untuk bersuci).
08.  Kata شيء dalam frasa لا ينجسه شيء adalah isim nakirah (kata benda indefinitive). Isim nakirah dalam bentuk kalimat negatif (nafî) bermakna umum, sehingga bermakna segala sesuatu. Frasa لا ينجسه شيء dengan demikian bermakna: Tidak dinajiskan oleh segala sesuatu. Zhâhir-nya, hadis ini bermakna bahwa air itu tidak menjadi najis dengan bercampurnya sesuatu apapun ke dalamnya, baik sesuatu itu sedikit ataupun banyak, juga meskipun sifat-sifatnya berubah. (Minhatul ‘Allâm, hlm. 31)
09.  Akan tetapi, keumuman makna tersebut di-takhshîsh. Imam an-Nawawî mengatakan: Ketahuilah bahwa hadis sumur Budhâ’ah itu umum yang menerima takhshîsh. Di-takhshîsh darinya, air yang berubah karena najis, maka ia najis berdasarkan Ijmâ’. Di-takhshîsh pula darinya, air (yang banyaknya) di bawah dua qullah jika bercampur dengan najis. Maka yang dimaksud (dengan Air dalam hadis ini) adalah air yang banyak yang sifatnya tidak berubah karena najis tidaklah dinajiskan oleh sesuatu pun. Demikianlah sifat sumur Budhâ’ah. Wallâhu A’lam. (Minhatul ‘Allâm, hlm. 31). Kiai Hassan Bandung menyatakan: Hadits ke 2 (yaitu hadis ini, pen.) muthlaq atau tidak terbatas, ya’ni, air pembersih yang di dalam satu bijana, umpamnya, tidak bisa najis walaupun dicampur dengan sebanyak-banyaknya kencing atau tahi, umpamanya. Yang demikian ini tidak bisa jadi, bahkan perlu ada pembatasnya. (Tarjamah Bulughul Maram, hlm. 30)
10.  Hadis ini termasuk jawâmi’ul kalim[], karena menunjukkan bahwa seluruh air, seperti air laut, air sungai, air sumur, air hujan, adalah suci dan tidak dapat dinajisi oleh sesuatu pun. Ini adalah hukum asal air, yaitu suci, sampai diketahui najisnya. (Minhatul ‘Allâm, hlm. 31). [Dalam sebuah hadis yang antara lain dinyatakan oleh Imam al-Bukhârî, Nabi bersabda bahwa beliau diutus dengan jawâmi’ul kalim. Maksudnya bahwa terdapat makna yang kaya di dalam sabda beliau yang sedikit. (Fathul Bârî, (6/165)—al-Maktabah asy-Syâmilah)]
11.  Ayat-ayat yang relevan dengan tema air antara lain surat al-Furqân: 38 dan al-Mu`minûn: 18.

Daftar Pustaka
‘Abdullâh ibn Shâlih al-Fauzân. Minhatul ‘Allâm fî Syarh Bulûgh al-Marâm. Juz 1. Dâr Ibn al-Jauzî, Damâm, 1427.
A. Hassan. Tarjamah Bulughul Maram. Penerbit Diponegoro Bandung, 2011.
Abû Hâtim Muhammad Ibnu Hibbân Ibn Ahmad at-Tamîmî al-Bustî. Ats-Tsiqât.
Ibnu Hajar al-‘Asqalânî. Fathul Bârî [al-Maktabah asy-Syâmilah]. http://www.al-islam.com
__________________. Bulûghul Marâm min Adillah al-Ahkâm. Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, Jakarta.
Taqyuddîn an-Nabhânî. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah al-Juz` al-Awwal. Dârul Ummah, Beirut – Lubnân, 2003.

Senin, Oktober 22, 2012

الشرط


قال الشيخ تقي الدين النبهاني –رحمه الله تعالى- في الشخصية الإسلامية الجزء 3:
الشرط
الشرط هو ما كان وصفا مكملا لمشروطه فيما اقتضاه ذلك الشروط, أو فيما اقتضاه الحكم في ذلك المشروط. فالحول في زكاة النقد مكمل لملكية النصاب, قهو شرط في ملكية النصاب حتى تجب فيه الزكاة, فيكون مما اقتضاه المشروط, والإحصان في رجم الزاني المحصن مكمل لوصف الزاني, فهو شرط في الزاني حتى يجب عليه الرجم, فيكون مما اقتضاه المشروط. والوضوء مكمل لفعل الصلاة فيما يقتضيه الحكم فيها, فهو شرط في الصلاة, وهو مما اقتضاه الحكم في ذلك المشروط, وستر العورة شرط لفعل الصلاة فيما يقتضيه الحكم فيها, فهو شرط في الصلاة وهو مما اقتضاه الحكم في المشروط, وهكذا سائر الشروط. وهو أي الشرط, مغاير للمشروط؛ لأنه وصف مكمل له وليس جزءا من أجزائه, وبهذا يختلف عن الركن؛ لأن الركن جزء من أجزاء الشيء, وليس مفصلا عنه, ولا يقال عن الركن أنه مغاير للشيء, أو مماثل له؛ لأنه جزء من أجزائه. أما الشرط فلا بد أن يكون مغايرا للشيء, وأن يكون في نفس الوقت مكملا له. وقد عرف الشرط بأنه ما يلزم من عدمه العدم, ولا يلزم من وجوده وجود, وهذا بيان له من حيث أثره, وأن الشرط مع المشروط كالصفة مع الموصوف إذا لم توجد الصفة, ولكن قد توجد الصفة ولا يوجد الموصوف, كذلك الشرط, فلا توجد الصلاة إذا لم توجد الطهارة, ولكن قد توجد الطهارة ولا توجد الصلاة. والشرط ليس خاصا بالحكم التكليفي, بل قد يكون في الحكم التكليفي, وقد يكون في الحكم الوضعي. فهناك شروط راجعة إلى خطاب التكليف, كالطاهرة, وستر العورة, وطهارة الثوب, كل منها شرط للصلاة. وهناك شروط راجعة إلى خطاب الوضع, كالحول في نصاب الزكاة, والإحصان في الزنا, والحرز في السرقة, فهي شروط للسبب.

وهي كلها في اعتبار أنها شروط ينطبق عليها تعريف الشرط, وكلها شروط شرعا لورود الدليل عليها, سوى أن الأولى شروط للحكم, والثانية شروط لما وضع للحكم من أمور يقتضيها.

ويدخل في الشروط الشرعية شروط العقود, كشروط البيع, والشركة, والوقف, وما شاكل ذلك. إلا أن هذا الشروط ليست كشروط حكم التكليف وحكم الوضع, من حيث إنه لا بد من دليل شرعي يدل على الشرط حتى يعتبر شرطا, بل يشترط في هذه الشروط أن لا يخالف ما نص عليه الشرع. أي أن شروط الحم التكليفي, أو حكم الوضع, لا بد أن يدل الدليل الشرعي عليه حتى يعتبر شرطا, بخلاف شروط العقود فإنه لا يشترط فيها أن يرد به الشرع, بل يجوز للعاقدين أن يشترطا ما يريدان, ولكنه لا يجوز لها, أو لأي منهما, أن يشترط شروطا تخالف ما نص عليه الشرع. فالقعود يلزم في الشروط التس تشترط فيها أن لا تخالف الشرع, ولا يشترط فيها أن يرد بها دليل شرعي؛ وذلك لقول الرسول صلى الله عليه وسلم: «ما بال رجال يشترطون شروطا ليست في كتاب الله, ما كان من شرط ليس في كتاب الله فهو باطل, وإن كان مائة شرط, قضاء الله أحق, وشرط الله أوثق» أخرجه البخاري. ومعنى ليس في كتاب الله أن يكون على خلاف ما في كتاب الله, أي ليست في حكمه, ولا على موجب قضائه؛ وذلك لأن رسول الله أذن في اشتراط الشروط مطلقا, وبيّن أنّ ما يحالف حكم الله فهو باطل, فهو لم ينه عن اشتراط الشروط, وإذا نفى اعتبار ما ليس في كتاب الله, فمعناه نفي اعتبار ما يخالف ما في كتاب الله, فنص الحديث في البخاري هو: «عن عائشة رضي الله عنها قالت: جائتني بريرة فقالت: كاتبت أهلي على تسع أواق في كل عام وقية, فأعينيني, فقلت: إن أحب أهلم أن أعدها لهم ويكون ولاؤك لي فعلت. فذهبت بريرة إلى أهلها, فقالت لهم, فأبوا ذلك عليها, فجاءت من عندهم ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس, فقالت: إني قد عرضت ذلك عليهم فأبوا, إلا أن يكون الولاء لهم. فسمع النبي صلى الله عليه وسلم فأخبرت عائشة النبي صلى الله عليه وسلم فقال: خذيها, واشترطي لهم الولاء, فإنما الولاء لمن أعتق, ففعلت عائشة. ثم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الناس قحمد الله, وأثنى عليه, ثم قال: أما بعم ما بال رجال..» الحديث. قهذا يدل على أن المنهي عنه هو الشرط المخالف لما في كتاب الله ولسنة رسول الله, ولا يدل على الشرط يجب أن يكون في كتاب الله وسنة رسوله. وعليه, فالشروط في العقد يشترط فيها أن لا يخالف الشرع, بأن لا تخالف نصا من نصوص الشرع, أو لا تخالف حكما شرعيا له دليل شرعي. فمثلا الشرع جعل الولاء لمن أعتق, فلا يصح بيع العبد واشتراط الولاء, فالشرط لاغ والبيع صحيح. ومثلا لا يصح أن تقول: بعتك هذا الشيء بألف نقدا أو بألفين نسيئة. فهذا بيع واجد تضمن شرطين, يختلف المقصود فيه باختلافهما, وهذا شرط باطل, والبيع بسببه باطل؛ لقوله عليه الصلاة والسلام: «لا يحل سلف وبيع, ولا شرطان في بيع» أخرجه أبو داود. ومثلا إذا باع رجل لآخر سلعة, واشترط عليه أن لا يبيعها لأحد, فالشرط لاغ, والبيع صحيح؛ لأن الشرط ينافي مقتضى العقد, وهو ملكية المبيع والتصرف فيه, فهو مخالف لحكم شرعي. وهكذا فالشروط التي تخالف الشرع لا تعتبر مطلقا, سواء كانت تخالف نصا شرعيا, أم تخالف حكما جاء الشرع به, سواء أكان حكما شرعيا, أم حكما من أحكام الوضع.

ومما يؤكد أن الشرع أباح للمسلم أن يشترط في العقود ما شاء من الشروط, إلا ما عارض ما في كتاب الله, أو عارض حكما شرعيا, هو أنه جاء في حديث عائشة في شأن بريرة في أحدى الروايات للبخاري, قال لعائشة رضي الله عنها: «اشتريها فأعتقيها, وليشترطوا ما شاءوا» فهذا صريح في أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: «وليشترطوا ما شاءوا» وهو أباحة في أن يشترط الإنسان ما شاء من الشروط, ويؤيده أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «المسلمون عند شروطهم» أخرجه الحاكم, أي عند الشروط التي يشترطونها, فأضاف الشرط لهم. وأيضا فإن النبي صلى الله عليه وسلم قد أقر اشتراط شروط في العقود لم تذكر في كتاب الله, فقد روى مسلم عن جابر «أنه كان يسير على جمل له قد أعيا فأراد أن يسببه, قال فلحقني النبي صلى الله عليه وسلم فدعا لي وضربه, فسار لم يسر مثله, قال: بعنيه بوقية, قلت: لا, ثم قال: بعنيه, فبعته بوقية, واستثنيت عليه حملانه إلى أهلي» أخرجه مسلم, واستثناء حملانه شرط اشترطه في اليع. عن سفينة أبي عبد الرحمن قال: «أعتقتني أم سلمة, واشترطت علي أن أخدم النبي صلى الله عليه وسلم» أخرجه أحمد, وفي لفظ: «كنت مملوكا لأم سلمة فقالت/ أعتقك وأشترط عليك أن تخدم رسول الله صلى الله عليه وسلم ما عشت, فقلت: وإن لم تشترطي علي ما فارقت رسول الله صلى الله عليه وسلم ما عشت؛ فأعتقتني واشترطت علي» أخرجه أبو داود. وهكذا حوادث متعددة حصلت فيها شروط في العقود لم ينص عليها الشرع, بل يشترطها كل إنسان بما يراه, وكل ما ورد أن الشرط مقيد بما لا يخالف كتاب الله, ولا يخالف حكما من أحكام الشرع. إلا أنه يشترط في الشرط أن لا يحل حراما, ولا يحرم حلالا؛ لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: «المسلمون على شروطهم إلا شرطا حرم حلالا أو أحل حراما» أخرجه الترمذي.