Kamis, Juni 28, 2012

Cetbang Majapahit dan Portugal vs Spanyol


Dunia menyaksikan, menjelang Subuh tadi pagi, dua raksasa sepakbola,  Portugal dan Spanyol, saling bunuh di Liga Eropa 2012. Dengan skor 0-0 sampai akhir babak perpanjangan waktu, Ispanya, yang punya algojo dan kiper berpengalaman lebih banyak dibandingkan Peranggi, sukses menumbangkan negara yang pernah singgah dan menjajah Maluku itu. Skor akhir 4-2.

Saya percaya, tidak ada yang ‘kebetulan’ di dunia ini. Kata itu ada hanya karena terbatasnya pengetahuan yang ditampung tempurung kepala manusia. Allah telah mengetahui, telah pula tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, tidak lama sebelum pertemuan Portugal dan Spanyol, seorang hamba yang banyak berdosa ini membaca Sebuah epos kejayaan Nusantara di awal abad 16 berjudul Arus Balik tulisan Pramoedya Ananta Toer. Di dalam buku itu, ada informasi menarik tentang kedua negara itu. Dan Allah telah menetapkan, seorang hamba yang banyak dosa itu tergerak untuk menuliskan sedikit wawasan ini.

Alkisah, Gubernur Tuban, Sang Adipati Aryateja Tumenggung Wilwatikta terheran-heran mendengar cerita Sang Patih. “Kapal-kapal asing yang tidak pernah dikenal sebelumnya mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati oleh para pelaut Majapahit,” tutur Sang Patih. Patut diketahui, kapal laut Majapahit adalah yang terbesar kala itu di seluruh penjuru bumi.

Layar kapal-kapal itu digambari dengan salib raksasa. Ya, kapal-kapal itu tidak lain adalah kapal para salibis Spayol dan Portugis. Kapal-kapal itu juga dilengkapi oleh senjata semacam cetbang, namun lebih besar dibandingkan yang dimiliki oleh Majapahit. Kembali Sang Adipati keheranan mengetahui ada bangsa lain di dunia ini yang memiliki cetbang seperti yang dimiliki Majapahit, bahkan lebih canggih. Padahal cetbang Majapahit itu pun didapatkan dari bangsa lain, jika saja Sang Adipati belajar sejarah. J

Pramoedya menulis:

Tanpa mereka semua ketahui, sesuatu telah berubah di dunia yang tak dikenal di utara, jauh di baratlaut sana. Senjata baru, meriam itu, sesungguhnya sama nenek-moyangnya dengan cetbang Majapahit. Tahun tolaknya dari Tiongkok pun sama: 1292 Masehi.  Bersama dengan balatentara Kublai Khan yang melakukan ekspedisi penghukuman di Singasari, nenek-moyang cetbang Majapahit dibawa serta di samping kuda perang dari Mongolia dan Korea. Majapahit semasa Mahapatih Gajah Mada telah mengembangkan senjata api ini jadi cetbang. Lawan-lawan Majapahit pada mulanya menamai senjata ini “sihir api petir”, karena dari bawah ia memancarkan api dan di udara atau pada sasaran dia meledak. Dengan cetbang, dalam hanya dua puluh tahun Majapahit Gajah Mada berhasil dapat mempersatukan Nusantara menjadi kekaisaran Malasya, kekaisaran Asia Tenggara. Setelah itu cetbang tidak berkembang lagi.

Pada tahun 1292 itu juga prinsip senjata-api bertolak dari Tiongkok, dibawa oleh Maro Polo dan diperkenalkan di Eropa. Orang mengetawakan dan mengejeknya, juga setelah matinya. Makin banyaknya orang Eropa berkunjung ke Tiongkok menyebabkan orang lebih mengerti dan mulai mencoba-coba membikin sendiri. Perkembangan selanjutnya melahirkan musket. Dengannya Portugis dan Spanyol mengusir penjajahan Arab dari negeri mereka, semenanjung Iberia. Musket dibikin dalam bentuk raksasa menjadi meriam. Dengannya mereka mempersenjatai kapal-kapal, mengarungi samudra tanpa gangguan. Seperti halnya Majapahit, dengan kapal dan senjatanya mereka mulai menguasai jalan laut dan musuh-musuhnya, menaklukkan dan menjajah negeri.

Cetbang dan kapal unggul Majapahit pada suatu kali telah menghancurkan dirinya sendiri dapal Perang Paregreg. Juga Spanyol dan Portugis akan musnah karenanya sekiranya Tahta Suci tidak segera turun tangan meleraikan dua negeri ini dengan Jus Patronatus atau Padroado, yang membelah dunia non-Kristen jadi dua bagian, sebagian untuk Portugis dan yang lain untuk Spanyol. Dan mulailah kapal-kapal mereka tanpa ragu-ragu menjelajahi dunia dengan salib sebagai panji-panjinya, menaklukkan dan menguasai bangsa dan negeri-negeri yang dianggapnya dalam belah dunia bagiannya…

Demikian Pramoedya menulis. Tentu saya tidak sepakat dengan istilah ‘penjajahan’ yang disematkan kepada bangsa Arab dalam dan tulisan di atas – yang dalam konteks ini, diakui atau tidak, pasti merepresentasikan Islam. Kaum Muslimin tidak pernah menjajah, melainkan membebaskan.

Barangkali ada pula kritik-kritik lain mengenai paparan Pram di atas. Ini kita serahkan saja pada yang lebih paham. Namun paling tidak, ini memberi kita sedikit gambaran tentang hubungan sejarah Islam, sejarah negeri ini, serta cetbang Majapahit dengan beberapa bagian bumi lain, termasuk negeri yang tim sepakbolanya saling berebut tempat di final Piala Eropa pagi tadi.

Miliran, 9 Sya’ban 1433 H/28 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar