Selasa, Mei 14, 2013

Surat Untuk Hûr ‘În (2)



Surat Untuk Hûr ‘În (2)

Assalâmu ‘alaikum.

Sehat? Aku juga. Tetapi hari ini aku masih saja melakukan suatu hal yang membuat jiwaku sakit. Dan itu tidak akan aku ceritakan kepadamu. Tak apa ya? Kata Ustadz, menutupi aib diri sendiri adalah bagian dari rasa syukur.

Aku ingin ceritakan tentang motor saja. Mau mendengar? Selepas itu, aku akan beritahukan sesuatu yang masih ada hubungannya dengan motorku itu, yaitu Surat Cahaya. Coba tebak, apa hubungannya? Aku beri waktu tiga menit untuk berpikir.

Yap, selesai. Simpan jawabanmu, nanti cocokkan dengan kunci jawaban. Sekarang aku mau memulai cerita.

Motorku kemarin kubawa ke bengkel resmi. Dua hari sebelumnya ia tidak mau menyala. Kata Muldan, kalau tidak businya, penyakitnya pasti ada pada karburator. Tetapi bapak yang dibengkel bilang, harus ganti seher. Katanya, oli di tabung habis karena terbakar. Wah… mana mahal lagi biayanya. Kata beliau, biayanya delapan ratus ribu! Karena belum ada dana sebanyak itu, akhirnya diputuskan agar bisa jalan saja dulu.

Bapak sms. Beliau menyarankan untuk cari di luar, siapa tahu lebih murah. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya kepada Hemat. Hari ini dia datang, berbincang tentang itu, shalat maghrib, shalat isya, makan ala kadarnya, lalu kami berpisah karena sama-sama punya agenda. Nasib motorku masih perlu pertimbangan.

Nah, lalu apa hubungannya dengan Surat Cahaya? Hubungannya adalah … hmmm,,, aku yakin tebakanmu pasti salah. Hubungannya adalah, aku teringat dengan Dr. Muhammad Râtib an-Nâblusî yang pernah menulis:

Jadi, aku pancarkan surat ini kepada kalian, dan aku berharap kalian mengajarkannya kepada kaum wanita kalian, baik engkau sendiri yang mengajarkannya, atau ajaklah mereka untuk menghadiri kajian-kajian yang berhubungan dengan wanita ini. Karena sesungguhnya mereka adalah separoh masyarakat. Apabila mereka baik, maka baiklah masyarakat, dan apabila mereka rusak, rusak pulalah masyarkat. Karena hubungan antara wanita dan pria adalah hubungan yang positif jika bernaung di bawah aturan syariat, dan hubungan keduanya adalah hubungan yang menyebabkan kerusakan apabila bernaung di bawah kebebasan. Seperti halnya hubungan bensin dengan mobil adalah hubungan yang positif. Tanpa bahan bakar ini, mobil tak akan bisa berjalan. Mobil hanya bergerak dengan bahan bakar ini. Tetapi dengan syarat bahan bakar tersebut ada di tempat penyimpanannya, lalu mengalir ke pipa yang terhubung ke motor, lalu ke distributor listrik, lalu ke ruang-ruang pembakaran (busi), sehingga ia terbakar, tetapi menghasilkan gerakan yang bisa membawamu dari satu tempat ke tempat lain. Bahan bakar cair ini menjadi nikmat yang besar yang bisa membawamu dari satu tempat ke tempat lain. Namun apabila bahan bakar ini keluar dari tempat penyimpanannya, serta keluar dari selang-selangnya, bocor menggenangi mobil, lalu datang percikan api yang membakarnya, maka ia akan menjadi daya perusak.

Jadi, bensin ini bisa menjadi kekuatan yang menggerakkan naik menuju Allah ‘Azza wa Jalla, atau menjadi kekuatan yang menghancurkan, yang melenyapkan hidupmu dengan sia-sia. Karena itulah, tema ini penting sekali. Di dalam al-Qur`ânul Karîm terdapat banyak sekali ayat yang berbicara tentang wanita, penjagaan terhadap mereka, apa saja yang halal bagi mereka, apa saja yang diharamkan atas mereka, di dalam satu tema yang menampakkan keindahan mereka. Semuanya adalah tema-tema yang wajib kita ambil. Maksudnya, apabila engkau menginginkan imanmu selamat, hidupmu tentram, serta akhiratmu bahagia, maka engkau wajib mengambil apa yang ada pada surat ini berupa hukum-hukum yang rinci. Engkau harus, wahai Ikhwah, untuk mempelajarinya, serta mengajarkannya kepada kaum wanita kalian.

Sekarang sudah tahu hubungannya kan? Yah, meskipun sebenarnya yang beliau tulis bukan motor, melainkan mobil. Tapi saya kan baru punya motor. Itu pun bukan motor saya. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar