Jumat, Juni 29, 2012

Borobudur dan Prambanan, Bukti Penjajahan atau Kejayaan? (2)


Arif Wibowo

        Mugi Paring Kertapati: Belum ada mas, Babad Pakepung baru beredar di kalangan peneliti. Sebab naskah ini disembunyikan pihak kraton, agar tidak dirampok Belanda. Sebab saat menjajah, Belanda melakukan perampokan intelektual, ribuan naskah di perpustakaan kraton dibawa ke Belanda. Hal ini dimaksudkan untuk memutus rantai sejarah, sehingga menghasilkan generasi yang buta sejarah. Babad Pakepung berkisah tentang Pakubuwono IV yang intens melakukan Islamisasi institusi dan hukum di Kasunanan Surakarta. Oleh Belanda

Borobudur dan Prambanan, Bukti Penjajahan atau Kejayaan? (1)


(Diskusi Facebook; dari HAMKA, Penerapan Syariat Islam, Sinkretisme, Penjajahan, hingga Majapahit)

Pengantar

Diskusi ini terjadi di status facebook saya (Mugi Paring Kertapati). Pernyataan Buya HAMKA yang saya jadikan status itu rupanya menarik perhatian beberapa orang, termasuk seseorang yang menamakan dirinya Anwar Nashir. Seperti terlihat dalam komentar-komentarnya, baginya, Islam adalah Arab, sehingga kalau ada orang yang mengkampanyekan penerapan syariat Islam secara murni dan konsekuen, dia akan menganjurkan yang bersangkutan untuk bertani kurma dan beternak unta. Padahal tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan keduanya. Berbeda halnya dengan wajibnya penerapan syariat Islam, keharaman sinkretisme, dan lain-lain; semua ada dalilnya.

Bagaimana pun, dalam diskusi ini saya mendapat pengetahuan baru yang disuntikkan oleh ustadz Arif Wibowo tentang bahwa sebenarnya Borobudur adalah simbol penajajahan atas penduduk tanah Jawa. (di bagian 2). Sedangkan untuk Prambanan, memerlukan penjelasan di lain kesempatan.

Selamat menikmati

Kamis, Juni 28, 2012

Cetbang Majapahit dan Portugal vs Spanyol


Dunia menyaksikan, menjelang Subuh tadi pagi, dua raksasa sepakbola,  Portugal dan Spanyol, saling bunuh di Liga Eropa 2012. Dengan skor 0-0 sampai akhir babak perpanjangan waktu, Ispanya, yang punya algojo dan kiper berpengalaman lebih banyak dibandingkan Peranggi, sukses menumbangkan negara yang pernah singgah dan menjajah Maluku itu. Skor akhir 4-2.

Saya percaya, tidak ada yang ‘kebetulan’ di dunia ini. Kata itu ada hanya karena terbatasnya pengetahuan yang ditampung tempurung kepala manusia. Allah telah mengetahui, telah pula tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, tidak lama sebelum pertemuan Portugal dan Spanyol, seorang hamba yang banyak berdosa ini membaca Sebuah epos kejayaan Nusantara di awal abad 16 berjudul Arus Balik tulisan Pramoedya Ananta Toer. Di dalam buku itu, ada informasi menarik tentang kedua negara itu. Dan Allah telah menetapkan, seorang hamba yang banyak dosa itu tergerak untuk menuliskan sedikit wawasan ini.

Alkisah, Gubernur Tuban, Sang Adipati Aryateja Tumenggung Wilwatikta terheran-heran mendengar cerita Sang Patih. “Kapal-kapal asing yang tidak pernah dikenal sebelumnya mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati oleh para pelaut Majapahit,” tutur Sang Patih. Patut diketahui, kapal laut Majapahit adalah yang terbesar kala itu di seluruh penjuru bumi.

Selasa, Juni 26, 2012

Bagaimana Mau Mendirikan Khilafah, Sedangkan ...


Pengantar

Ini adalah dialog saya dengan seorang dosen UIN Sunan Kalijaga—hadâhullâh wa iyyâya—via sms, ketika saya mengirimkan sms kepada beliau yang berisi sosialisasi dan ajakan untuk hadir dalam acara Konferensi Rajab 1432 H di JEC Yogyakarta.

Diskusi ini berakhir dengan sebuah ketidaksepakatan mengenai: Apakah Buya Natsir—rahimahullâh—memiliki konsep yang matang tentang Negara Islam? Pendirian saya: Tidak. Sedangkan pak dosen menyatakan sebaliknya. Namun sayangnya beliau tidak menjawab ketika ditanya mengenai buku apa yang menunjukkan bahwa Buya Natsir memang punya konsep Negara Islam yang matang?

Semoga Allah mengampuni kami semua dan memperkenankan ribuan doa yang terpanjat setiap hari untuk kembalinya Daulah Khilafah. Âmîn.

Dosen:

Sejahtera di bawah kesatuan umat. Bagaimana mencitakan khilafah, masjid saja HTI tidak punya? Terima kasih.

(Tidak) Bangga Bayar Pajak

Tadi pagi ada dua bapak dan seorang ibu yang mampir ke rumah. Ternyata beliau bertiga petugas sensus pajak. Mereka mendata orang-orang sekitar sini yang sudah bekerja. “Untuk memperbaiki basis data,” kata salah seorang bapak itu.