Senin, Februari 03, 2014

ADA-TIDAKNYA TUHAN KANTONGI SAJA DI SAKU KALIAN

ADA-TIDAKNYA TUHAN KANTONGI SAJA DI SAKU KALIAN

Di suatu grup sekuler, ketika terjadi suatu diskusi mengenai ada-tidaknya Tuhan, salah seorang sekuleris mengatakan begini:

wuih jadi pada ribut .. hayo yg sekuler .. berTuhan atau pun tak berTuhan .. jgn mau diprovokasi
ada atau tidak Tuhan itu .. fakta atau pun bukan .. simpan pemikiran itu dalam saku masing2 .. yg perlu disepakati di group ini adalah SEKULERISME ..urusan beragama atau tidak adalah urusan personal .. SADAR OOOYYYY !!


Pilihan yang harus dilakukan seorang muslim
Pemikiran tentang Tuhan, menurut sekuleris tersebut, adalah urusan personal. Pemikiran tentang Tuhan harus disimpan di dalam saku masing-masing, tidak perlu disampaikan kepada orang lain. Demikianlah sekulerisme menitahkan.

Bagi agnostis maupun ateis, barangkali pemikiran sedemikian adalah hal yang mudah. Bagi ateis, Tuhan memang tidak ada, dan tidak menitahkan apa-apa. Sedangkan agnostis, bagi mereka, tidak ada urusannya dengan Sang Pencipta, sebab sejak mula mereka meragukan eksistensi-Nya, apatah lagi dengan aturan-Nya; sama sekali tidak penting untuk kehidupan manusia. Jadi, bagi mereka tidak ada masalah dengan suruhan: Kantongi saja ide ketuhanan di saku kalian.

Tetapi bagi orang yang percaya eksistensi Sang Pencipta, ide semacam itu semestinya menimbulkan pertanyaan: Apakah Sang Pencipta memang menghendaki demikian? Pertanyaan ini tentu akan muncul di benak orang yang meyakini eksistensi Tuhan.

Saya ingin bertanya kepada peyakin keberadaan Sang Pencipta, apapun agamanya, apakah pertanyaan semacam itu muncul di benak kalian? Jika tidak, alangkah indahnya jika memeriksa kebali kadar keyakinan kita akan eksistensi-Nya, tentang Kemahakuasaan-Nya, serta tentang tujuan-Nya menciptakan kita.

Bagi umat Islam, saudaraku terkasih semuanya, Alquran adalah Kitab Suci yang tidak diragukan lagi. Seorang muslim tidak ragu bahwa Alquran berasal dari Sang Pencipta. Juga tidak ragu bahwa segala perintah di dalamnya membawa kebaikan. Dan di dalam Alquran, terdapat jawaban atas pertanyaan penting di atas: Apakah Sang Pencipta menghendaki kita bersikap sekuler? (Yaitu hanya menjadikan pemahaman tentang ketuhanan sebagai sesuatu yang cukup dikantongi, tidak perlu disebarkan kepada manusia bumi.)

Ada lebih dari lima puluh ayat memerintahkan kita untuk bertakwa. Sementara itu, junjungan kita Nabi Agung Muhammad shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam pernah berpesan kepada dua orang Sahabat beliau, Abû Dzarr al-Ghifârî dan Mu’âdz bin Jabal:

اتق الله حيثما كنت
Bertakwalah engkau di mana saja engkau berada.

Al-Munâwî menjelaskan potongan Sabda Nabi tersebut sebagai berikut:

(اتق الله) بامتثال أمره وتجنب نهيه (حيثما كنت) أي وحدك أو في جمع فإن كانوا أهل بغي أو فجور فعليك بخويصة نفسك أو المراد في أي زمان ومكان كنت فيه رآك الناس أم لا فإن الله مطلع عليك واتقوا الله إن الله كان عليكم رقيبا

“[Bertakwalah kepada Allah] dengan merealisasikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya [di mana saja engkau berada] yaitu baik ketika sendirian atau ketika di tengah sekelompok orang, meskipun mereka adalah orang yang durhaka atau pendosa, maka engkau tetap wajib mengkhususkan dirimu (untuk bertakwa). Atau yang dimaksud adalah (bertakwalah) di waktu kapan pun dan tempat manapun, ketika engkau dilihat orang atau tidak, karena Allah memperhatikanmu. Dan bertakwalah kalian, sesungguhnya Allah mengawasi kalian.”

Demikianlah titah Allah dan Rasul-Nya, menyuruh manusia untuk bertakwa di mana saja dan kapan saja, baik ketika sendirian, atau ketika berperan menjadi anggota masyarakat maupun pejabat negara. Dalam semua kondisi itu, seorang muslim tidak boleh lepas dari takwa. Tidak ada ruang bagi sekulerisme di dalam benak seorang muslim. Sebab menjadi sekuler sama artinya menyengaja melepaskan takwa ketika berada di tempat dan waktu tertentu—sesuatu yang justru bertentangan dengan titah Sang Pencipta dan Rasul-Nya, yang menyuruh untuk bertakwa di mana saja dan kapan saja.

Mungkin sebagian orang sekuler akan berkelit:

Dalam sekuler boleh BERTAKWA kok. Kasih contoh TAKWA yang tidak bisa dijalankan pada NEGARA SEKULER. Coba kalau anda ke negara sekuler, apakah anda disuruh melepaskan takwa anda?

Maka kita jawab:

Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memerintah dengan hukum Allah dan memutuskan hukum berdasarkan hukum Allah. Menjalankan perintah tersebut adalah salah satu bukti teragung sebuah ketakwaan. Sementara meninggalkannya adalah maksiat besar, menyalahi sikap takwa; lebih-lebih jika sampai ridha dengan hukum selain Allah. Na’udzu billah.

Apakah perintah Allah di atas dibolehkan oleh sekulerisme? Tidak akan! Karena definisi sekuler sendiri adalah memisahkan agama dari kehidupan publik. Sedangkan urusan agama, harus disudutkan ke kehidupan pribadi semata-mata. Agama tidak boleh dibicarakan di kehidupan publik, apalagi digunakan untuk mengaturnya. Padahal perintah Allah di atas justru untuk dipraktikkan dalam kehidupan publik, bukan sekedar kehidupan pribadi. Jika anda berada di negara sekuler, agama tidak boleh ditampakkan dalam kehidupan umum, apalagi pemerintahan. Jika anda tetap membicarakannya, berbagai intimidasi akan dilakukan; paling tidak anda akan diteriaki oleh orang-orang sekuler. Tidakkah dengan demikian, sekulerisme benar-benar bertentangan dengan perintah ar-Rahman untuk mencapai ketakwaan?


Miliran, 30 Rabi’ul Awwal 1435 H/03 Februari 2014 M 04:07

Tidak ada komentar:

Posting Komentar